0 0
Read Time:5 Minute, 25 Second

Untuk mendukung “Kesehatan Mental dan Kesejahteraan untuk Semua sebagai Prioritas Global“.

Oleh Ahmad Rusdiana

Oleh: Ahmad Rusdiana

Setiap tanggal 10 Oktober 2022, seluruh dunia memperingati “Hari kesehatan mental”. Tujuannya untuk “meningkatkan kesadaran masyarakat atas pentingnya kesehatan mental bagi diri mereka”.

Peringatan Hari kesehatan mental sedunia di tahun 2022 ini mengusung tema “Make Mental Health and Wellbeing for All a Global Priority” atau “‘Jadikan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan untuk Semua Sebagai Prioritas Global”. Tema tersebut, mengingatkan kita tentang Kesehatan mental dewasa ini banyak mendapat perhatian lebih baik oleh negara maupun pada masyarakat.

Banyak pihak yang mulai menyadari bahwa meskipun tidak berakibat kematian, gangguan mental atau kejiwaan bisa memberikan beban baik pada penderita, keluarga dan juga masyarakat. Dampak serius dari gangguan kesehatan jiwa/mental disebutkan dalam penelitian 6 dari 20 jenis gangguan yang dianggap paling bertanggung jawab sebagai penyebab disabilitas adalah gangguan mental (Idham dkk, 2019).

Salah satu penyebab angka gangguan kesehatan mental tinggi adalah kurangnya informasi atau psikoedukasi tentang konsep kesehatan mental, serta tingginya stigma negatif terhadap pelayanan kesehatan mental. Permasalahan kesehatan mental di Indonesia masih belum mendapatkan perhatian yang memadai, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat Indonesia sendiri. Padahal, menurut hasil Riset Kesehatan, prevalensi gangguan jiwa di Indonesia cukup besar yaitu mencapai 1,7 per mil atau sekitar 2 dari 1000 penduduk mengalami gangguan jiwa (Syafitri& Nurlita 2017).

Salah satu faktor kunci yang menentukan apakah seseorang menerima bantuan profesional untuk masalah kesehatan mental adalah: “Literasi kesehatan mental masyarakat baik secara global ataupun lokal masih rendah dan cenderung diabaikan” (Jorm, 2000).

Hal ini dibuktikan dengan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang konsep sehat mental, gejala-gejala gangguan psikologis, cara mengatasi masalahnya, baik dalam memanajemen stressor maupun mencari bantuan professional (Fisher & Goldney, 2003).

Literasi kesehatan mental dimaknai sebagai pengetahuan dan keyakinan mengenai  gangguan-gangguan mental yang membantu  rekognisi, manajemen, dan prevensi (Handayani, 2020). Berarti, literasi di sini dimaksudkan tentang pengetahuan juga kesadaran terhadap kesehatan jiwa. Menurut Kutcher dkk (2016), pengetahuan dan kesadaran akan gangguan mental atau kejiwaan akan berdampak pula pada peningkatan pengetahuan secara umum yang meliputi: (1)  pengetahuan tentang pencegahan gangguan mental; (2) pengetahuan tentang kondisi dasar gangguan mental; (3) pengetahuan tentang opsi pencarian pertolongan dan akses pengobatan; (4)  pengetahuan tentang strategi pertolongan mandiri yang efektif untuk gangguan mental ringan; (5)  keterampilan pertolongan pertama untuk mendukung orang lain yang mengalami gangguan mental atau berada dalam krisis kesehatan mental.

Literasi kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut yang akhirnya membentuk tingkatan literasi yang berbeda dalam penerimaan masyarakat. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan, bahasa dan akses terhadap informasi kesehatan (Handayani, 2020). untuk itulah pentingnya memperhatikan faktor-faktor terkait dalam melakukan upaya peningkatan literasi kesehatan mental.

Selanjutnya, seseorang akan memiliki kemampuan yang buruk dalam mengenali gejala (literasi kesehatan mental rendah), dan kecenderungan untuk bergantung pada diri sendiri, bahkan dapat menjadi kurang percaya terhadap tenaga profesional seperti psikolog ataupun psikiater (Fisher & Goldney, 2003). Lebih lanjut (Lawlor et al., 2008) juga menyatakan bahwa untuk meningkatkan intervensi awal terhadap gangguan mental, deteksi awal terhadap gangguan, dan ini hanya dapat difasilitasi oleh literasi kesehatan mental.

Namun literasi kesehatan mental yang tidak terpenuhi bisa berdampak pada kondisi umum kesehatan jiwa di masyarakat. Salah satu dampak dari rendahnya literasi adalah munculnya stigma, rasa malu dan juga penolakan di masyarakat. Munculnya stigma tentu saja membuat beban tenaga kesehatan dan juga negara semakin berat dalam memunculkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa. Cakupan pengobatan juga pasti sulit dicapai apabila gangguan mental atau kejiwaan mendapat label dan stigma yang buruk. Tugas berat dalam mengembangkan kesehatan jiwa masyarakat adalah penerimaan tanpa stigma sehingga orang dengan gangguan jiwa dapat tetap produktif dan hidup manusiawi.

Di Indonesia sendiri, telah terdapat beberapa program untuk meningkatkan literasi kesehatan mental. Pada level seluruh komunitas, di beberapa provinsi di Indonesia, telah terdapat layanan psikologi di setiap puskesmas. Hal ini sesuai dengan rekomendasi dari WHO yang menyatakan bahwa:

  1. Mengintegrasikan layanan kesehatan mental dengan layanan kesehatan primer merupakan hal yang perlu dilakukan mengingat tingginya angka gangguan jiwa dan terbatasnya profesi kesehatan mental..
  2. Layanan psikologi di puskesmas sudah terdapat di seluruh puskesmas sejak tahun 2013 dan bersifat gratis bagi penduduk. Layanan psikologi ini dapat menangani gangguan kesehatan mental ringan hingga berat.
  3. Program lain yang memiliki cakupan lebih sempit, yaitu berbasis komunitas juga telah dilakukan. Salah satunya adalah pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) di beberapa daerah. DSSJ dibentuk agar masyarakat dapat lebih mengenal berbagai gangguan jiwa dan ikut berkontribusi atas kesehatan mental baik dirinya sendiri maupun warga desa yang lain.

Sayangnya pengadaan layanan psikologis ini belum dapat dilaksanakan optimal. Mengingat tingginya angka gangguan jiwa yang terjadi dan rendahnya literasi kesehatan mental masyarakat, maka pemerintah daerah perlu mempertimbangkan adanya layanan psikologi di pukesmas.

Kalau keadaanya demikian, lantas bagaimana cara meningkatkan literasi kesehatan mental? Menurut (Kelly&Wright,2007) terdapat empat kategori intervensi untuk meningkatkan literasi kesehatan mental yaitu:

  1. Kampanye komunitas secara  keseluruhan, menganjurkan alternatif perilaku individu agar hidup menuruttatanan “kesehatan” sosial dari suatu masyarakat.
  2. Kampanye komunitas yang ditargetkan untuk anak muda;
  3. Intervensi  dan pengajaran di sekolah-sekolah, untuk meningkatkan keterampilan mencari bantuan, literasi kesehatan mental, dan resiliensi;
  4. Program pelatihan individu. untuk meningkatkan kemampuan dalam intervensi krisis kesehatan mental.

Akhir dari upaya peningkatan literasi kesehatan mental melalui promosi kesehatan adalah masyarakat dan juga keluarganya mampu mencegah dan mengenali gangguan kesehatan jiwa serta sehingga bisa mengambil tindakan cepat untuk mendapat bantuan dan pengobatan berdasarkan evidence-based yang tepat. Melalui dukungan dari berbagai aspek, maka upaya kesehatan jiwa masyarakat yang dilakukan oleh pelayanan kesehatan mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara psikologis. Dengan itu, upaya untuk menjadikan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan untuk Semua Sebagai Prioritas Global.  Segera dapat terwujud.

Wallahu A’lam Bishowab

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis.

Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. https://play. google. com/store/books/author?id=Prof.+DR.+H.+A.+Rusdiana,+M.M

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

5 thoughts on “Seberapa Penting Literasi Kesehatan Mental

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id