Cerbung oleh: Eni Ratnawati*)

::::::::::::

INIKAH rasanya kejutan? Ketika jantungmu berdansa-ria dalam irama yang mengagumkan. Ketika senyummu tak lekang terkulum, tersipu terpantul-pantul dalam debaran yang meriuhkan.

Aku kehabisan napas

Aku nyaris mati

Mati dalam tikaman penasaran

Kubuka lembarannya, kutemukan sesuatu terselip seperti sengaja dititipkan di dalamnya. Sebagian orang mungkin mafhum, buku adalah satu dari sekian jenis kurir terpercaya sejagat mayapada. Dan kurir yang membawa pesan untukku tak lain adalah Senja Terbelah di Bumi Surabaya, yang sekarang sedang kubaca.

Di luar hujan turun sangat deras. Sesekali petir menyambar mengejutkan bulu roma. Hujan dan petir itu, juga pesan manis dan kurir itu, kuresapi sebagai peristiwa paling romantis dalam kurun tiga tahun terakhir hidupku. Tak hanya bumi manusia yang basah oleh cinta kasih Tuhan, bumi di hatiku pun bersemi oleh getaran dan debaran.

Kubuka lipatan kertasnya. Antara tersipu dan rasa penasaran yang memburu buatku secara tak sadar menahan napas. Efek kejutan ini memberi sensasi seolah otot-ototmu teraliri tenaga listrik. Benar-benar mengagumkan! Aneh rasanya jika seseorang beranggapan kejutan adalah bagian dari pekerjaan sia-sia. Setidaknya, pertimbangkanlah! Para wanita lebih suka jika sesekali lelakinya bisa dan mau memberinya kejutan-kejutan manis.

Dan mari kita lupakan sejenak soal lelaki, wanita dan kejutan manis ini. Beralih pada selembar kertas yang sekarang ada di hadapanku. Jantungku berdebaran memandanginya.

Sebelumnya aku tak percaya jika tulisan tangan bisa membuat seseorang yang membacanya menjadi termotivasi atau frustasi. Tapi sekarang aku mempercayainya. Ya!  Karena aku benar-benar frustasi. Kertas ini berisi tulisan tangan yang sangat buruk. Entah, Komnas apa yang harus bertanggung jawab untuk tulisan tangan yang buruk ini. Dan begitu saja, senyumku yang semula menyembul terpantul-pantul perlahan-lahan mencair berganti sepasang alis dan dahi yang mengerut, ditambah sepasang mata dan hidung yang cenat-cenut.

Bahkan, andai pun tulisan ini adalah rangkaian kata-kata manis, jika ditulis dengan ukiran tangan yang amburadul, akan sangat sulit bagi orang lain mendapatkan pesan yang dimaksud. Juga, dan ini yang sangat mungkin, adalah munculnya penafsiran lain yang tidak diinginkan. Dan tentu saja itu sangat berbahaya. Kau tidak tahu seseorang sedang mengirim surat tagihan utang atau mengajak kencan romantis sampai kau benar-benar bisa membaca kata-katanya dan memahami maksudnya. 

Surat ini memang kejutan. Setidaknya aku terkejut dengan kemunculannya. Dan dengan demikian, kusimpulkan bahwa kejutan memiliki varian rasa seperti halnya lumpia basah. Ada asin, manis, asin-manis-pedas, yang jika terlalu asin akan menjadi hipertensi, terlalu manis akan memicu penyakit gula. Dan kejutan yang kuterima kali ini adalah kombinasi dari keduanya. 

Bagi sebagian orang, kata-kata adalah mutiara. Bagiku, aksara adalah napas, dan setiap kata adalah cerita. Maka kalimat adalah tubuh yang bernapas dan mengandung cerita. Entah manis, asin, pahit, gabungan kata menjadikan kisah menjadi perpaduan warna atau perpaduan rasa pengikat makna.

Kertas putih ini tak menawariku sesuatu selain tarian huruf yang merangkul satu dengan yang lain. Menjegal satu di pelukan yang lain. Aku kehilangan misterinya. Aliran listrik itu padam sebelum tuntas kucerna maksudnya. Terkadang, untuk beberapa alasan orang-orang kehilangan cara bagaimana harus memulai sapa, atau bahkan bercanda. Tetapi tak ada alasan mengirim pesan dengan kata-kata yang kau sendiri tak memahaminya. Sepenuh hatiku berbisik dan memutuskan: abaikan saja!

Seminggu berselang, secara mengejutkan kudapati pesan yang berbeda dalam buku yang berbeda pula. Pesan itu tak lagi ditulis tangan, tetapi diketik dibingkai pula. Kucium dan kutimang. Kurasa seseorang telah salah menaburinya dengan Dolce & Gabbana, segar-lembutnya membuat cuping hidungku kasmaran. Wanginya perpaduan antara segar, lembut, berani tapi manis. Itu membuatku ingin tertawa. Dan ya, sedikit tersentuh. Kombinasi gula dan garam dalam pesan ini cukup harmonis.

Setelah kubuka teka-tekinya, kurenung-renungkan kemungkinannya, kutemukan maksud pesan itu tak kurang tak lebih adalah tentang hati yang tengah dimabuk asmara. Cinta yang tak menemukan jalan. Cinta yang menunggu ungkapan dan balasan. Aku mengenal pengirimnya tentu saja, hanya mengenal. Tidak lebih, mungkin sangat kurang. Tiga hari yang lalu kami bertemu, bertatap mata, tak berbicara barang sepatah kata. Dan ia baru saja mengungkapkan perasaan? Seperti itu kah cinta??

Ada satu keadaan dimana dengan waras bisikan-bisikan halus menjagamu dari mengambil keputusan terberat bahkan di saat hatimu tengah berbunga-bunga oleh cinta. Menerimanya sama dengan melepas halus statusku yang sudah terlanjur tenar binti gemilang: high quality jomblo.

Menjadi jomblo seharusnya adalah satu predikat yang membanggakan. Satu pilihan mulia dimana cinta menjadi universal. Dan bahkan cinta, ia butuh proses dan perjuangan untuk tumbuh mekarnya. Seperti halnya mutiara yang hanya akan dimiliki oleh para penyelam yang tak kunjung lelah dan menyerah.

Maka, dengan senang hati kutulis pesan balasan berikut ini:

Aku menunggu

Aku menunggu

Sebuah cerita yang tak hanya berkisah tentang bersatunya dua hati manusia. Tetapi aku, kamu, cinta, dunia, bahtera dan samudera

Aku menunggu

Aku menunggu

Karena aku permata

.

High Quality Jomblo

Anita

Di samping tulisan high quality jomblo kusisipkan emoticon melet dengan sebelah mata melotot. Dan setelah puas tertawa-tawa, kulipat lalu kuselipkan surat balasan itu di dalam lembar kurir yang membawanya.

Dengarlah!

Jantungku berdebaran.

*) Penulis adalah mahasiswi Prodi Ekonomi Syariah IAI Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *