Oleh Eni Ratnawati*)

Identitas Buku:

  • Judul versi Inggris: Where’d Are You Bernadette?
  • Penulis: Maria Semple
  • Tebal: 403 halaman
  • Alih Bahasa: Nurkinanti Laraskusuma
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2015

Rumah Baca – Setiap orang berhak mendapatkan mimpinya. Ia bisa saja tiba-tiba berhenti melangkah, terpuruk, merasa buruk, tapi berhenti tidak sama dengan menyerah. Mungkin seperti itu Maria Semple ingin berkisah melalui tokoh utamanya, Bernadette Fox. Bahwa terkadang seseorang butuh untuk berhenti, menepi, mengambil jeda dari klimaks yang tak diharap, sejenak menanggalkan kata ‘kita’ untuk sebuah ‘aku’ yang seringnya tersisihkan dan terlupakan.

Novel Where’d Are You Bernadette? rilis dan laris di tahun 2012. Berhasil menggait simpati seorang sutradara, penulis naskah sekaligus pemeran Richard Linklater yang lantas membuat novel ini tayang perdana di layar kaca dengan judul yang sama pada 2019. Sedang untuk versi Indonesianya, novel dengan tebal 403 halaman ini diterjemahkan oleh Nurkinanti Laraskusuma dan terbit pertama kali pada 2015 oleh PT Gramedia Pustaka Utama.

Bercerita tentang Balakrishna, 15 tahun. Gadis muda yang lebih akrab dengan panggilan Bee ini mewarisi semua kecemerlangan orang tuanya. Bee tidak hanya berbakat perihal musik, menulis kreatif dan seni bahasa. Bee gadis yang cerdas dan jenius, tidak ada satu bidang akademik pun ia ikuti kecuali dengan capaian S yang berarti melampaui standar keunggulan.

Hari-hari bagi Bee adalah kemurahan dan keramahan. Satu-satunya hal mengerikan yang kerap menyusupi kedamaiannya adalah omongan buruk orang-orang tentang ibunya. Sebaliknya, ibunya menyebut orang-orang itu: tetangga dan ibu-ibu wali murid di Galer Street School tempat ia bersekolah sebagai nyamuk denging yang tak berhenti mengganggu kenyamanan hidup orang lain.

Bahwa ibunya anti sosial, enggan bersosialisasi, menjauhi keakraban, keras kepala dan aneh adalah sebuah gambaran gamblang yang lantas menjadi olok-olokan. Bee tahu semua itu tidak benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Bagi Bee, tidak ada ibu di dunia ini lebih baik dari Bernadette, ibunya.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang hubungan anak-ibu, atau tentang sebuah keluarga dengan getir-manis perjalanannya. Ada sesuatu tentang perempuan yang ingin disampaikan Semple kepada pembaca. Kekuatan dan kerapuhan yang sama besar, cinta dan kata maaf yang tak bisa dipisahkan, rasa syukur serta mimpi yang senantiasa dijuangkan.

Adakah yang begitu istimewa dari seorang perempuan yang lebih suka mengisolasi diri ketimbang bergaul dan bersosialita? Bukankah dia penyendiri yang nyaris membenci segala sesuatu termasuk masa lalu dan orang-orang di sekitarnya? Seorang istri dan ibu yang posesif-protektif, yang menyerahkan segala urusan rumah tangga kepada asisten virtual yang nyaris berhasil menguras aset suaminya. Apa yang istimewa dari mantan arsitektur itu? Ada apa dengan Bernadette?

Bernadette Fox muda adalah seorang arsitektur yang jenius, berbakat dan selalu bersemangat. Ia berhasil menyingkirkan pesaing dari berbagai kelas dalam proyek arsitek optimalisasi bahan daur ulang. Karenanya, Bernadette diganjar penghargaan, kontrak kerja yang prestisius dan dana hibah beasiswa. Dari beasiswa itu Bernadette membangun sebuah rumah daur ulang yang membanggakan, di sana juga ia letakkan mimpi, kreatifitas, imajinasi dan seluruh hasrat arsiteknya sebagai tiang-tiang pancang dan pondasi utama.

Menikahi Elgin Brunch, karyawan Microsoft yang mapan, berkelas, tenar dan brilian, Bernadette seolah mendapatkan segala hal baik dalam hidup. Hadirnya Balakrishna menjadi penyempurna kebahagiaanya setelah sekian penantian, perjuangan, putus asa, dan rasa sakit akibat peristiwa keguguran yang berulang. Bee, seperti kedua orang tuanya, kelak tumbuh menjadi gadis yang brilian dan membanggakan.

Tanpa banyak pemberitaan, media dikejutkan dengan Bernadette yang hengkang dari dunia perarsitekan. Tentu saja hal ini menyisa tanya pada banyak kalangan. Tidak ada yang benar-benar tahu apa alasan di balik resignnya sang arsitek muda berbakat itu. Benarkah Bernadette ingin berfokus pada keluarga? Jelas tidak! Sebuah peristiwa terjadi menghentak dunia Bernadette, tidak hanya menghancurkan mimpinya tetapi juga mengambil separuh hasrat hidupnya. Ini tentang mimpi dan hasrat, tentang eksistensi Bernadette yang dihancurkan bersama rubuhnya Twenty House Mile, karyanya.

Bernadette lantas menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik dan penuh kasih sayang. Dirinya dan Bee, keduanya banyak menghabiskan waktu bersama, tertawa, saling mendukung dan membuat acara-acara kecil yang sangat berarti.

Ayah Bee, Elgin Brunch adalah seorang petinggi di Microsoft, tidak selalu memiliki waktu untuk berkumpul dan bercerita dengan keluarga, tetapi Elgie, begitu ia biasa disapa, adalah sosok ayah yang bertanggung jawab, pekerja keras dan sangat mencintai keluarga.

Cerita dalam novel ini sebagian besar disajikan berupa catatan-catatan yang mungkin sama sekali tidak terpikirkan oleh siapa pun, hal yang unik dan sangat menarik menurut saya. Bagaimana sebuah email, surat undangan dari sekolah, surat tagihan UGD, faks, blog, log kapal, catatan kepolisian dirangkai sedemikian rupa dan berhasil membangun sebuah bangunan cerita yang interest, impresif, misterius sekaligus mencengangkan. Maria Semple dalam Bernadette membuktikan dirinya benar-benar ‘arsitek’ cerita yang unik, khas dan handal.

Where’d Are You Bernadette? Berfokus pada lenyapnya Bernadette saat agen FBI bersama Elgin dan asistennya bermaksud membujuk Bernadette sebelum memasukkannya ke pusat rehabilitasi. Iya, menurut Elgin, setelah berbagai peristiwa yang rumit dan membingungkan, Bernadette dimungkinkan mengalami gangguan kejiwaan. Hal itu semakin memperburuk keadaan Bernadette dan menyudutkannya. Dalam keadaan itu, Bernadette mengambil keputusan yang cepat sekaligus frontal. Bernadette kabur dari rumah dengan cara yang sangat misterius.

Bernadette tidak sanggup memikirkan bahwa suaminya, lelaki yang memberinya liontin Santa Bernadette itu meyakini bahwa dirinya gila. Ia tidak ingin hal itu diketahui oleh Bee, putri mereka. Bagi Bernadette, keluarga mereka adalah keluarga yang utuh dan baik-baik saja. Dan Bernadette tak akan mengizinkan sesuatu buruk mempengaruhi Bee. Di sisi lain, tanpa disadari oleh Elgin, Bernadette mengetahui bahwa suaminya menjalin affair dengan staf di kantornya.

Di tempat baru itu, Bernadette membangun kembali mimpinya, mulai menyusun rencana untuk proyek besar yang sudah menanti. Dan sampai hari perjumpaan itu tiba, Bernadette membimbing Bee dengan jejak dan pertanda samar yang sengaja ia tinggalkan. Ia tahu Bee akan terus mencarinya meski Elgin mungkin tak pernah mengizinkan.

Bee gadis yang bahkan lebih pintar dari ibunya dengan cepat memahami situasi. Dan seperti sebuah keajaiban, Bee menemukan ibunya di sana, di Benua Putih Antartika. Cerita yang dulu sering ia dengar dari mulut ibunya itu kini merupa di depan mata. Bahwa Bernadette Fox akan membangun sebuah rumah di Antartika. What a big project!

“Tak peduli seberapa jauh aku bersembunyi darimu, aku tahu kau akan menemukanku.”

Begitu banyak pesan menyentuh yang samar terangkai dalam novel ini. Salah satunya, seperti yang disampaikan oleh Adam Kampenaar: ” … bukan tentang di mana Anda berakhir, tetapi apa yang membawa Anda ke sana dan apa yang Anda lakukan setelah itu. Itu yang terpenting.”

*) Peresensi adalah mahasiswi Prodi Ekonomi Syariah IAI Cirebon & Pengelola Griya Baca Alima

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *