1 0
Read Time:4 Minute, 39 Second

Oleh Ahmad Rusdiana

Dunia baru saja memeringati Hari Toleransi Internasional pada 16 November 2022 kemarin. Toleransi adalah hal yang harus terus dirawat dan ditumbuhkan dalam kehidupan bersama ditengah-tengah kebinekaan. Peringatan Hari Toleransi Internasional tahun 2022 dengan mengusung tema “Toleransi adalah rasa hormat, penerimaan, dan penghargaan atas keragaman budaya dunia kita yang kaya, bentuk ekspresi dan cara kita menjadi manusia”. Di tengah masyarakat yang semakin beragam, sikap intoleransi masih tumbuh di beberapa tempat. Diyakini bahwa salah satu fondasi untuk menumbuhkan sikap toleran adalah dengan menguatkan budaya literasi di masyarakat.

Sudah mafhum bahwa literasi adalah kunci membangun masyarakat “melek” aksara”. Lebih jauh, literasi adalah dasar menumbuhkan masyarakat kritis, cerdas, dan berwawasan luas. Dengan tingkat literasi yang tinggi, seseorang tidak hanya punya wawasan luas, tapi juga punya sikap kritis dan kekayaan perspektif. 

Masyarakat yang memiliki budaya literasi kuat adalah masyarakat yang selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi, punya spirit dan gairah untuk terus belajar dari berbagai sumber, mencari, mengkaji, menganalisis, dan seterusnya. Dari sanalah literasi membuahkan keluasan wawasan, ketajaman analisis, kritis, dan kekayaan perspektif. Kita sadar bahwa sikap kritis dan kekayaan perspektif adalah modal untuk menciptakan kehidupan sosial yang toleran dan saling menghargai. 

Kesadaran bertoleransi menjadi hal paling mendasar jika kita berbicara tentang bagaimana membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai. Apalagi, bagi bangsa majemuk yang kaya perbedaan seperti Indonesia.

Sumber terbangunnya sikap toleran bisa dari berbagai hal. Kita mungkin bisa berpendapat bangsa Indonesia sejak dahulu, dari akarnya sudah merupakan bangsa yang toleran dan mudah menerima perbedaan.  Buktinya, di antaranya, masyarakat Nusantara adalah masyarakat pecinta damai yang mengutamakan keselarasan hidup dan cenderung “welcome” pada bangsa pendatang. Jadi, kita bisa mengatakan bahwa secara karakter, masyarakat Indonesia cenderung toleran. Akan tetapi, itu tidak boleh membuat kita mengendorkan upaya-upaya untuk terus merawat dan menguatkan toleransi di tengah kehidupan masyarakat. Terlebih, di tengah era keterbukaan informasi sekarang, semakin banyak “gempuran” yang datang membawa virus-virus intoleransi yang mengancam karakter dan jati diri bangsa kita yang toleran. 

Misalnya, kedatangan paham radikal terorisme atau paham ekstremisme agama yang merambah berbagai lini kehidupan masyarakat, sehingga memunculkan orang-orang intoleran, gemar melakukan kekerasan, hingga melakukan aksi teror.  Melihat bahaya tersebut, jelas penting untuk terus menguatkan dan membangun toleransi di tengah masyarakat. Upaya membangun dan menguatkan toleransi ini seiring sejalan dengan penguatan literasi di masyarakat. 

  1. Literasi adalah dasar membangun masyarakat cerdas dan berwawasan luas. Berbekal kecerdasan dan keluasan pengetahuan, literasi pada gilirannya akan mengasah kedewasaan dan kebijaksanaan.
  2. Makin luas ilmu seseorang, semakin ia memiliki kekayaan perspektif atau sudut pandang dan semakin terbiasa memandang perbedaan, sehingga tidak gampang menyalahkan dan menghakimi pandangan lain yang berbeda. 
  3. Lebih dalam lagi, keluasan pengetahuan dan kekayaan perspektif tersebut bila terus diasah akan membuahkan ketajaman emosi, tumbuhnya rasa empati, dan tumbuhnya kerendahan hati. Jika seseorang telah sampai di tingkatan empati dan rendah hati ini, ia akan dengan sendirinya menjadi toleran. 

Kita pun bisa menyimpulkan bahwa literasi adalah fondasi terbangunnya toleransi. Semakin kuat budaya literasi di masyarakat, semakin besar rasa toleran di antara sesama. Seperti Gus Dur, pernah mengatakan “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransinya”.

Michael Walzer menjelaskan jika toleransi adalah suatu keadaan yang harus ada dalam diri seseorang ataupun masyarakat agar bisa memenuhi tujuan yang ada di dalamnya. Beberapa tujuan tersebut adalah seperti hidup damai di tengah perbedaan yang ada, mulai dari perbedaan sejarah, identitas, hingga perbedaan budaya.

Friedrich Heiler menjelaskan jika toleransi adalah sikap seseorang yang mengakui adanya pluralitas agama dan juga menghargai setiap pemeluk agama tersebut. Ia juga menjelaskan jika setiap pemeluk agama memiliki hak untuk menerima perlakuan yang begitu sama dari semua orang.

Maka, semakin jelas bahwa upaya-upaya menguatkan literasi selalu penting dilakukan dalam rangka memberantas virus-virus intoleransi. Pengaruh-pengaruh paham intoleran, radikal, dan ekstremisme yang mengancam keharmonisan, hanya bisa dilawan ketika masyarakat sudah memiliki “imunitas” atau daya tahan berupa sikap toleran. Dan imunitas tersebut pertama-tama dibangun dengan penguatan literasi. 

Penguatan literasi adalah kerja yang tidak instan. Tak bisa dilihat hasilnya hanya dalam satu dua tahun. Ia harus benar-benar dibangun secara konsisten, dilakukan seluruh elemen masyarakat, berkelanjutan, sehingga menjadi kebiasaan (budaya) di masyarakat. Orang tua melalui pendidikan dalam keluarga, guru di sekolah, tokoh agama, para pemimpin, tokoh masyarakat, semua harus bergerak membangun budaya literasi di lingkungan masing-masing. 

Bentuk kontret dari penguatan literasi adalah dengan membangun kebiasaan membaca buku, surat kabar, majalah, hingga sumber-sumber bacaan lainnya. Selain itu, penguatan literasi juga bisa dibentuk dengan membiasakan untuk berdiskusi, bertukar pikiran, belajar menganalisis, hingga menulis atau menuangkan gagasan atau pemikiran. Tidak ada kata terlambat untuk meliterasi toleransi, mari kita mengukir toleransi Lewat Goresan Tulisan.

Wallahu A’lam Bishowab

Penulis:
Ahmad Rusdiana
, guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Pegiat Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Jawa Barat.

Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui:

(1)http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators.2)https://www.google.com/search?q=buku+a.rusdiana+shopee&source(3)https://play.google.com/store/books/author?id=Prof.+DR.+H.+A.+Rusdiana,+M.M.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

2 thoughts on “Percaya atau Tidak: Budaya Literasi sebagai Fondasi Toleransi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id