0 0
Read Time:4 Minute, 2 Second

Oleh: Nurani Soyomukti*)

Tradisi membaca untuk memperoleh pengetahuan juga berdampak pada relasi kuasa dalam pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dari suatu otoritas berupa manusia, misalnya guru yang menyampaikan ilmu pengetahuan, membuat penerima pengetahuan memandang bahwa pemberi pengetahuan (lewat lisan) sebagai orang yang dianggap punya posisi lebih tinggi. Murid yang menerima ilmu pengetahuan dari pemegang awal pengetahuan memberikan sebuah ‘posisi kuasa’ pada guru.

Tak heran jika dalam masyarakat yang sudah lama mengenal budaya membaca atau mendapatkan ilmu pengetahuan dari tulisan juga identik dengan kebudayaan yang lebih egaliter. Dalam masyarakat yang banyak membaca, pribadi-pribadi mengalami independensi dan individualisasi. Tak heran jika tradisi membaca di masyarakat Barat yang sudah mengalami revolusi budaya baca sejak abad ke-15 itu kental dengan nilai-nilai hak individu, kesetaraan, persamaan. Bandingkan dengan masyarakat kita yang hingga sekarang masih belum tuntas meninggalkan tradisi kegelapan (feodalisme), yang malas baca dan kemudian justru masuk ke lubang “budaya tonton”.

Era milenial hadir dengan adanya gadget dan media sosial memang sudah dimiliki oleh tiap individu. Tapi budaya membaca justru “nyungsep”. Budaya membaca tulisan panjang (tingkat membaca analitis dan kreatif) justru mati terganti dengan membaca berita online yang tulisannya pendek—dan fotonya justru lebih memakan ruang. Foto-foto, stiker, meme, dan video pendek juga lebih menjadi kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi lewat media daripada tulisan.

Bumbu-bumbu seksisme dan eksploitasi perempuan sebagai kelanjutan masyarakat di era milenial justru lebih fenomenal. Sudah masuk era milenial, pada saat feodalisme belum ditinggalkan. Patriarki era milenial bertengger gagah. Tradisi kesetaraan masih jauh. Ini adalah tragedi masyarakat yang kedatangan modernisasi bukan dengan pencerahan (enlightment). Ketika era milenial datang, tradisi membaca pun sudah terlanjur tertinggal.

Beda dengan Barat, ketika budaya literasi (baca-tulis) justru menjadi oli pelumas jalannya mesin revolusi menuju masyarakat baru (modern). Di Barat, penemuan buku cetak yang disertai membaca dan menulis, menurut Karlina Leksono, merupakan suatu pencapaian kultural yang berimplikasi dahsyat: “Di sini berlangsung peristiwa yang bukan semata-mata pengubahan medium penyampaian pesan dari suara manusia yang melibatkan ekspresi dan sikap tubuh seseorang ke sesuatu yang bersifat material sifatnya, tetapi membawa implikasi ideologis, sosial, dan politis”.

Sementara dalam masyarakat kita yang tradisi literasi baca-tulisnya tidak jalan, masyarakat yang pribadinya tidak punya independen. Cara berpikir dan perasaan mudah terhipnotis dengan pesan-pesan yang muncul dari otoritas dalam masyarakat kerumunan. Acara ceramah dengan satu orang pembicara yang dianggap membawa pengetahuan, dengan penerima pesan berupa kerumuman ratusan atau ribuan orang menjadi fenomena yang lebih banyak dijumpai daripada.

Masyarakat seperti ini yang dibutuhkan kenyamanan, bukan pengetahuan kritis dan ilmiah. Medengarkan ceramah-ceramah dan nasehat relijius lebih membuat nyaman. Mendengarkan ceramah-ceramah dengan kemampuan penceramah yang lucu dan membikin tertawa membuat kebutuhan akan menyamanan karena terhibur jauh lebih membudaya. Sementara membaca dianggap hal yang tak ada manfaatnya, berat, dan dianggap tak bisa membawa pengembangan diri. Bahkan bisa jadi diaggap tradisi menakutkan.

Masyarakat yang individu-individunya tidak terbiasa mencari pengetahuan secara independen dengan membaca dan mengembangkan pikiran yang kuat dari tradisi literasi, akan mudah terkooptasi dengan pandangan yang berkembang dari budaya komunalisme. Istilah ‘komunalisme’ di sini bukan mengacu pada istilah ekonomi, tapi cara berpikir. Bahkan sistem ekonominya kapitalistik dan menjunjung tinggi individualisme atau jauh dari prinsip komunalisme (kolektivisme) yang menyebabkan ketimpangan, tetapi cara pandang massa rakyat banyak gampang sekali diarahkan oleh elit-elit produsen pengetahuan moral.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Ya, karena secara umum masyarakat sendiri jauh dari produktif secara material. Pikiran yang jauh dari pengetahuan ilmiah, kritis, analitis, sebagai basis produktivitas tidak muncul. Pikiran diisi oleh ideologi fatalisme, mistisisme, irasional, yang terbentuk dari tradisi oral dan menonton. Tiadanya budaya baca-tulis, selain melahirkan pribadi-pribadi yang independen dan terpandu secara llmu pengetahuan dan imajinasi kreatif, mendatangkan ‘keterbelakangan budaya” dengan tradisi “kegelapan” sebagai bagiannya.

Era milenial yang katanya adalah tahapan masyarakat posmodern datang. Tetapi bahkan masyarakat kita modern saja masih belum. Masyarakat posmodern yang konon dikabarkan dicirikan dengan “over-produksi informasi” seharusnya didahului dengan masyarakat modern. Tetapi masyarakat kita masih feodal, belum modern, dan dipaksa hidup dalam masyarakat posmodern. Tentu terjadi pertumbuhan masyarakat yang tidak sehat, secara kejiwaan kacau-balau, penuh penyakit aneh.

Di Barat, era perbudakan berubah menjadi masyarakat feodal melalui revolusi. Era feodalisme hancur berganti dengan era modern melalui revolusi. Makna revolusi adalah hancurnya tatanan (relasi produksi) yang lama dan berganti tatanan baru. Cara berpikir (ideologi) dan kebiasaan lama juga ditinggalkan. Era “kegelapan” (‘dark age’) diganti dengan era ‘pencerahan’ (‘Aufklarung’). Revolusi gelombang informasi datang pula. Mereka siap segalanya, baik infrastrukturnya karena memang mereka yang menemukan dan menciptakan.

Lha kita? Feodalisme masih bercokol kuat, terutama dalam hal cara berpikir dan mentalitas. Modernisasi hadir dalam relasi sebagai negara pinggiran yang kaya sumber alam tapi IPTEK tidak tumbuh karena pikiran ditumpulkan dengan cara berpikir lama era abad kegelapan (feodalisme), sehingga sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan banyak penduduk tetap pada posisi terhisap. Lalu era milenial datang, apakah siap dengan kondisi sosial di mana individu-individunya masih dihegemoni cara berpikir lama?***

Trenggalek, 31/05/2021

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id