Oleh Jamaluddin Mohammad, Wakil Ketua PC ISNU Kabupaten Cirebon

Rumah Baca – Hari ini saya merasa kaget bercampur sedih mendengar kabar kepergian Kang Affandi Mochtar (Dr. KH. Affandi Mochtar, MA), salah satu cucu KH. Sanusi, pendiri Pesantren Babakan Cirebon. Beliau sangat saya hormati. Orangnya pendiam, bicaranya pelan, dan lebih banyak mendengar. Cara berpikirnya taktis dan strategis. Ia lebih suka tampil di belakang layar.

Kang Affandi dikenal dermawan dan banyak membantu orang. Seingat saya, ketika beliau masih mengabdi di Kementrian Agama, hampir setiap hari orang-orang datang sowan meminta bantuan dan pertolongan. Beliau tak segan dan dengan senang hati membantu, mengarahkan, atau memberi jalan keluar.

Jabatan terakhir di Kementrian Agama sebagai Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi Islam. Meskipun terhitung masih saudara dan lumayan lama tinggal di Jakarta, saya merasa baru cukup dekat dan sering mampir ke rumah dan kantornya justru di akhir-akhir masa jabatannya.

Yang paling berkesan bagi saya, saya dan Mukti Ali Qusyairi yang waktu itu baru lulus Al-Azhar Kairo diminta beliau keliling seluruh pondok pesantren besar di Jawa untuk membeli seluruh kitab-kitab yang diajarkan dan dijadikan kurikulum pesantren. Juga buku-buku atau kitab yang ditulis kiai lokal, ustaz atau santri. Setelah memborong ratusan kitab, saya diminta membuat tim untuk membuat anotasi masing-masing kitab dari pelbagai disiplin ilmu itu.

Sayang sekali, sampai hari ini dummy kumpulan anotasi itu belum diterbitkan. Mungkin kalau dicetak bisa aampai empat atau lima jilid buku.

Bermula dari kegiatan ini, Kang Affandi sebetulnya memiliki keinginan membuat lembaga riset dan kajian tentang pesantren. “Kita bisa melanjutkan penelitian kitab kuning yang sudah dilakukan Martin van Bruinessen ,” ujar beliau. Hasil kajian kami, perkembangan disiplin keilmuan pesantren jauh lebih dinamis dibanding yang sudah dilakukan Martin.

Bermula dari proyek intelektual ini, kami (Ibu Lies Marcoes, Kang Muslih, Kang Ali Mursyid Ridwan, Mukti Ali, Abdul Muiz Syaerozie, Roland Gunawan, dll.) mendirikan Rumah KitaB (Rumah Kita Bersama), sebuah lembaga riset dan advokasi berbasis kitab kuning (turats).

Sayang sekali Kang Affandi harus pulang ke kampung halamannya, mengurus pesantren yang dirintis orang tuanya, sehingga tidak lagi secara intens mengawal lembaga ini. Rumah Kitab masih eksis hingga hari ini berkat tangan dingin Ibu Lies Marcoes.

Ketika saya mengingat beliau, saya teringat kebaikan-kebaikannya. Mudah-mudahan ini menjadi saksi di hadapan Allah SWT. Selamat tinggal, Kang Affandi. Sampean banyak sekali menanam amal jariyah di dunia ini yang kelak akan dipanen di akhirat nanti. Salam takzim. Al-Fatihah!

Salam dari muridmu,
Jamaluddin Mohammad

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *