Oleh: Kang Masyhari

Rumah Baca – Memasuki bulan Ramadan ada saja permasalahan yang ditanyakan dan dibahas seputar puasa. Ya, padahal itu masalah klasik dan selalu berulang-ulang ditanyakan. Soal imsak, misalnya. Ada yang bilang bahwa kalau sudah masuk waktu imsak, kita tidak boleh makan dan minum. Benarkah begitu?

Kata imsak berasal dari bahasa Arab, artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Imsak itu artinya ya ash-shiyam (puasa) itu sendiri, yang artinya secara bahasa menahan.

Sedangkan definisinya secara istilah (ilmu fiqih), puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

So, aslinya, waktu imsak itu ya waktu fajar, dan pada saat itu, sudah tidak boleh lagi makan-minum.

Lalu, kenapa waktu imsak di Indonesua itu 10 menit jelang fajar atau Subuh? Padahal, awal puasa kan pas masuk waktu salat Subuh.

So, sebenarnya kita yang Muslim pada bulan Ramadan masih boleh makan dan atau minum sampai sebelum waktu Subuh tiba.

Hanya saja begini gaes. Waktu imsak itu ceritanya, ‘dibuat’ oleh para ulama Nusantara masa silam, dengan tujuan di antaranya yaitu sebagai bentuk kehati-hatian (preventif) bagi orang Islam, agar tidak dekat-dekat dengan waktu ‘haram’ makan-minum, dikhawatirkan keterusan. Eh, pas Subuh tiba, sisa-sisa makanan masih nagkring di mulut kita. Kan berabe. Pahadal kita tahu, kalau udah Subuh, udah gak boleh makan lagi.

Nah, daripada masuk pada areal haram, lah mending kita jauhi. Model ginian ada dalil nalar metodologisnya, dalam ushul fiqh dikenal dengan sadd dzari’ah. Apa itu? Buka buku ushul fiqh atau tanya Google atuh. Intinya, akses menuju keharaman diblokir supaya tidak masuk pada area haram. Ya, mudahnya begini, daripada terperosok pada area haram, mending kita antisipasi preventif.

Kedua, para ulama bikin istilah imsak dengan makna begitu dengan tujuan sebagai persiapan. Persiapan apa?

Ya, biar masih ada waktu cukup untuk berkumur-kumur, bersihkan mulut, sikat gigi dan berwudhu, sebagai persiapan untuk salat Subuh berjamaah. Ya, biar gak langsung tidur padahal belum salat subuh. Begitu.

Nah, syukur-syukur jauh-jauh sebelum Subuh atau waktu imsak itu udah bersiap-siap ke kamar mandi, khususnya bagi yang sedang jinabat, habis ngamalin uhilla lakum lailatash shiyamirrafatsu ilä nisäikum” punya cukup waktu buat kramas dan bersiap ke masjid salat Subuh.

Lalu, Bagaimana Hukumnya Bersiwak Saat Berpuasa?

Begini gaes. Sebenarnya, sikat gigi bukan termasuk hal-hal yang batalin puasa. Tapi, menurut mayoritas ulama, sikat gigi saat siang hari bulan puasa itu makruh. Apa itu makruh? Ya, tidak dianjurkan atau lebih baik ditinggalkan.

Lah, bukankah sikat gigi itu termasuk yang dianjurkan? Apa lagi ini biar sehat selama berpuasa dan jelang salat.

Jadi begini. Memang, sikat gigi hukum asalnya adalah dianjurkan, bahkan Nabi saw pernah bersabda, “Andai aku tidak kuatir bebani umatku, tentu aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan salat.”

Akan tetapi, ternyata ada satu hadis khusus terkait keistimewaan khusus bagi yang sedang berpuasa. Apa itu?

Kata Nabi saw, aroma mulutnya saat siang hari puasa itu bagi Allah lebih harum daripada minyak kasturi. Artinya, sebau apa pun mulut orang yang sedang puasa, itu bagus baginya.

So, gak perlu khawatir bila mulutmu kering dan berbau saat puasa. Allah suka aroma itu loh. Jadi, gak harus disikat. Karena itu, sebagian ulama yang memakruhkan bersiwak saat puasa.

Alasan lainnya, ketika bersikat gigi, khususnya di zaman ini, bersiwak pakai pasta, sehingga kita harus berkumur-kumur dengan cukup keras agar bersih mulut dari busa bekas pasta gigi. Nah, itu kan berpotensi (dzari’ah) sebabkan air masuk dalam tenggorokan, sehingga bikin batal puasa.

Karena itu, akses yang mengarah kepada yang batalin puasa diblokir saja dengan tindakan pencegahan, yakni dengan tidak sikat gigi saat waktu puasa sudah masuk. So, bersiwak itu sebaiknya sebelum Subuh.

Ya, meskipun ada sih ulama yang bilang itu tidak masalah, asalkan kumur-kumurnya dengan pelan dan bisa jamin air tidak masuk ke teggorokan. Apa lagi bila bersiwaknya pakai kayu gaharu (siwak), bukan dengan sikat gigi, pasta gigi dan air kumur. Tentu ini tak masalah.

Dan, menurut pendapat sebagian, maksud dari hadis di atas tadi, bahwa aroma wangi itu bagi Allah saja di akhirat kelak dapat pahala. Akan tetapi di dunia ya masih tetap bau. Sehingga, tetap harus disikat. Dan jangan mentang-mentang itu dianggap wangi oleh Allah, sehingga bau mulut dikeluarkan di hadapan orang lain. Tentu ini mengganggu dan bikin orang lain tidak nyaman.

So, tidak masalah bila kamu mau bersiwak di siang hari saat puasa. Tapi, pastikan air tidak masuk ke tenggorokan. Tapi, ini hukumnya makruh (tidak disukai dan lebih baik ditinggalkan) menurut sejumlah ulama. Wallahu a’lam.

Selamat menjalankan ibadah puasa 1 Ramadan 1442 H.

Griya Baca Alima, 13 April 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *