Oleh Rijal Mumazziq Z

Kalau kita berumahtangga lantas mendapat mertua yang sinetronik-melodramatik khas Indosiar, maka bersabar saja. Hahaha. Tak perlu menangis, toh anaknya juga menjadi pasangan kita. Jika tipikalnya sama, ya kudu bar sabbar taiyye. Apalagi kalau tinggal serumah, kita sudah berbakat menjadi waliyullah. Nanti kalau anda jadi kekasih-Nya dan bertemu dengan wali lain, serta saling curhat soal derajat kewalian, bilang saja kalau faktor kewalian kita lantaran bersabar meladeni mertua galak. Asyik, kan?

Tidak apa-apa. Mertua galak itu bagian dari dinamika rumahtangga. Dijalani saja. Serta berdoa semoga bisa menjadi lantaran keberkahan rumahtangga kita. Kalau memang nggak betah tinggal serumah dengan mertua, pelan-pelan izin membangun rumah sendiri juga bisa. Jika belum diizinkan, bisa merayu melalui anaknya.

Mertua galak memang mengerikan. Ada yang memang galak lantaran sayang anak-menantu-cucu. Galak cinta. Ini tipikal posesif. Memperlakukan anak-menantunya dengan teori klasik dan senioritas. Kamu harus begini-begitu sesuai arahanku. Awas kalau nggak.

Ada juga yang galak lantaran memang tidak menyukai menantunya. Ini faktor personal yang emosional, biasanya. Di depan menantu menampakkan wajah judes, di belakangnya, apalagi. Tipe demikian yang bikin runyam. Biasanya juga punya kebiasaan menjelek-jelekkan menantu di depan tetangga dan para kawannya. Kalau menantu belum sukses, malah dibanding-bandingkan dengan lainnya, serta mencibir pasangan anaknya.

Ini belum lagi mertua brutal: memperlakukan anak-menantu sebagai sapi perah. Minta jatah setoran per bulan, atau tiba-tiba nodong duwit banyak. Itupun buat kegiatan yang tersier, bukan primer. Juga utang di mana-mana, dan anak-menantu yang kena tagih.

Makanya, tadi saya bilang, rezeki yang terlihat tapi jarang disyukuri itu mertua yang baik dan pengerten kondisi menantunya. Memahami proses dan dinamika rumahtangga anaknya, tidak ikut campur, juga tidak terlampau mendominasi dan memberi komando kehidupan anak-menantunya. Termasuk, memberi ruang anak-menantunya berkriprah dan berkreasi sesuai kehendaknya.

Jika kita punya tipe mertua demikian, bersyukurlah. Ini rezeki. Hormati dan cintai mereka sebagaimana kita mencintai orangtua kita. Selalu minta doa restunya. Kalau orangtua kandung kita sudah tiada, maka lantunan doa mertua tipe begini yang kita harapkan.

Biasanya saya cipika cipiki dan minta peluk ibu saat baru tiba di rumahnya, atau melakukan hal sama ketika berangkat ke Surabaya. Juli lalu ibu saya wafat. Kini, tanpa malu atau gengsi, saya selalu cipika-cipiki dan minta peluk ibu mertua. Untungnya beliau nggak merasa aneh.

Mengapa saya melakukannya? Agar menjadi teladan bagi anak-anak. Mereka melihat ayahnya tidak membeda-bedakan antara ibu kandung dan ibu mertua. Antara Mbah Umi dan Mbah Uti. Kedudukannya sama di hati.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *