Oleh Drs. Jadiaman Sipayung, MH, Pengawas Sekolah Lubuk Pakam Dinas Pendidikan Sumatera Utara

Rumah BacaPANDEMI covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia pada awal tahun 2020 membawa perubahan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, baik ekonomi, pariwisata, maupun pendidikan. Dalam dunia pendidikan, yang selama ini pembelajaran dilaksanakan di dalam kelas, kemudian dilaksanakan secara jarak jauh (PJJ) atau Daring. Selain itu, pembelajaran juga dilaksanakan dengan cara luring, tugas dibawa ke sekolah dan dikembalikan oleh anak atau orang tua untuk dikoreksi. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menyisakan banyak persoalan, di antaranya yaitu terkait dengan sejumlah hal berikut:

Persoalan Pendidikan Karakter

Dengan adanya PJJ, anak-anak kehilangan figur dalam pendidikan moral. Anak tidak dapat melihat seseorang sebagai panutan dalam bersikap, berbuat dan berkomunikasi dalam dunia nyata kehidupan. Dalam pembelajaran daring anak lebih banyak melihat dunia maya. Internet lebih banyak menayangkan vidio, gambar, aplikasi tiktok, game atau sejenisnya yang menyenangkan anak tetapi kurang mendidik. Tayangan-tayangan ini lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

Profesionalisme Guru

Masih banyak sekali guru yang masih banyak belum cakap dan profesional dalam penggunaan teknologi informasi dalam dunia pendidikan, misalnya dalam penggunaan Google classroom, Zoom meeting, google meet, membuat vidio pembelajaran, dll.. Guru lebih banyak yang membuat tugas kepada para peserta didik, yang membuat tingkat stres pada mereka tinggi. Rasa bosan pada anak peserta didik mengakibatkan mereka beralih melihat tayangan lain semisal game, tiktok, dan lain sebagainya.

Gadget

Anak-anak banyak menyalahgunakan internet untuk bermain game. Di mana-mana kita lihat anak-anak tidak terlepas dari gadget (gawai). Terlalu sering menggunakan gawai sangat berbahaya bagi kesehatan anak. Terlebih bila hanya dipakai untuk bermain game, menurut para psikolog dapat merusak kejiwaan si anak.

Objektifitas Penilaian

Penilaian tidak dapat dilakukan secara objektif. Banyak ditemukan anak-anak didik menjawab soal ujian dengan menggunakan bantuan Google, orang tua, atau kakaknya. Jawaban anak yang satu dengan lainnya cenderung mirip, karena dilakukan secara bersama-sama atau bekerjasama dalam berbagi. Sehingga sulit menentukan kompetensi anak dengan hasil penilaian yang ada.

Kreatifitas

Pada satu sisi peserta didik bisa mengembangkan kreatifitas dengan bantuan internet, tapi di sisi lain anak-anak menjadi lemah kreatifitas dan inovasinya. Hal ini karena sebagian guru hanya memberikan tugas, lalu dikumpulkan. Di samping permasalahan di atas, sebenarnya jika anak dan orang tua mau kreatif, dari dunia internet banyak informasi, metode dan model pembelajaran bagi anak. Kita bisa berkolaborasi dan belajar bersama secara virtual yang memperluas wawasan kita.

Persoalan-persoalan di atas membuat para orang tua lebih mendorong pelaksanaan pembelajaran tatap muka di kelas. Para orang tua melihat sangat banyak sisi negatif dari pembelajaran daring terhadap anak. Apalagi orang tua yang super sibuk, sehingga kurang bisa memperhatikan anaknya.

Akan tetapi, perlu diketahui pelonjakan kasus pandemi Covid-19 memaksa pemerintah memangkas beberapa anggaran pembangunan, baik fisik maupun sumber daya manusia untuk vaksinasi. Persoalan baru timbul, di mana Covid-19 telah bermutasisi menjadi 59 varian. Ini tentu membahayakan bangsa dan negara. Pemerintah telah mengambil kebijakan dengan menghentikan sementara mobilisasi kendaraan antar provinsi. Pada hari lebaran kita diharuskan berada di rumah saja. Setelah beberapa minggu dibebaskan kembali, Satgas Covid-19 melaporkan peningkatan kasus covid-19 secara signifikan.

Atas dorongan dan pertimbangan ini pemerintah mengkaji dan mungkin mencoba pembelajaran awal Juli 2021 ini, dengan beberapa catatan yaitu:

1. Sekolah memenuhi syarat-syarat prokes

Protokol kesehatan standar di antaranya yaitu penyedian alat test suhu badan, cuci tangan/ hand sanitizer, jaga jarak. Prokes 3 M diterapkan dengan disiplin ketat dan penuh kehati-hatian. Ruangan sebaiknya tidak menggunakan AC, karena ruangan AC mengakibatkan peningkatan pertumbuhan dan perberkembangan Covid-19.

2. Menggunakan pembelajaran bergelombang

Selama ini satu kelas untuk SD adalah 28 orang. Siswa dibagi dua tahap menjadi 14 orang untuk setiap gelombangnya. Sedangkan untuk SMP yang berjumlah 32 orang dibagi dua gelombang menjadi 16 orang saja untuk setiap gelombang. Untuk SMA yang berjumlah 36 orang setiap kelas dibagi dua tahap hanya 18 orang saja pergelombang. Cara seperti ini bisa memenuhi standar protokol kesehatan.

3. Skala prioritas penyajian materi

Dilakukan pemilahan materi pelajaran. Materi yang diajarkan yang dianggap prioritas dan penting yang memuat hal-hal pokok dan sangat dibutuhkan anak dalam kehidupannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan perubahan-perubahan dalam ilmu pendidikan.

4. Peniadaan Jam Istirahat

Jam istirahat tidak perlu diadakan. Seusai belajar pada gelombang pertama anak-anak dipulangkan untuk menghindari kontak antar siswa. Dibuat kesepakatan antara berbagai pihak terkait, sekolah, orang tua dan anak bahwa setiap selesai pembelajaran anak-anak langsung pulang. Bagi yang melanggar, dikenakan sanksi secara regas dari sekolah.

5. Adanya kesepakatan antara komite sekolah, kepala sekolah dan pemerintah daerah

Kesepakatan ini sangat diperlukan untuk melihat situasi dan perkembangan yang ada terutama Satgas Covid-19 yang mengetahui pergerakan Covid-19 di daerahnya. Pemerintah daerah membuat aturan yang tegas dalam menjalankan protokol kesehatan. Kesepakatan antara sekolah, orang tua dan anak sendiri sangat perlu untuk meningkatkan kedisiplinan sesuai protokol kesehatan dan melihat situasi, kesiapan dan perkembangan kondisi yang ada.

6. Pembelajaran blended learning

Blended Learning merupakan pembelajaran gabungan antara tatap muka dan daring. Gabungan kedua pembelajaran ini dimungkinkan sangat relevan dalam situasi pandemi saat ini. Guru melaksanakan pembelajaran tatap muka dilanjutkan dengan pembelajaran jarak jauh; work from home bagi guru dan studi from home bagi anak. Blended learning adalah kombinasi belajar tatap muka dan pembelajaran berbasis komputer (Wasis D. Dwiyogo, 2017).

Setelah dilakukan uji coba, perlu dilakukan evaluasi, dengan melihat perkembangan yang ada; kalau bertambah mungkin perlu dilakukan penghentian pembelajaran tatap muka. Dan, khusus bagi sekolah berasrama (boarding school), sebelum masuk asrama para siswa benar-benar dites sesuai standar penanganan Covid-19. Kalau sudah masuk asrama, anak-anak dilarang keluar masuk asrama secara bebas. Semoga pendidikan Indonesia semakin jaya dan bermartabat.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

One thought on “Pembelajaran Tatap Muka antara Kebutuhan dan Dilema”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *