Oleh: Ari Yoseva, Sekretaris UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Phew, baru dua hari saja novel 350 halaman itu hinggap di tanganku. Dan hari ini, hari keduanya, tepat pukul 3 siang, seluruh isi buku tamat kubaca. Mencengangkan!! Belum pernah sebelumnya aku menyelesaikan buku setebal ini hanya dalam dua hari. Keren bre!

Buku yang kuterima pada hari minggu lalu itu berjudul “selamat tinggal”. Sebuah buku karya penulis terkenal Indonesia dengan nama pena Tere Liye. Ini adalah kali pertamaku membaca bukunya. Bukannya tidak tertarik, membaca bagiku adalah hobi di kala senggang dan penat dari kesibukan sehari-hari. Dan bahan bacaanku tidak banyak dari buku, biasanya hanya koran dan majalah saja, atau beberapa buku penambah keterampilan, bukan buku fiksi. Meski menikmati membaca karya fiksi, tapi jarang sekali kubeli buku fiksi. Okay, back to the book!

Buku ‘selamat tinggal‘ ini cukup tebal, terdiri dari 30 bab. Dan tidak sampai dua hari sudah rampung kubaca, sedikit aneh tapi I am very proud of myself. Entah apa yang membuatku terus tergerak untuk membuka lembar demi lembarnya. Mungkin karena bacaannya sangat ringan, dengan kata-katanya yang sangat mengalir renyah dan tidak mengharuskan kita untuk berpikir keras. Atau mungkin juga karena kelihaian si penulis dalam membuat tulisan? Entahlah, yang pasti kesanku ketika membaca buku ini adalah ‘bernilai namun ringan’ dibaca. Meskipun begitu, tidak sedikit pun mengurangi nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh si penulis.

Nah, barangkali ini pula salah satu faktor mengalir dan ringannya bacaan. Adalah karena si penulis tidak banyak menggunakan kalimat yang ribet dan belibet, si penulis  selalu menggunakan kata dan kalimat yang to the point dan jelas. Tidak mencoba membungkusnya dengan kata yang lebih indah dan halus dibaca, tidak. Dia sangat unik dengan ciri khas menulisnya. Inilah yang membuat tulisan sangat enak dan mengalir dibaca, tidak berbelit-belit. Well, it’s absolutely amazing.

Novel ini juga memiliki dua titik inti yang sama pentingnya, dan membuatku sedikit bingung memutuskan sebenarnya buku ini ingin menekankan point yang mana.

Pertama, cerita berpusar pada kehidupan seorang mahasiswa abadi di sebuah fakultas sastra yang selama enam tahun lamanya tidak kunjung menyelesaikan skripsinya. Kedua, tentang seorang sastrawan patriotis yang menjadi lingkaran alur kehidupan sang mahasiswa. Ajaib bukan? Sangat! Seperti berlian di dalam mutiara. Sungguh luar biasa, menurutku.

Penulis juga pandai sekali membuat pemotongan alur ceritanya. Dia menempatkan puncak dari setiap bagiannya tepat di akhir bab. Sehingga menuntun kita untuk terus melanjutkan bacaan, karena jika tidak, tentu membuat kita tidur diselimuti rasa penasaran. What an amazing writer!

Berbeda dengan novel-novel yang umumnya beredar, cerita tidak menitikberatkan problema romansa dan percintaan. Semua bertumpu pada sebuah prinsip, visi kehidupan, namun dihiasi sedikit romansa yang membuat cerita menjadi lengkap sudah. No gap!

Kalau bisa kugambarkan sih, seperti berjalan menuju padang edelweis dengan melewati barisan kebun melati di sepanjang perjalanan. Yang terhampar di sekeliling sangatlah indah nan harum, tapi tujuan perjalanannya….tak kalah indah dan spesial. Itulah gambaran cerita dalam buku ini.

Mahasiswa abadi yang kusebutkan sekilas tadi, bernama Sintong Tinggal. Aneh memang namanya, haha. Tapi yakinlah, di akhir cerita kalian akan menyesal telah menertawakan nama ini. Sama sepertiku.

Karena ternyata Sintong adalah seorang yang memiliki banyak bakat, cerdas, memiliki analisis yang tajam pada berbagai masalah di sekelilingnya. Seorang yang sederhana. Namun di balik sikap dan penampilannya yang sederhana itu, terdapat sebuah bakat emas dan semangat membara untuk semua perubahan.

Sintong ini seorang mahasiswa fakultas sastra, yang berasal dari Medan dan merantau di Jakarta, jauh dari keluarganya. Selama di jakarta, Sintong dititipkan kepada pamannya yang memiliki toko buku bajakan dan tersebar di beberapa sudut kota. Pamannya ini pula yang membantu biaya hidup dan kuliah Sintong selama menjadi penjaga toko buku bajakan pamannya itu.

Meski demikian, dia adalah seorang mahasiswa yang pandai menulis, bahkan tulisannya kerap kali dimuat di koran nasional. namun, ada beberapa intrik dalam hidup yang suatu ketika membuatnya kehilangan semangat untuk menulis, terlebih menyelesaikan skripsinya. Akan tetapi, dekan fakultasnya tetap menaruh harapan penuh padanya. Sang dekan yakin bahwa suatu hari Sintong akan mampu membuat skripsi yang fenomenal. Sehingga meski sudah menunda dua tahun masa skripsinya, sang dekan tetap sabar membujuknya untuk segera menyelesaikan skripsinya.

Hingga pada suatu hari, Sintong menemukan sebuah buku lawas yang sangat besar bagi dunia sastra. buku karya Sutan Pane. Siapa sih yang tak kenal?

Sintong kemudian membawa ‘harta karun’ ini menghadap dekan yang mempertanyakan nasib skripsinya. Sintong tahu bahwa dekannya sangat tertarik pada ‘harta karun’ itu, sehingga dia bisa bernegosiasi untuk meminta perpanjangan waktu satu semester untuk menggarap skripsi dengan judul baru, dan dengan menjadikan pentalogi Sutan Pane sebagai bahan skripsinya.

Dan dari sinilah, petualangan Sintong mencari jejak tentang Sutan Pane dan pentalogi bukunya dimulai. Menelusuri berbagai kota, menemui orang yang belum dikenalnya untuk mencari jejak sang penulis di siang hari, serta menuliskan semua hasil penelusurannya menjadi draf skripsi di malam hari. Hal serupa dilakukannya selama enam bulan masa perpanjangan skripsinya. Siapa yang tahu jika di akhir cerita, skripsi Sintong pun diterbitkan menjadi sebuah buku terkenal.

Novel ini tentang pandangan hidup dan prinsip orang-orang hebat yang berkecimpung di dunia kepenulisan dan sastra. Sintong dalam hal ini digambarkan memiliki semangat dan keberanian menulis layaknya sang maestro sastra, Sutan Pane. Novel ini juga menceritakan perjalanan Sintong menjadi penulis besar, dan dengan prestasinya, mendapatkan beasiswa melanjutkan studi S2 ke Belanda.

Cerita dalam novel ini menggambarkan keberanian-keberanian tokohnya dalam membuat keputusan hidup. Keberanian untuk menyudahi eksistensinya dalam dunia buku bajakan yang pernah menjadi penopang biaya kuliahnya, keberanian untuk menyudahi penyesalan dan kembali menekuni masa depan, keberanian untuk menghadapi luka masa lalunya- Mawar Terang Bintang, keberanian untuk mengambil keputusan melanjutkan studi dan berkarya serta menyampaikan aspirasinya dalam bentuk tulisan. Meneruskan semangat sang penulis besar, Sutan Pane.

Novel ini berisi pesan yang vital, tapi dengan tidak mengabaikan keseluruhan alur ceritanya. Seperti yang telah kukatakan di awal, inti ceritanya indah, namun pesan-pesan pengantarnya tidak kalah menarik.

Menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam dunia produk bajakan, selain sebagai pesan bagi pembacanya agar tidak menjadi konsumen produk KW, juga menggambarkan realita dan dampak dari adanya produksi besar-besaran produk palsu ini. Selain itu juga, penulis mengangkat pesan yang sangat berharga. Adalah bahwa perubahan besar, akan bisa dicapai bersama-sama dimulai dari langkah kecil. Untuk bisa membasmi produsen pembajak, konsumen harus berhenti menjadi penikmat produk bajakan. Dan untuk bisa menggapai mimpi besar, Sintong terlebih dahulu harus berani memutuskan berhenti terlibat dengan ‘lingkaran’ pembajak, dan menjadi produsen tulisan asli. Menularkan semangat menulis dan berliterasi.

“Kita tidak pernah sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berani mengucapkan selamat tinggal. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. Kita bisa memperbaiki semuanya. Ucapkanlah dengan gagah, selamat tinggal semua keburukan. Sungguh, selamat tinggal. Dan selamat datang revolusi.”

Sutan Pane, Jakarta, 1965
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *