Oleh Mashuri Alhamdulillah, Peneliti Sastra di Balai Bahasa Jawa Timur

: ngablak siang

“Marah Rusli adalah Bapak Roman Modern Indonesia.”

H.B Jassin

Dalam sejarah sastra Indonesia, Padang dianggap tanah muasal sastra Indonesia modern. Namun, saya berkesempatan bertualang di ranah Sitti Nurbaya tersebut pada tanggal 7-9 September 2018 dengan bermodal ikhtiar menggali potensi sastra tradisional. Meski demikian, saya membuhul tilas perjalanan panjang itu dalam bentuk sastra modern bergenre puisi, walau puisi-puisi saya hanya sebentuk gebalau kalbu seorang petualang di tempat baru. Selain itu, selama di Padang, banyak peristiwa menggelitik, terkesan tak terduga dan ‘ajaib’ sebagai salik (penempuh suluk) amatir dalam peziarahan saya ke makam Syekh Burhanudin Ulakan, di Padang Pariaman.

Bermula dari call paper seminar bertema warisan budaya Indonesia yang digelar Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas Padang, saya mengajukan abstrak kajian tembang Sandur Bojonegoro dari segi etnopuitika dan kekerasan budaya. Gagasan itu berasal dari keterlibatan saya pada program revitalisasi Sandur Bojonegoro, yang digelar Badan Bahasa, di Desa Ledokkulon, Bojonegoro, pada tahun 2016.

Saya melihat seni pertunjukan Sandur itu kompleks dan merakyat. Di dalamnya, terdapat unsur drama, tari, sastra, rupa, dan olah tubuh. Ihwal dramaturginya, sandur dikategorikan sebagai drama arena dengan bermain di tanah terbuka atau lapangan, yang dibatasi dengan penanda janur kuning. Pertunjukannya bertumpu pada tradisi lisan.

Mungkin gambar 15 orang, orang berdiri, orang duduk dan luar ruangan
Sandur Bojonegoro, Jatim

Meski pendukung pertunjukan telah mengalami modifikasi menjadi sekitar 20-25 orang, tetap peran pemainnya masih konvensional sebagai panjak kendang, panjak gong, panjak hore, pemain jaranan, srati (pawang), pemain kalongking. Pemeran tokoh terdiri atas Balong, Tangsil, Pethak dan Cawik. Keempatnya dibedakan dengan kostum khusus dan perannya dalam pertunjukan. Selain pemeran tokoh, para pemain menggunakan kostum hitam-hitam.

Pemandu pertunjukan disebut Germo, yang bertugas mengantarkan dan mendesain pertunjukan. Saya menyebutnya pertunjukan sandur merakyat karena tema yang diangkat dan artikulasi pertunjukan sangat dekat dengan persoalan keseharian, apalagi terjadi interaksi langsung di antara pemain dan di antara pemain-penonton dalam adegan-adegannya.

Terlepas dari unsur seni pertunjukan, unsur-unsur kesastraan dan kelisanan sandur sangat dominan, yang tercermin pada tembang-tembangnya. Dengan metrum puitika Jawa dan dinyanyikan, tembang-tembang sandur tidak hanya sebagai hiasan atau pemanis pertunjukan, tetapi berperan vital. Fungsi dan posisi tembang dalam pertunjukan Sandur meliputi pengiring keluar-masuknya tokoh peran, pergantian adegan, narasi perjalanan tokoh, sekaligus sebagai mantra. Bahkan pergantian babak dalam Sandur ditandai dengan dilantunkan tembang.

Oleh karena itu, saya fokus pada tembang-tembangnya karena fungsi dan posisinya dalam pertunjukan tersebut. Apalagi kajian khusus tentang tembang sandur belum digarap orang, meskipun banyak yang sudah mengkajinya dari sisi seni pertunjukan. Di sisi lain, saya tergerak untuk mengungkap kekerasan budaya yang menimpa seni tersebut karena imbas stigmatisasi sepihak pascatahun 1965—1966 yang menganggap sebagai kesenian rakyat yang berafiliasi ke PKI, dan pada masa puritanisme Islam menguat pada tahun 1990-an yang menganggap Sandur tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam lewat kajian tembang-tembangnya.

Alhasil, abstrak saya diterima panitia. Pada tanggal 7 September 2018, saya pun bertolak ke Padang atas biaya Balai Bahasa Jawa Timur, dengan harapan besar, di antaranya saya dapat bicara tentang sandur di sebuah ajang ilmiah di luar Jawa Timur. Selain itu, saya belum pernah ke Padang, yang kadung saya imani sebagai tanah muasal sastra Indonesia modern. Saya membayangkan diri seperti seorang pengamal sastra Indonesia modern yang berziarah ke sumber sejarah, wabilkhusus ke latar Sitti Nurbaya, roman karya Marah Rusli, yang begitu legendaris dalam sastra Indonesia. Tema yang diangkatnya, ihwal kawin paksa, belitan adat, nasonalisme, dan feminisme menjadi lokomotif yang menarik gerbong generasi novel-novel pada zamannya dan beberapa novel sesudahnya yang diterbitkan Bale Poestaka. Bahkan, novel ini menjadi buku wajib sebagai bahan ajar di sekolah.

Tak ada yang mengendap dalam ingatan saya terkait perjalanan dari Surabaya ke Padang. Namun, dalam perjalanan dari bandara menuju lokasi, saya mulai diburu hantu kata-kata. Saya terkesima dengan nama-nama puitis yang menjadi nama-nama kampung yang saya lewati. Sungguh, saya menemukan beberapa nama kampung yang asolole bin puitis. Saya tergelitik menuliskan salah satu nama kampung. Mungkin karena selama ini saya karib dengan kata ‘buaya’, saya pun tertambat pada sebuah nama kampung bernama Lubuk Buaya. Keren nih! Sayangnya, ketika saya menyelami lubuk buaya, yang tersaji adalah puisi ngeri, ngilu, dan serentetan berondongan perasaan-perasaan luka dan gelap. Mungkinkah karena ruh surrealisme selalu memayungi langkah kreatif saya? Entahlah.

Lubuk Buaya

kau tak mengerti inti derita
meski tirta netramu meleleh
dari kutub selatan ke utara
hakikat lara bukan hanya air mata
apalagi helaan nafas belasungkawa
—tidakkah kau berkaca
pada retina
buaya
atau deru kincir
yang merayakan kematian
takdir
kau tak pernah mengerti derita
kerna nyerimu hanya luka
laki-laki
dengarlah getar tarhim
dari rahim —yang menghikmati
dingin
raungannya
membekukan kelamin
telanjanglah
hitunglah sisik-sisikmu
dengarlah kelesik pembuluhmu
kau akan tahu
suhu tidak terpahat di batu-batu
dan yang bernama derita
adalah jalan lingkar
yang membuat kau tak mampu ingkar
selalu berputar menapakinya
tapi tak tahu untuk apa
Padang, 7 September 2018

Begitu sampai di lokasi acara, yaitu di Hotel Plan B, Padang, ternyata acara sudah lama berlangsung. Belum lama saya menaruh bokong saya di kursi tempat seminar digelar, saya harus mempresentasikan temuan saya terkait dengan tembang Sandur Bojonegoro. Waktu yang diberikan demikian singkat, dan saya diparalelkan dengan lima orang pembicara. Hmmm. Satu sisi menguntungkan, sisi yang lain agak mendebarkan.

Saya pun menyajikan paper saya, dengan memadatkan hasil kajian saya, seperti seorang yang sok penyair menyarikan sebuah perjalanan panjang perasaan yang berliku dan kompleks dalam selarik kalimat. Mungkin mirip Sitor Situmorang yang menggurat puisi “Malam Lebaran” dengan satu kalimat ‘Bulan di atas kuburan”. Meski demikian, saya merasa ikhtiar untuk mengangkat sandur dalam forum tersebut disambut peserta lain, karena seusai presentasi, ada yang berusaha menanggapi uraian singkat saya tersebut.

Makalah saya mengungkap bahwa tembang-tembang Sandur memiliki metrum puitika Jawa yang mengarah pada nyanyian anak-anak atau dolanan, dengan media bahasa Jawa lokal, dan menyimpan jejak kearifan lokal, etika, dan spiritual. Nilai-nilai Islam-Jawa menjadi ruh tembang-tembang sandur. Di dalamnya terdapat sinkretisme nilai-nilai Jawa dan Islam. Dengan demikian, stigmatisasi sepihak pada Sandur Bojonegoro, baik oleh kalangan anti-komunis maupun puritanisme Islam, hanya melihat pada konteks kesejarahan Indonesia pada Orde Lama ketika politik menjadi panglima dan hanya melihat penampang permukaan semata tanpa mendalami unsur-unsur pembentuknya, ideologi, ajaran luhur, dan tradisi yang melahirkannya.

Kira-kira begitulah. Seusai acara pada hari itu, saya pun menginap di hotel tempat acara. Yup, meski pada saat presentasi itu dalam tempo sesingkat-singkatnya, tetapi buntutnya demikian panjang. Pada saat kongkow-kongkow di café hotel –yang sepelemparan batu dari Pantai Padang, saya ketemu dan bercakap-cakap dengan beberapa penulis muda Padang, seperti Esha, Joni dan juga pemerhati warisan budaya Indonesia lainnya, bahkan juga dengan Dirjen Kebudayaan, Pak Hilmar Farid, meskipun hanya sempat bercakap satu dan dua patah kata.

Malamnya, saya diajak panitia makan malam yang digelas sivitas akademik Universitas Andalas. Dalam kesempatan ini, saya bersua kembali dengan beberapa kawan dari Padang yang pernah bersua di Yogyakarta saat menempuh studi pascasarjana.

Setelah itu, saya dajak kawan-kawan penulis muda Padang ke acara Festival Silek, yang sedang digelar di Taman Budaya Padang, yang merupakan gawe Dirjen Kebudayaan dengan lembaga budaya setempat. Sebuah acara yang sungguh meriah dan luar biasa yang menunjukan kekayaan khasanah pencak silat dalam tradisi Minangkabau yang telah menyatu dengan adat istiadatnya dan menjadi ciri khas kedaerahan.

Mungkin gambar awan, alam dan perairan
Pantai Padang berlatar Bukit Padang

Namun, sebagaimana biasanya, pada acara yang riuh dan dahsyat itu terbersit sebuah ceruk sunyi di dada. Entah kenapa, ingatan saya terantuk pada kesunyian Malin Kundang saat dia dikutuk menjadi batu. Betapa tersiksa dia! Saya membayangkan Malin Kundang bangkit dari tidur panjang kutukan! Dalam kondisi itulah, sebait puisi pendek dan sederhana muncrat dari ambang ruang kreatif saya.

Lelaki Penunggang Mitos

Siapa yang diam-diam bangkit
Dari langit
Mengirim warkat
Kilat wingit
Melesat dari kilau batu-
batu hitam
Terbelah, malam
—-Seperti Malin Kundang
Menghela air bandang
Dari ibu kandung
Dirundung dendam
Dalam buku-buku
Yang disapih rindu
Pengetahuan
Padang, 7 September 2018

Malam itu, saya tidur pulas sekali. Saya merasa terlalu banyak pengalaman yang berjejalan dalam alam kesadaran saya, menyisakan beban psikologis yang sulit diungkapkan, sehingga saya merasa letih dan lungkrah. Pagi harinya, tanggal 8 September, bertempat di restoran hotel Plan B, saya mendapatkan kejutan lagi.

Saya melihat Pak Tomy Cristomy, filolog UI, yang juga menjadi pembicara dalam seminar, yang kebetulan sedang menggarap sebuah project di Padang, sedang duduk di meja makan seorang diri. Saya pun mendekatinya agar dapat mengenalnya lebih dekat. Selama ini, saya mengenalnya dari dua bukunya yang berlatar filologi, yaitu tesisnya tentang Wawacan Semaun dalam tradisi sastra Sunda dan disertasinya terkait dengan manuskrip kuno dan sisi antrolopogis Situs Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan Tasikmalaya. Saya tertarik dengan disertasinya yang ditempuh di Australian Nastional University (ANU), terbit versi Inggris tahun 2008 dan belum diterjemahkan. Buah ciptanya berbicara narasi sakral di Pamijahan dengan mengangkat naskah-naskah Satariyah di Pamijahan, tinggalan Syekh Abdul Muhyi. Dari perbincangan sambil makan pagi itu, Pak Tommy mengomentari tentang presentasi saya kemarin.

“Sangat padat! Banyak temuan dan yang ingin disampaikan. Memang, waktunya terlalu pendek,” terang dia.

Saya mengiyakannya. Sejurus kemudian, terbetik dalam pikiran saya untuk mengetahui tentang naskah-naskah Pamijahan. Saya pun membelokkan pembicaraan terkait penjelajahannya di Pamijahan. Saya menduga saya demikian ‘oportunis’, karena pada tahun itu, saya sedang meneliti manuskrip Bahrul Lahut. Saya pun bertanya padanya terkait koleksi naskah Satariyah di Pamijahan, adakah ia menemukan naskah Bahrul Lahut. Dengan senang hati, ia pun menceritakan tentang riset disertasinya. Ada beberapa informasi penting. Saya pun menyatakan bahwa saat itu sedang menelusuri sebuah naskah, yang saya duga sebagai salah satu naskah Satariyah.

“Mungkin perlu juga dilacak ke khasanah yang ditinggalkan Syekh Burhanuddin Ulakan,” seru dia.

Pernyataan Pak Tomy menjelma suplemen energi yang membuat saya semakin greng. Apalagi saat itu, saya memang berniat ziarah ke makam mahaguru Syekh Burhanudian Ulakan, saudara seperguruan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan ketika nyantri ke Syekh Abdrrauf Singkel. Saya memang begitu ingin berziarah ke Ulakan, yang masuk Kabupaten Pariaman, karena dalam bayangan saya, Pariaman memang tidak jauh dari Padang.

Siangnya, begitu usai penutupan acara, saya ngebet ke Ulakan, ingin berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan, dengan perhitungan, mumpung sedang di Padang. Saya pun bertanya ke beberapa pihak, karena tidak tahu situasi dan kondisi antara Padang—Pariaman. Dalam kondisi itulah, saya merasa diberi jalan mudah oleh Mas Pramono, filolog Padang yang menjadi ketua panitia seminar tersebut.

“Gampang, Mas. Santai saja. Nanti biar diantar anak-anak,” terang dia, sambil memberikan buku hasil karyanya.

Wow! Sebuah uluran tangan tak terduga, karena awalnya saya berencana ke Ulakan dengan naik angkutan umum –yang konon, berisiko bisa datang tapi tertunda untuk pulang. Akhirnya, saya diantar Mas Fahmi, seorang sarjana sastra Minangkabau, dengan naik mobil ke Ulakan. Hmmm. Perjalanan yang kami tempuh cukup menantang, meski dalam catatan hitam di atas putih antara Padang-Pariaman hanya tertera jarak 50 Km, tetapi rasanya lebih jauh dari angka itu.

Pasalnya, kami melewati jalan terobosan, alias jalur pintas, agar kami tidak menempuh jalan sejauh 50 Km, tetapi ternyata beberapa bagian jalan pintas itu ditutup karena rusak dan sedang diperbaiki. Terpaksa kami memutar, sehingga melewati jalan radikal karena kondisi jalannya amburadul. Membuat saya berkali-kali mengelus dada dan mobil melaju dengan mendayu-dayu.

Sungguh, jalannya mirip ombak laut sedang. Sebagian aspalnya sudah terkelupas, berlubang-lubang, dan tergenang air. Kondisi saya itu mirip seorang salik amatiran yang sedang menempuh jalan suluk sendirian. Dipenuhi dengan derau dan tergoncang-goncang karena banyak suara setan campur tangan.

Untunglah, begitu sampai di kawasan pantai yang masuk wilayah Pariaman, saya lupa nama pantainya, saya diajak mampir ke sebuah kompleks rumah makan tepi laut dengan menu khas: Gulai Kepala Ikan. Aseli Padang! Begitu tersaji, saya demikian tersihir oleh rasa dan ukurannya.

Apalagi nasinya yang wangi dibungkus daun pisang.

“Itu buat Mas sendirian! Saya sudah biasa makan begituan,” tegas Mas Fahmi, ketika sebuah kepala kakap memenuhi piring datar dan lebar.

Saya pun tancap gas, tanpa mengenal rem. Cita rasa masakan membuat saya ingin terus istikamah mengunyahnya karena lidah saya seperti dimanjakan berulang-ulang. Apalagi, selain kepala ikan, ada juga sajian kue khas Pariaman, yang menemani santapan, yang saya lupa namanya. Sungguh, maknyusnya keterlaluan! Bahkan dari ajang makan siang itu, saya tahu bahwa Mas Fahmi juga ahli mengolah masakah Padang. Ia memberi tahu saya, ada bumbu-bumbu yang hanya tersedia di Padang, sehingga masakan di Padang agak berbeda dengan masakan Padang di Jawa.

“Soal asamnya saja sudah berbeda, Mas. Di sini, mesti pakai asam kandis,” seru dia.

Setelah perut terisi full tank, kami pun melanjutkan perjalanan. Tak seberapa lama kemudian, saya sampai juga di makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, yang tenar dengan nama Syekh Burhanuddin Ulakan. Diam-siam, saya merasa ini adalah buah dari niat kecil meneliti naskah kuno Bahrul Lahut, yang akhirnya membentuk sebuah rantai silsilah yang panjang dan misterius. Hingga saya sampai di sana. Sebuah capaian yang tak terbayangkan sebelumnya.

Meski siang sudah beranjak sore, seperti biasa, godaan terbesar saya di tempat eksotis adalah mencari buku setempat yang dicetak terbatas, sederhana, dan langka. Di kompleks makam Syekh Burhanuddin Ulakan yang dahsyat itu, saya kulakan beberapa buku atau manuskrip fotokopian tentang Syekh Burhanudin dan tarekatnya yang tidak dapat ditemui di toko buku.
Saya merasa sehari itu demikian luar biasa. Pada pagi harinya, saya ngobrol soal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, sorenya saya sowan ke Syekh Burhanuddin Ulakan. Keduanya adalah murid legendaris dari Syekh Abdurrauf Singkel atau Syekh Kuala dari Aceh. Karena pengarang Bahrul Lahut, yaitu Syekh Abdullah Arif, berasal dari Aceh, saya pun menduga keras ada keterkaitan antara Syekh Abdurrouf Singkel dangan Syekh Abdullah Arif.

Setelah mencukupkan diri di makam Syekh Burhanuddin Ulakan, saya pun mengajak Mas Fahmi kembali ke Padang agar tidak kemalaman di jalan. Sesampainya di Padang, saya pun pindah hotel dari Plan B ke Hotel HW Padang, karena ternyata kamar di hotel Plan B sudah full booked. Malamnya, sebelum saya terlelap karena raga lungkrah tapi jiwa bungah,saya pun membaca kopian manuskrip yang tadi saya dapatkan di makam Syekh Burhanuddin Ulakan, yang termasuk penganjur tarekat Sattariyah di Padang. Naskah tinggalannya digolongkan ke naskah Sattariyah.

Dari sebuah manuskrip, saya dikejutkan dengan sebuah temuan yang mencengangkan. Ternyata, ada cerita Syekh Abdullah Arif dalam perjalanan hidup Syekh Burhanuddin Ulakan. Ia disebut sebagai guru pertama Syekh Burhanudin Ulakan, yang masih seperguruan dengan Syekh Abdurrauf Singkel ketika berguru pada Syekh Ibrahim Kurani di Madinah. Manuskrip itu berjudul “Muballigh al Islam”, dan di Padang, ia disebut sebagai Syekh Tapakis atau Syekh Madinah.

Padahal sebelumnya saya mengantongi informasi lain dari sebuah sumber yang menyebut, Syekh Abdullah Arif karib dengan beberapa tokoh penyebar Islam lain di Sumatera dan tanah Melayu, seperti Syekh Burhanudin (bukan Ulakan) dan Syekh Ismail Dafi, serta Syekh Ismail dan Syekh Faqir Ahmad yang mengislamkan Mirah Silu/Sultan Malik As Shaleh, raja Samudera Pasai. Bahkan, ada kajian arkeologis yang meneliti makam Syekh Abdullah Arif di kompleks makam Indrapuri, Aceh. Karena itulah, kelak, setelah dari Ulakan, saya pun membaca lebih detail disertasi Pak Oman Fathurrahman yang berbicara tentang tarekat Satariyah di Minangkabau, yang juga menyitir tentang “Mubaligh al Islam” dan keberadaan Syekh Burhanuddin Ulakan.

Menjelang lelap, ada yang terasa terbuka di kepala saya. mungkin karena penelitian saya tentang Barul Lahut ini semakin terbuka, entah kenapa ingatan saya kembali ke roman Sitti Nurbaya. Saya teringat project penulisan novel saya masih terkatung-katung, bahkan ada sederetan ide yang masih nangkring di batok kepala.

Novel yang Belum Dituliskan

kutuntun kesabaranku melata di tanah tak rata, dengan kaki pincang dan tuna daksa, meski ia kadang menyaru srigala dan singa. apalagi suara-suara di jalan mirip karnaval drumband di kota yang memuja bising sebagai doa. entah kenapa ketika perutku lapar oleh kata-kata, aku teringat sitti nurbaya.

dan keberangkatan orang-orang digdaya, dengan toga yang landung, jubah kebesaran, dan mata bercelak kebijaksanaan, selalu menyisakan tanya: benarkah ini zaman adalah sayembara paduan suara, pengiring requiem jisim latah menuju keabadian yang nyata. —seperti lambaian tangan imigran kapiran yang memenggal dunia lama.

mungkin ada pesan di batas cakrawaka, serupa warkat jingga dengan untaian bahasa angkasa—tetapi asap, ratap, gelap, menjadikannya hitam, tak terbaca. aku hanya menangkap jejak samar dari angin yang bunting —ditinggalkan hening. seperti mimpi-mimpi utopia bahwa dunia dapat dimurnikan dengan cinta, ketika setiap kepala memelihara cobra di pikirannya
ketika jalan berujung buntung, di depan tebing, cadas dan tinggi, kesabaranku meronta —seperti seorang dara milenia dikutuk hukum adat kawin paksa. ia pun merintih, kenapa harus dipeluk datuk maringgih, dan kenapa aku tidak dapat memilih.

aku pun tepekur di depan kubur novel-novel lama, sambil membaca tahlil, dengan lengking suara senyaring bunyi sirene kapal pesiar —tanpa nahkoda. kesabaranku pun menyaru jangkar dalam lembar-lembar kitab, yang belum dibukukan. mungkin beralur cerita, mungkin hanya sehimpun bahasa yang terluka…

Padang, September 2018

Keesohan harinya, pagi-pagi, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di tepi Pantai Padang sambil menganyam pikiran-pikiran. Begitu puas, saya nongkrong di sebuah kedai di tepi pantai, sambil menikmati mi instan rebus, dan memandang lanskap Bukit Padang. Kebetulan penerbangan saya balik ke Surabaya terjadwal siang.

Pada saat itulah, percakapan saya dengan beberapa penulis Padang kemarin kembali terngiang-ngiang bahwa kini modernisasi memang sedang menggerus kawasan tradisi yang dikenal dengan Minangkabau, termasuk arketip-arketip lawasnya. Dalam sebuah momen, saya merasa Sitti Nurbaya, modernisasi Minangkabau, sisa-sisa luka PDRI masa lalu yang masih tersisa, dan hal-hal lainnya menjadi sebuah senyawa puisi, yang terikat oleh sebuah diksi bernama: senja.

Senja di Pantai Padang

: kalbu phinangkhabu

di pantai ini, kucari namamu di cakrawala, di antara tiang suar, bukit Padang, dan tilas suara azan di udara. tapi debur ombak pasang, seperti sepasang kekasih dihardik janin malam —betapa kuat kalian bertahan di gerbang!

senja pun menjelma bahasa purba, mengembalikan ingatan pada kapak batu, beliung perunggu, dan gusar menunggu. kutekuk kalbu ke lubuk berlumut, mengundangmu bertandang di kaki langit ingatan agar segera maujud, menyaru lembar-lembar kisah rantauan dan maut.
tapi sampah plastik, deru motor, dan raung klakson menawarkan sunyi lain. aku terbanting ke kerling kini —mengeja kembali rupa dan bunyi, seperti jagal yang mengenali lagi lekuk belati tuk menyembelih siang yang hendak pergi. ah, luka lama kembali trengginas, menggenang dalam kisah kasih yang tumpas di alur roman kolonial.

diiringi gonggong anjing depan vihara, kucatat ritmis gerimis dada, turun di sela rumput kenangan sebagai partitur penuntun langgam kelam cinta. o, dalam hembusan angin senja, kenapa aku jatuh ke pelukan kalam Sitti Nurbaya!

kutatap kembali langit barat nan merah —tapi tak ada bulan, hampa bintang, hanya mendung tipis mengabur ke timur. o, sungguhkah namamu telah terkubur di tanah elok nan gembur. benarkah warisanmu ‘lah tertimbun rumah gadang yang usang dan berumur.

di muara harapan, kutarikan tarian ombak pesisir, mengalir dalam desir pasir, teriring kelesik angin mengarsir takdir. batinku pun memintal wajahmu dalam kehampaan, menjaring rautmu yang terus berlarian dalam bebayang. o, aku ingin menemuimu, bertamu ke berandamu, meski sejenak, kerna sedetik lagi cahya cakrawala akan raib ditelan malam. bayang-bayang bakal tenggelam. mungkin hanya lampu suar dan bintang-bintang yang bisa bicara, meski dalam kebisuan.

Padang, 9 September 2018

Siang itu, saya pun berkemas dan berniat bertolak ke Surabaya. Tidak lupa, saya pun membeli oleh-oleh dan jajanan khas Padang. Salah satunya, rendang dalam kemasan. Hmmm. Apapun alasannya, saya termasuk fanatik pada masakan Padang. Tentu suguhan gulai kepala ikan kemarin tak mungkin terlupakan.

Bahkan, dulu, saya sering ngetes kondisi tubuh saya yang sedang merasa kurang enak badan dengan mengudap di Rumah Makan Padang di Surabaya. Bila saya masih sanggup menghabiskan satu porsi nasi Padang berarti itu kabar baik: kondisi saya masih sehat. O iya, selama di di Padang, memang saya tidak menemukan ada tulisan rumah makan Padang untuk warung atau rumah makannya, mungkin karena semua rumah makan itu bermenu masakan Padang semua.

“Cita rasa masakan Padang yang sudah di rantau itu sudah disesuaikan dengan lidah rantau, Mas. Kalau makan di sini, ya semuanya aseli sini, meskipun ada juga yang tidak, tapi tidak banyak,” tutur Esha, sambil menyebutkan sebuah rumah makan Padang legendaris di kawasan sekitar Padang, tetapi jaraknya terlalu jauh dari kota.

Alhamdulillah, perjalanan Padang—Surabaya mulus, meskipun tidak semulus pipi Raisa –perumpamaan ciamik untuk saat itu, mungkin kini terganti dengan pipi Amanda Manopo. Ehm. Saya mengatakan demikian, karena ketika sampai di Bandara Surabaya menjelang magrib, sepeda motor lawas saya ngadat, menolak hidup, ketika saya starter di parkiran bandara. Dalam kondisi demikian, sayup-sayup saya mendengar syiiran Gus Dur “Syiir Tanpo Waton”, karya Gus Nizam, cucu Mbah Sahlan Sidorangu Krian, Sidoarjo, mengalun di udara terbuka antara Sidoarjo—Surabaya.

Dalam situasi terkatung-katung, saya pun terkenang tembang-tembang sandur yang berdengung dalam ingatan. Tembang-tembang dolanan dengan nafas Islam-Jawa, yang seakan-akan meniupkan seutas nafas pada jiwa yang sedang gagap menghadapi takdir mesin motor yang beranjak tua…

On Sidokepung, 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *