Oleh: Asih Widiastuti, S. Pd, Guru Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri

Pelangi-pelangi
Alangkah indahmu
Merah, kuning, hijau
dilangit yang biru
Pelukismu agung siapa gerangan
Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan

(Lagu anak-anak berjudul “PELANGI” karya AT Mahmud)

Lagu di atas menceritakan keindahan pelangi ciptaan Tuhan, tapi coba saja liriknya diubah menjadi lirik virus mewabah yang dinyatakan sebagai pandemi hampir di setiap negeri yang diberi judul “Corona” maka akan terasa beda keindahannya. Begini kira-kira liriknya:

Corona-corona
Alangkah ngerimu
Anak, remaja, ortu
Takut kepadamu
Adaamu nyata, entah seperti apa
Corona-corona cepatlah enyah

Satu tahun lebih corona mewabah, corona mengganggu semua lini kehidupan termasuk pendidikan, satu tahun lebih pula kami belajar bahwa adanya corona bukan untuk membuat kami diam terpaku. Akan tetapi adanya corona juga membuat kami berpacu, melaju dengan inovasi dan kreasi baru. Manusia adalah makhluk Tuhan yang disertai akal pikiran. Inovasi dan belajar tiada henti di berbagai bidang pekerjaan, termasuk bidang pendidikan. Kurikulum darurat dengan pola daring (dalam jaringan) bukan lagi makanan baru, selama setahun lebih keberadaan corona. Pembelajaran daring dijalankan baik lewat zoom meeting, micosoft team, google meet dan aplikasi lain yang membuat tatap muka virtual bisa dilaksanakan. Banyak pula pembelajaran daring yang tidak dengan tatap muka, tapi lewat media online lainnya, sebut saja google classroom, e-learning, atau sekedar lewat grup whatsApp di setiap mata pelajarannya.

Semua media pembelajaran daring yang disebutkan, dalam tataran pelaksanaannya bukan tanpa kendala. Kondisi tempat tinggal siswa yang belum tentu ramah sinyal adalah salah satunya. Kuota data internet yang tidak selalu ramah dengan kantong siswa alasan lain lagi. Keperluan ekonomi yang menyebabkan mereka harus bekerja dulu membantu ortu (orang tua) membuat belajar daring semakin berat dirasakan dan jalankan. Kemampuan berpikir siswa yang juga ada keterbatasan jika hanya mengandalkan penjelasan dari video pembelajaran. Lebih-lebih jika guru hanya sekedar share materi tanpa penjelasan. Siswa sekedar diminta baca dan mempelajari secara mandiri. Ini menambah daftar kompleksitas kendala dan permasalahan dalam pembelajaran secara daring.

Dampak negatif belajar dalam jaringan (daring) atau online lainnya adalah muncul sikap“slow respon” (rasa malas) atau bahkan sikap anti sosial dari para siswa yang setiap hari bahkan setiap waktu melihat handphonenya. Seringkali tanpa pengawasan dan pendampingan, mereka cenderung cuek dan tidak mau tahu dengan kondisi sekitar, bahkan parahnya handphone yang harusnya sebagai pembelajaran daring malah dipakai main game online, sehingga mereka masa bodoh ketika ada info penting dari sekolah/madrasahnya lewat grup WA misalnya, karena fokus dengan gamenya.

Selain itu, adab dan sopan santun terhadap guru pun terlewatkan, karena memang penanaman karakter yang sulit diajarkan lewat pembelajaran online. Setelah sekian lama berjalan, pembelajaran secara online semakin membuat siswa jenuh. Bahkan, tidak sedikit pula para guru yang kebingungan menemukan ide inovatif dalam pembelajaran, sesuai dengan kurikulum, dan siswa mau menikmati pembelajarannya.

Maret 2021 lalu Kompas TV memberitakan, pemerintah memutuskan untuk membuka sekolah pada tahun ajaran baru 2021/2022, tepatnya pada Juli mendatang secara tatap muka (offline). Kebijakan ini berdasarkan keputusan bersama 4 menteri yaitu menteri pendidikan dan kebudayaan, menteri keagamaan, menteri kesehatan dan menteri dalam negeri. Jika kebijakan ini dilaksanakan, setidaknya ada 3 hal yang seharusnya diperhatikan oleh semua pihak yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM), yaitu:

Pertama, semua pihak tetap harus menjaga protokol kesehatan baik itu menggunakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga mobilitas dengan langsung pulang setelah KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), dan tetap menjaga jarak, termasuk posisi duduk siswa saat KBM sekalipun. Itulah mengapa Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan bahwa kegiatan PTM secara offline hanya diijinkan untuk 50% dari jumlah siswa dikelas. Kedua, pelaksanaan PTM harus harus memiliki SOP (Standart Operating Prosedure) yang harus dipatuhi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan PTM ini, baik siswa, guru, wali siswa, dan semua civitas sekolah/madrasah. Ketiga, mematuhi dan mengusahakan efektifitas PTM, agar pertemuan tatap muka atau pertemuan luring ini tidak menjadi klaster baru bagi penyebaran covid-19, sehingga pertemuan tidak melebihi 30 menit dalam satu jam pelajaran. Untuk semua ini maka kurikulum PTM di masa pandemi harus betul-betul disiapkan.

Sebagai bentuk persiapan, sejumlah pemerintah daerah melakukan upaya uji coba pelaksanaan PTM, sebelum memasuki tahun ajaran baru. Di Wonogiri sendiri, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonogiri pada bulan April 2021 ditunjuk oleh pemerintah daerah setempat untuk melaksnakan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM), baik uji coba PTM 1 dan PTM 2. Di sinilah realita berbicara, saat rencana sudah ada. Kegiatan diawali dengan penetapan SK gugus tugas covid-19 tingkat madrasah, dilanjut petugas berkoordinasi dengan pihak terkait, baik gugus tugas tingkat kabupaten, DKK (dinas Kesehatan), puskesmas setempat, kepala desa setempat, orang tua siswa serta rumah sakit terdekat dan PMI. Lalu PTM pun dilaksanakan.

PTM tahap pertama yang berlangsung dari tanggal 5 sampai dengan 17 April 2021 diawali dengan rapid antigen untuk seluruh civitas akademika MAN Wonogiri. Semua guru karyawan menjalaninya. Setelah itu dilanjutkan dengan rapid antigen untuk semua siswa yang mendapat ijin orang tua untuk mengikuti PTM. Semua lolos screening hingga PTM tahap 1 dilaksanakan. PTM tahap kedua dimulai dari tanggal 26 April sampai dengan 8 Mei 2021. Rencana sudah dibuat, kini saatnya realita bicara. Jika ada kendala, untuk evaluasi dan perbaikan di pertemuan tatap muka sesungguhnya (bukan lagi uji coba) atau kesuksesan PTM tanpa kendala. Namun sepertinya istilah tak ada gading yang tak retak juga layak untuk sebuah perjalanan baru uji coba pembelajaran tatap muka kali ini. Kendala mulai terlihat di tahap 1 dan mulai diperbaiki di tahap 2 uji coba PTM di MAN Wonogiri.

Alhasil, kendala pun mulai tampak bemunculan. Orang tua yang harus lebih ekstra, karena selain bekerja, harus mengantar jemput putra atau putrinya ke madrasah. Siswa yang direncanakan maksimal 50% jumlah siswa dalam satu kelas tidak terpenuhi, mengingat salah satu SOP tertulis yaitu tidak menggunakan kendaraan umum. Di sinilah kesulitannya, ketika hampir semua siswa di MAN Wonogiri yang memang tidak mengenal zonasi berasal dari kecamatan yang jauh dari madrasah. Siswa yang dekat dengan madrasah pun belum tentu mengantongi izin orang tuanya untuk berangkat, atau mungkin -berdasarkan analisis kami- ada siswa yang mengalami “lossing learning”, yaitu kondisi kehilangan semangat untuk belajar dan bersekolah. Akhirnya dari 30 siswa yang harusnya bisa hadir 50% ternyata tidak bisa mencapai kuota. Belum lagi hari berikutnya, ada yang izin dengan alasan tidak ada yang mengantar atau sedang sakit, bahkan ada yang izin tidak berkenan mengikuti PTM.

Di sini lain, tidaklah mudah mengefektifkan waktu yang tersedia. Bagaimana tidak, satu jam pelajaran saat sebelum masa pandemi dengan durasi 45 menit saja seringkali memakan jam pelajaran berikutnya, bagaimana dengan uji coba PTM yang hanya diizinkan hanya 30 menit perjam pelajaran. Sehingga, blended learning (perpaduan antara daring dan luring) menjadi solusi yang diambil oleh MAN Wonogiri. Dengan blended learning, materi dan latihan soal bisa dikirim di grup WA. Artinya, pembelajaran dilakukan secara daring, sementara pembahasan soal dan pemahaman lanjutan atau diskusi jika ada materi yang tidak dipahami dilakukan secara tatap muka (luring).

Akhirnya penulis berharap pembelajaran tatap muka yang sesungguhnya nanti bisa berjalan secara lebih efektif. Semua siswa memenuhi kriteria SOP dan protokol kesehatan yang ketat mulai dari datang hingga kembali pulang. Sehingga lirik lagu gubahan dari lagu pelangi di atas yang ditutup “corona-corona cepatlah enyah” akan segera menjadi kenyataan. Amin.  

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

2 thoughts on “Pembelajaran Tatap Muka, antara Rencana dan Realita”
  1. Iya kondisi sulit kini menerpa dunia pendidikan

    Bersyukur kami yang satu atap dengan pondok pesantren, meskipun gerak kami tak sebebas kondisi normal, PTM dapat berjalan dengan baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *