Oleh Masyhari,
Pembina Sahabat Literasi IAI Cirebon

Literasi secara tradisional diartikan dengan kemampuan dalam membaca dan menulis. Literasi merupakan kecakapan atau keterampilan (skill). Menulis, sebagaimana kemampuan berbicara, membaca (memahami bacaan) dan mendengarkan (memahami apa yang didengar), bukanlah bakat, tetapi bagian dari keterampilan dalam berbahasa.

Sepanjang sejarah umat manusia, tak ada satu pun yang terlahir sebagai penulis hebat. Kalaupun misalnya menulis merupakan bakat, maka bakat menulis dilalui melalui proses latihan demi latihan yang panjang.

Hal tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Natalie Goldberg (2005) dalam “Alirkan Jadi Dirimu”, bahwa bakat menulis akan tumbuh dengan latihan. Mengutip Roshi Katagiri, guru spiritualnya, Natalie menegaskan bahwa bakat laksana sumber air. Siapa pun bisa mengambil darinya, tapi tak seorang pun bisa memilikinya. Lebih lanjut, Natalie mengatakan, siapa pun yang mengambil air itu dengan usahanya, air itu akan mengalir ke arahnya. Dengan banyak berlatih, akan meningkatkan kemampuan literasi. Bagi yang ingin menjadi novelis, tulislah novel. Yang ingin jadi cerpenis, tulislah cerpen. Yang ingin jadi esais, tulislah esai, lanjut Natalie.

Manusia memang dilahirkan dengan potensi bawaan lahir secara genetik berupa modal akal, hati dan otak yang bervarian. Dalam teori perkembangan, potensi bawaan lahir ini tentunya dimiliki oleh hampir semua setiap manusia sebagai makhluk Tuhan. Dalam al-Quran Surat al-‘Alaq ditegaskan, bahwa manusia diciptakan dengan bentuk yang paling baik (ahsan). Artinya, tidak ada manusia yang diciptakan dengan kondisi dungu (tidak berbakat). Manusia dilahirkan dengan potensi kecerdasan yang dimilikinya.

Sejalan dengan itu, Howard Gardner dengan teori multiple intellegences (kecerdasan ganda) menegaskan, bahwa tidak ada manusia yang tidak cerdas. Setidaknya dalam diri manusia ada 8 kecerdasan, dengan persentase yang bervarian. Kecerdasan yang dimaksud yaitu (1) logika matematik (analisis numeral), (2) natural (alam), (3) musikal, (4) kinistetis (gerak fisik), (5) visual-spasial (ruang), (6) linguistik (berbahasa), (7) intrapersonal (interaksi sosial), dan (8) interpersonal (memahami diri sendiri). Sebagian ada yang menambahkan kecerdasan lainnya, yaitu spiritual.

Nah, poinnya di sini, bahwa setiap kecerdasan itu dapat berkembang, cepat atau lambat, tergantung rangsangan (stimulus) yang diberikan, baik secara internal (dengan latihan secara mandiri) ataupun eksternal (dari orang lain: guru, orang tua, kawan, dsb.). Maka, dalam konteks literasi (membaca, memahami dan menulis), yang merupakan bagian dari keterampilan, ia bisa berkembang dengan cepat atau lambat tergantung stimulus yang diberikan.

Sebagai dosen (atau guru), yang merupakan motivator bagi mahasiswa, saya kira perlu ada upaya yang kongkrit dalam meningkatkan dan melejitkan kemampuan literasi mahasiswa. Sebagai bentuk stimulus eksternal bagi mahasiswa, saya manfaatkan Tuman (tugas mandiri) berupa menulis esai setiap akhir pertemuan untuk setiap mata kuliah yang saya ampu.

Teknis yang biasa saya lakukan, pada setiap akhir pertemuan, mahasiswa saya beri tugas menulis catatan terkait apa yang mereka pahami dari materi dengan redaksi bahasa mahasiswa masing-masing, tidak boleh copast. Dalam tahap awal, tulisan sepanjang ± 5 paragraf. Bila sudah berjalan, bisa ditambahkan jadi 10-15 paragraf. Pada era kini, di mana pembelajaran dilakukan secara daring, saya manfaatkan kolom tugas di Goole Classroom untuk menyerahkan Tuman berupa esai setiap pertemuan.

Jika dalam satu semester ada sekitar 12-14 kali pertemuan, maka dalam mata kuliah mahasiswa telah menulis esai hasil karya mereka sendiri. Artinya, meskipun terpaksa, pada akhirnya mahasiswa akan terbiasa menuangkan hasil bacaan, diskusi, dan ide mereka ke dalam tulisan, secara kreatif, tanpa harus copast dari tulisan mana pun.

Saya kira ini upaya sederhana dalam mengurangi plagiarisme yang terjadi di kalangan mahasiswa dalam menulis makalah. Sebab, plagiarisme terjadi ditengarai oleh kemalasan dalam membaca dan memahami bacaan, serta ketidakcakapan dalam melakukan parafrasa (mengungkapkan kembali apa yang dipahami dari bacaan) dan menuangkan ide dan gagasan pribadi dalam bentuk tulisan. Dengan sering berlatih menulis, problem dan rintangan akan teratasi dan setiap orang, termasuk mahasiswa, otomatis akan menjadi penulis.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *