Oleh Masyhari, dosen IAI Cirebon

RumahBaca.id – Suatu sore saya pernah mengikuti obrolan ringan tentang menulis cepat bersama Prof Mulyadhi Kartanegara (Prof Mul) secara online via Zoom Meeting. Senang sekali dan bersyukur saya bisa ikut bergabung dan nyimak obrolan literasi itu. Yang hadir dalam kesempatan itu mayoritas para penulis kawakan. Ruang meeting sebenarnya hanya muat 100 orang. Awalnya saya tidak menyangka bakal bisa masuk dan diterima oleh Humaidi Surat, selaku host acara. Ternyata, yang ikut hadir saat itu baru sekitar 80-an orang.

Acara sore ini berupa obrolan santai seputar kepenulisan, sama sekali tidak terkesan formal. Saat saya berhasil masuk, acara dibuka dengan kesan atau testimoni tentang Prof Mul dari beberapa orang yang hadir, di antaranya Ngainun Naim, seorang penulis produktif dan dosen di Tulungangung. Tidak banyak yang saya catat dari paparan Ngainun Naim dalam kesempatan itu. “Saya sebenarnya belum sempat mengikuti perkuliahan Prof Mul secara langsung,” aku Ngainun Naim. Itu karena saat Ngainun Naim mulai kuliah di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Mul sudah tidak ngajar lagi di sana.

Kesempatan testimoni selanjutnya diberikan kepada Nanik Yuliyanti, mantan mahasiswa Prof Mul di program S1 kerjasama ICAS-Universitas Paramadina. Ada sejumlah kesan unik yang disampaikan Nanik ini. Prof Mul, ujarnya, terbilang sangat hambel dan dekat dengan para mahasiswanya. Meskipun sudah bertitel profesor doktor, Prof Mul tidak lantas menjaga jarak dengan mahasiswa S1-nya. Bahkan, tak jarang ia duduk di warung dan makan bersama dengan para mahasiswanya. Prof Mul juga termasuk mudah ditemui dan sabar membimbing para mahasiswanya, bahkan di rumahnya sekali pun.

Satu kesan menarik yang diutarakan Nanik, Prof Mul setiap masuk kelas selalu membawa buku tulis. Bahan mengajar telah disiapkannya di buku catatan itu. Buku itu juga dipakainya untuk mencatat apa saja saat mengajar di kelas.

Tibalah sesi yang ditunggu-tunggu, yaitu obrolan Prof Mul. Saya tidak menyebutnya materi, karena memang disampaikannya santai. Ada beberapa hal yang dapat saya catat dalam kesempatan itu. Namun, poin pentingnya yaitu tentang hambatan dalam menulis. Prof Mul menegaskan bahwa, hambatan utama dalam menulis yaitu rasa takut. Beban psikologis ini membuat seseorang urungkan niat menulis dan bahkan gagal menulis.

Karena itu, menurutnya, bila sudah hilang rasa takut dalam diri seseorang, maka engkau akan lancar mengalirkan ide dalam tulisan. Takut tulisannya tidak bagus dan banyak salah di mata dosen pembimbing, dan lain sebagainya.

Ia mengisahkan ada seorang mahasiswa yang selama berbulan-bulan tidak juga selesai menulis skripsinya. Itu katanya karena takut disalahkan sama pembimbingnya. Takut tulisannya tidak sistematis, tidak logis, dan lain sebagainya. Lantas, setelah diberi masukan oleh Prof Mul, agar ia membuang rasa takut itu. Ia pun mulai menulis tanpa beban dan menyelesaikan skripsinya dalam waktu kurang dari satu pekan. Oleh karena itu, hal penting yang harus diperhatikan saat menulis yaitu jangan pernah takut. Tulis saja!

Satu hal penting yang penting diperhatikan oleh penulis, ketika menulis Prof Mul tidak sambil membuka referensi yang dikutipnya. Mengapa? Sebab itu akan menghambatnya dalam proses menulis. Bukan berarti ia tidak mengutip karya orang lain. Tapi, informasi yang dikutipnya itu telah dibaca, dipahami dan diserapnya hingga setengah hafal. Ini sekaligus menghindarkannya dari plagiat.

Demikian kunci rahasia menulis cepat ala Prof Mul. Rata-rata bukunya ditulis kurang dari satu bulan. Dalam sehari, ia bisa menulis berhalaman-halaman. Bahkan, buku Mengarungi Lautan Ilmu (MLI), sebuah otobiografi sebangak 6 jilid itu ditulis hanya dalam kurun waktu sekitar 6 bulan.

Satu hal unik yang dijalani oleh Prof Mul dalam pengalaman kepenulisannya yaitu menulis tangan di buku. Hampir seluruh bukunya ditulis tangan terlebih dahulu, baru diketik ulang, termasuk buku MLI di atas.

Mengapa Prof Mul lebih suka menulis tangan?

Menurut Prof Mul, banyak sekali manfaat menulis dengan tangan secara manual, di antaranya yaitu kita akan terhindar dari menengok kembali ke tulisan awal yang sudah kita tuliskan. Ini penting, sebab kalau kita menengok kembali tulisan yang telah dituliskan, akan menghambat proses penulisan kita. Menulis dengan goresan pena di tangan lebih memperlancar aliran ide tertuang dalam bentuk tulisan. Selain itu, hasil tulisan tangan bisa menjadi dokumen manuskrip penting.

“Dengan menulis tangan, saya terhindar dari mundur kembali ke tulisan awal. Menulis itu layaknya aliran air, berlanjut saja. Jangan sampai berhenti menulis di tengah jalan untuk sekedar mengedit, mencari kosakata, atau yang lainnya.”

Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *