0 0
Read Time:5 Minute, 24 Second

Oleh Masyhari*)

RumahBaca.id – Judul di atas merupakan gambaran sebagian orang yang masih ngotot ke masjid atau rumah ibadah lainnya untuk melaksanakan ibadah di tengah merebaknya Covid-19.

Masjid adalah “rumah” Allah, tempat suci dan paling utama untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Masjid disebut masjid karena ia merupakan tempat bersujud. Saat bersujud, itulah posisi paling dekat antara hamba dengan Sang Pencipta, Allah Yang Maha Esa. Karenanya, larangan pergi ke masjid dianggap sebagai bentuk upaya musuh Islam untuk menjauhkan manusia dari Tuhannya. Sehingga masih saja ada yang keukeuh dan mengabaikan maklumat dari pemerintah, otoritas kesehatan, fatwa keagamaan baik dari MUI ataupun LBM NU, agar melakukan psysical atau social distance (jaga jarak kontak fisik) dengan menghindari tempat kerumunan orang.

Hanya saja, ternyata di tempat lain yang sangat potensial mengumpukan banyak orang, semisal pasar, warung, toko, dan sejenisnya, yang sifatnya urusan duniawi, malah masih banyak yang buka.

Sebenarnya, aktifitas apa pun yang mengundang kerumunan banyak orang sama-sama harus dihindari, baik di masjid, seminar, pasar, toko, acara hajatan, dan lain sebagainya. Sebab setiap kerumunan, berdasarkan maklumat protokol kesehatan dari otoritas yang berwenang dan info medis yang tersebar, berpotensi besar sebagai media penyebaran Covid-19. Bahkan, tak lama Kang Emil, Gubernur Jabar memetakan ada 4 kluster penyebaran Covid-19 di Jabar. Mereka yang terlibat di 4 cluster tersebut diharuskan cek kesehatan untuk memastikan terbebas dari Corona.

Karena itulah, semaksimal mungkin kita harus menghindari kerumunan orang dan berusaha berdiam diri di rumah, sampai keadaan normal kembali. Sebagaimana kita tahu, otoritas pendidikan, mulai dari Kemendiknas hingga dinas pendidikan telah meliburkan aktifitas pendidikan di sekolah-sekolah formal, mulai PAUD hingga Perguruan Tinggi. Perkuliahan selama dua pekan ini, secara nasional, pun dilakukan secara daring (dalam jaringan) atau online.

Bahkan, pendidikan nonformal berbasis keagamaan nonformal, pengajian anak-anak hingga majelis taklim emak-emak pun sudah diliburkan, sesuai dengan amanat DMI maupun Kemenag RI.

Mungkin, bisa jadi liburan dan kuliah daring akan diperpanjang hingga beberapa pekan, bulan atau tahun ke depan, hingga kondisi telah normal kembali. Wallahu a’lam. Kita tentunya berharap semua segera normal kembali dan aman seperti sedia kala.

Lantas, mengapa kita dilarang ke masjid, sementara toko masih terbuka lebar?

Begini, dalam beribadah kita dipandu dengan dasar ilmu fikih. Ilmu fikih didefinisikan sebagai pengetahuan terhadap hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia yang mukallaf, disarikan dari dalil-dalil terperinci. Fikih merupakan produk ijtihad para pakar hukum Islam berdasarkan dalil tekstual (Qur’an dan Sunnah) dikawinkan dengan dalil kontekstual (realitas) di masyarakat.

Hukum fikih terbagi lima, yaitu haram, makruh, wajib, sunnah dan mubah. Haram berarti yang harus ditinggalkan. Bila dikerjakan, dalam perspektif akidah, akan menyisakan dosa dan bermuara pada siksa di neraka. Kebalikannya yaitu wajib, yaitu sesuatu yang harus dilakukan. Yang melakukan kewajiban dapat pahala dan secara akidah, bermuara pada surga. Bila ditinggalkan, secara akidah, akan berdampak pada dosa dan mengarahkan para jurang siksaan api neraka.

Sedangkan makruh secara bahasa berarti sesuatu yang tidak disukai. Makruh dianjurkan untuk ditinggalkan. Meninggalkannya meruakan hal yang dianjurkan. Meskipun, menurut definisi umumnya, secara akidah, bila makruh dilakukan tidak berdosa, tapi meninggalkannya berpahala.

Di tengah-tengah antara keempat hukum di atas yaitu mubah. Mubah berarti yang diperbolehkan. Ibahah berarti boleh-boleh saja. Boleh disebut juga jawaz, kadang disebut juga halal. Makanan halal berarti yang boleh dimakan. Jenis pekerjaan yang berstatus halal berarti boleh dilakukan.

Sunah adalah kebalikan dari makruh. Sunah berarti yang dianjurkan untuk dilakukan. Bila dilakukan berpahala, bila ditinggalkan tidak berdosa, tapi sayang bila melayang sia-sia.

Kita kembali ke fokus pembahasan, salat di masjid secara berjamaah. Terkait status hukumnya, para ulama berbeda pendapat. Menurut Mazhab Syafi’i hukumnya sunah muakkad. Artinya, anjuran yang diperkuat. Lebih dari sekedar anjuran. Sehingga, salat di masjid punya kelebihan 27 kali lipat dibandingkan salat sendiri di rumah. Ini pendekatan keimanan, apa kata Nabi dan Tuhan.

Sebagian ulama lain menyebut salat berjamaah hukumnya fardhu kifayah, artinya bila telah dilakukan oleh sebagian orang yang mencukupi (sah disebut berjamaah, yaitu 2 orang), maka gugurlah kewajiban atas yang lain. Ini tentu hanya pandangan dilihat dari kacamata status hukum semata.

Bila dilihat dari perspektif ilmu maqasid Syari’ah (the philoshopy of Islmic law), salat berjamaah memiliki keutamaan lebih, karena mengandung makna secara sosial. Dengan salat berjamaah, sesama muslim akan saling bertemu dan mengenal, sehingga timbul mahabbah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) antar sesama manusia. Hal ini, misalnya tercermin ketika seorang masuk masjid, bersalaman dan berjabat tangan antar satu sama lain. Lantas, ketika menutup ibadah salat, ia ucapkan salam ke kanan dan kirinya. Ini menyiratkan ajaran Islam, bahwa seorang Muslim yang salat harus tebarkan salam dan perdamaian kepada sesama, kanan kirinya, dan sekelilingnya.

Dengan salat berjamaah, akan diketahui kondisi satu sama lainnya, dengan tegur sapa. Selanjutnya diikuti dengan adanya saling peduli, saling menopang (tadhamun dan takäful), dan saling tolong menolong (ta’awun). Sehingga muncul kekuatan dan kesuksesan dalam kebersamaan (kolektif).

Salat berjamaah bisa jadi berubah hukumnya dari sunah muakkad atau fardu kifayah bila kondisinya berbeda. Artinya, bila dengan adanya tindakan berjamaah (berkumpul dan berkerumun) itu timbulkan mafsadat atau dharar (bahaya) bagi jiwa (nafs) yang merupakan bagian yang harus dijaga (dharuriyyat), maka hukum berjamaah bisa jadi haram atau minimal makruh. Menjaga nyawa yang dharuri dengan menolak bahaya (dar’ul mafäsid) itu lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan (jalb mashalih) meskipun itu bagian dari agama (hifzh ad-diin) yaitu salat berjamaah. Kaidah fikih menyatakan bahwa “menolak kerusakan (tindakan preventif) lebih didahulukan daripada mengais kebaikan“.

Lebih-lebih, bila level maslahat yang ada tidak sampai darurat, tapi hanya sebatas hajjiyat. Artinya, kalau tidak berjamaah di masjid, salat masih bisa dilakukan secara berjamaah di rumah bersama keluarga atau bahkan sendirian pun tak apa-apa. Sehingga, upaya hifzh ad-diin masih bisa tetap terwujud.

Belum lagi bila kita menggunakan kaidah darurat. Bila suatu yang diharamkan saja boleh dilakukan bila dalam kondisi darurat (terpaksa), maka bagaimana bila itu hanya levelnya anjuran, tentu lebih bisa ditinggalkan bila anjuran itu mengarah (dzari’ah) pada bahaya.

Nah, bagaimana dengan pasar, toko dan belanja kebutuhan?

Sebagian pasar masih dibuka, karena ada kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Bila tidak butuh-butuh amat (darurat), pasar sebaiknya dihindari, bahkan sebisa mungkin ditutup sementara, untuk dilakukan pembersihan (sterilisasi), hingga kondisi normal kembali.

Toko-toko kelontong atau sembako masih juga dibuka karena menjual kebutuhan dasar sehari-hari untuk makan, menyambung kehidupan. Bila kebutuhan pangan telah cukup tersedia di rumah, maka keluar rumah seharusnya dihindari. Artinya, tidak semestinya keluar rumah, kecuali dalam kondsi darurat.

Lantas bagaimana dengan tempat hiburan? Beberapa pimpinan daerah telah memberikan maklumat (amaran) agar tempat-tempat hiburan dan permainan ditutup. Mari kita ikuti dan taati himbauan pemerintah dan otoritas yang berwenang, demi kebaikan bersama, untuk meminimalisir penyebaran virus Corona.[]

*) Dosen hukum Islam IAI Cirebon

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id