Pendidikan Kejuruan Usaha Perjalanan Wisata di Era Digital

Oleh Chus Hasanah, S.Pd., Waka Kurikulum/Guru Produktif Usaha Perjalanan Wisata (UPW) SMK Negeri 1 Sijuk Kabupaten Belitung

Rumah Baca – Pendidikan memiliki kedudukan penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Hal ini berarti pendidikan memiliki peran yang segnifikan dalam menjawab tantangan zaman yang kian berubah. Melalui penanaman soft skill dan hard skill serta nilai-nilai dan etika yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, andal dan kompeten di bidangnya. Tentu saja, peningkatan kualitas SDM ini terlahir dari sebuah output lembaga pendidikan, seperti sekolah. Salah satu contohnya adalah pendidikan kejuruan. Pendidikan kejuruan dinilai mampu membekali peserta didik dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam era digital revolusi industri 4.0.

Menurut Undang Undang (UU) Negara Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 18, pendidikan kejuruan (vocational education) merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja pada bidang tertentu. Artinya, pendidikan kejuruan atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibangun untuk membentuk tenaga kerja yang terampil, dan profesional. Sehingga, peserta didik lulusan SMK siap bekerja sesuai bidangnya dan mampu berdaya saing dalam menghadapi tantangan dan dinamika nasional maupun global.

Kehadiran revolusi industri 4.0 saat ini sangat menekankan pada aspek digitalisasi. Apa itu digitalisasi? Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah digitalisasi adalah suatu proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Dengan begitu, aspek penguasaan Information and Communication Technology (ICT) dalam kehidupan bermasyarakat menjadi yang terdepan.

Nah, bagaimanakah pendidikan merespon era revolusi industri 4.0 ini? Pembelajaran abad 21 telah menjawab tantangan tersebut, mengingat pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi. Hal ini juga didukung dengan keterampilan yang harus dimiliki peserta didik. Keterampilan tersebut dikenal dengan istilah 4C yaitu critical thinking (berpikir kritis), collaboration (kemampuan bekerja sama dengan baik), communication (kemampuan berkomunikasi), dan creativity (kreatifitas).

Dilansir dari kompas.com, pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini mencapai 202,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 15,5 persen atau 27 juta jiwa jika dibandingkan pada Januari 2020. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. Hal ini menandakan telah terjadi perubahan paradigma masyarakat dari masyarakat offline menjadi masyarakat online (baca: netizen). Penggunaan komputer, internet dan handpone telah menjamur di kalangan pelajar maupun masyarakat pada umumnya. Oleh karena perkembangan digitalisasi semakin pesat maka pembelajaran di sekolah pun juga harus mengikuti perkembangan tersebut.

Penggunaan teknologi digital selain menjawab tantangan era revolusi industri 4.0 sekaligus menjadi penyelamat pendidikan pada saat ini. Mengawali tahun 2020, dunia dikejutkan dengan ditemukannya penyakit baru yang berasal dari Wuhan, China, dan mulai menyebar ke negara sekitar. Virus Corona yang disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) telah menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia.

Menanggapi situasi darurat ini, Menteri Nadiem Anwar Makarim telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 pada Satuan Pendidikan dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat COVID-19. Alhasil, ditetapkanlah kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilakukan secara daring (online) dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19.

Penerapan pembelajaran daring dilaksanakan dengan memanfaatkan jaringan internet. Penggunaan model interaksi berbasis internet, media sosial, learning management system (LMS), serta beberapa aplikasi gratis yang disediakan Kemendikbud merupakan media yang saat ini banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Di samping telah sangat familiar dalam penggunaanya tentu juga yang paling penting memudahkan peserta didik, agar dapat belajar kapan pun dan di mana pun.

Ada banyak media digital yang bisa digunakan dalam pembelajaran daring. Sebut saja beberapa di antaranya adalah Google Classroom, Zoom Meeting, WhatsApp, Facebook, Instagram, Youtube, Rumah Belajar, ataupun Ruang Guru. Namun, berdasarkan pengalaman penulis sebagai seorang pendidik, salah satu penggunaan teknologi digital yang sangat memudahkan terjadinya interaksi langsung pendidik dengan peserta didik adalah teknologi aplikasi pesan instant messaging yaitu WhatsApp. Dengan penggunaan WhatsApp sebagai media pembelajaran selain dapat memperlancar komunikasi antara pendidik dan peserta didik juga dapat menumbuhkan kemandirian peserta didik selama proses pembelajaran daring.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, pembelajaran daring merupakan sebuah inovasi pendidikan untuk menjawab tantangan akan ketersediaan sumber belajar yang variatif. Hal ini juga memungkinkan terlaksananya pembelajaran dengan mengutamakan kesehatan dan keselamatan para peserta didik, para pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Dengan begitu, ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan dan dijaga di masa pandemi saat ini.

Dalam konteks pariwisata, saat ini lahir sebuah konsep baru yang sedang viral dan tren di kalangan pelaku pariwisata. Misalnya saja munculnya sebuah ide kreatif wisata dengan memanfaatkan teknologi digital alias virtual tour. Ini merupakan nafas baru bagi pelaku industri khususnya tour guide dalam berkreasi menjawab tantangan di masa pandemi. Menurut Andi Volcano seorang praktisi geowisata sekaligus DPP HPI dalam sebuah webinar “Transformasi Digital: Tur Virtual Interaktif” yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf mengemukakan bahwa virtual tour merupakan simulasi tur di destiasi yang dibuat dalam bentuk peta perjalanan, video, dan susunan foto. Perjalanan maya ini juga dapat didukung oleh elemen-elemen multimedia lain, seperti efek suara, musik, narasi, dan teks.

Dalam kegiatan transformasi digital virtual tour, wisatawan akan mendapat suguhan destinasi wisata yang bisa mereka nikmati melalui perangkat digital, bisa dengan laptop atau gawai lainnya dan dipandu oleh seorang tour guide. Ada banyak platform yang dapat digunakan untuk melakukan virtual tour, salah satunya adalah indonesia.travel yang merupakan situs promosi milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pada situs tersebut, wisatawan dapat dengan mudah menjelajahi tempat-tempat wisata melalui pengalaman virtual menggunakan foto dan video 360 derajat.

Apa implikasinya pada kegiatan pembelajaran daring? Melihat kebermanfaatan dari konsep virtual tour tersebut, bisa menjadi salah satu fitur teknologi yang dimanfaatkan tenaga pendidik sebagai media pembelajaran bagi peserta didik. Selain menjadi sarana penunjang dalam pembelajaran daring, kegiatan virtual tour juga dapat menciptakan pembelajaran yang lebih menarik sehingga meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar.

Tak hanya pendidik yang bisa berkereasi dengan virtual tour, peserta didik juga bisa memanfaatkan teknologi ini sebagai bahan pembelajaran praktik selama pandemi. Sebut saja untuk salah satu pendidikan kejuruan yakni pada kompetensi keahlian Usaha Perjalanan Wisata khususnya pada mata pelajaran Pemanduan Perjalanan Wisata. Peserta didik dapat mengaplikasikan konsep virtual tour untuk berbagai destinasi wisata yang ada di daerahnya sebagai media promosi juga sekaligus berlatih belajar menjadi seorang tour guide dalam virtual guiding. Tentu saja ini sangat mengedukasi dan memfasilitasi peserta didik untuk mendapatkan kompetensi yang dibutuhkan di era digital dalam revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini.

Merebaknya digitalisasi pendidikan yang merupakan sebuah konsekuensi logis dari perubahan zaman akan sangat bergantung pada kesiapan dari setiap aspek, baik lembaga pendidikan maupun sumber daya manusianya. Perubahan paradigma dalam pembelajaran yang sesuai dengan revolusi industri 4.0 menuntut peran aktif tenaga pendidik untuk menguasai dan melek terhadap perkembangan teknologi serta media komunikasi, juga mampu berinovasi dalam menyajikan metode pembelajaran yang lebih menarik.

Keberhasilan digitalisasi pendidikan juga tidak terlepas dari peran serta pemerintah dalam menyiapkan platform digital, infrastruktur penunjang, dan kurikulum yang dibutuhkan lembaga pendidikan. Kegiatan literasi digital dalam pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT) di tiap lembaga pendidikan harus ditingkatkan agar pembelajaran dapat berjalan secara merata dan menyeluruh. Hal ini sejalan dengan tersedianya infrastruktur penunjang seperti lab komputer dan sistem informasi sekolah (website resmi atau sistem informasi sejenis).

Sejak 2018 pemerintah juga telah mencoba merumuskan kurikulum pendidikan yang berbasis STEAM (science, technology, engineering, art, mathematics). Untuk menyukseskan kurikulum tersebut, lembaga pendidikan wajib mewujudkan rumusan kurikulum di dalam metode pembelajaran yang konstektual. Dan demi tercapainya tujuan pendidikan nasional abad 21, maka kerja keras dan kerja cerdas dari seluruh stakeholder pendidikan sangat diperlukan. Tujuan utamanya adalah agar bisa bersama-sama mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing sehingga terlahir menjadi masyarakat informatif yang kental dengan perkembangan digital.

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

4 Responses

  1. Yudha Kusumawati says:

    MashaAllah… Semangat bu kurikulum

  2. Syahrial says:

    Mantap.
    Kalo di koran ini sudah dapat dihitung angka kreditnya.
    Lanjutkan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id