Oleh Dikky Nur Hidayat, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syari’ah IAIN Syekh Nurjati

RumahBaca.id – Semenjak adanya wabah virus corona disease-19 atau lebih dikenal dengan Covid-19, dunia seakan berubah, seakan mengistirahatkan dirinya dari macam-macam aktivas para penghuninya. World Health Organization (WHO) atau badan kesehatan dunia, sejak 11 Maret 2020 telah memberi “gelar” pandemi kepada virus Covid-1. Setelah penetapan status pandemi dari WHO, mulailah masyarakat mengubah kebiasaan dan aktivitas mereka di berbagai sektor: bisnis, pendidikan, dan lain sebagainya.

Perubahan ini tidak lepas dari kebijakan yang dikeluarkan oleh tiap-tiap negara. Seperti pada saat sekarang ini, pemerintah membuat kebijakan agar masyarakat mengurangi kegiatannya di luar rumah dengan istilah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Kebijakan tersebut mempunyai tujuan agar mobilitas masyarakat diperketat, sehingga kasus penyebaran covid-19 dapat terus berkurang dan terkendali.

Semua sektor mengalami dampak dari wabah ini, tidak terkecuali sektor pendidikan. Imbas dari pandemi covid-19, kegiatan belajar mengajar, baik jenjang sekolah hingga perguruan tinggi, diharuskan dilaksanakan secara daring atau online. Hal ini sangat berpengaruh terhadap sistem pembelajaran. Bila sebelum pandemi para siswa dan mahasiswa terbiasa melakukan pembelajaran secara langsung atau tatap muka, maka pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, mau tidak mau sistem pembelajaran diubah menjadi daring.

Hingga saat ini pembelajaran daring masih menuai pro dan kontra. Hal ini karena banyak yang mengalami kendala saat melakukan pembelajaran secara daring, seperti adanya mahasiswa yang belum mempunyai smartphone atau laptop, masalah koneksi jaringan internet, terbatasnya kuota, dan masih banyak lagi masalah lainnya.

Kendatipun begitu, pembelajaran daring merupakan solusi yang terbaik bagi sistem pendidikan saat ini. Hal ini karena melihat kasus covid-19 yang belum sepenuhnya hilang, serta belum meratanya vaksinisasi. Khawatir bila pembelajaran tatap muka akan menimbulkan keramain, yang bisa meningkatkan kasus Covid-19.

Sistem pembelajaran daring juga belum bisa efektif secara maksimal, dikarenakan belum terbiasanya mahasiswa menjalankan sistem daring ini, terlebih lagi dalam memahami materi atau penjelasan yang diberikan oleh dosen. Pembelajaran daring yang berjalan selama ini dengan memanfaatkan berbagai fitur dan layanan aplikasi digital, seperti Zoom Meeting, Google Meet, Google Classroom, dan aplikasi lainnya.

Ini merupakan tantangan bagi pendidikan di Indonesia, bagaimana meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu kaum pelajar dan mahasiswa dengan sistem pembelajaran daring yang masih baru ini. Maka diharapkan bagi dosen, mahasiswa, dan seluruh civitas akademika untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring.

Berbagai macam cara ditingkatkan agar pembelajaran daring bisa berjalan efektif, seperti dengan melatih kemampuan mahasiswa dalam menulis. Dosen bisa membuat tugas esai di setiap pertemuan, sehingga mahasiswa dapat terbiasa menulis. Tugas menulis esai ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan kemampuan mahasiswa dalam menulis. Esai mahasiswa yang bagus bisa dipublikasikan melalui media massa, baik cetak maupun online, seperti rumahbaca.id, wislah.com, Alif.id, kompasiana.com, dan lain sebagainya.

Upaya dan usaha dilakukan untuk membuat pembelajaran para mahasiswa efektif, sehingga mahasiswa dapat memahami materi dari setiap penjelasan atau pemaparan dosen dan teman-teman mahasiswa lainnya.

Akhir kata, kita semua jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan, agar pandemi Covid-19 ini dapat segera hilang, sehingga sistem pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan. Ini karena tidak dapat dipungkiri, bahwasa pembelajaran tatap muka lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran daring atau online.[]

Editor: Masyhari

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *