Oleh Irfan Aziz, SS., M.Pd.I, Tutor Bahasa Arab UPT Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Keterampilan berbahasa asing, termasuk bahasa Arab, mutlak dibutuhkan oleh siapa pun yang ingin meningkatkan kapasitas dan kepercayaan dirinya dalam persaingan global. Generasi muda Islam, lebih-lebih yang sedang menempuh pendidikan di  berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan kemahiran berbahasa Arabnya, sebab semua PTAI, baik negeri maupun swasta, mewajibkan mahasiswanya mengikuti mata kuliah Bahasa Arab. Bahkan, tidak jarang PTAI yang mengistimewakan mata kuliah Bahasa Arab dan Inggris dibanding mata kuliah lainnya.

Di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, misalnya, mata kuliah Bahasa Arab 1 dan Bahasa Arab 2 diajarkan pada tahun pertama secara intensif. Mata kuliah ini dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) IAIN Cirebon. Dalam sepekan mahasiswa harus mengikuti dua pertemuan dengan bobot 4 sks per pertemuannya. Tiap semester diadakan 2 kali uji kompetensi lisan dan tulis; yaitu UK 1 yang dilaksanakan setelah 10 pertemuan (5 pekan) dan UK 2 setelah 20 pertemuan (10 pekan).  Jadi, setidaknya pada tahun pertama, mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon sudah menerima pembelajaran Bahasa Arab sebanyak 8000 menit dengan empat kali ujian lisan dan empat kali ujian tulis plus satu kali  placement test sebelum perkuliahan.

Alokasi waktu pembelajaran bahasa Arab secara intensif tersebut idealnya menjadi berkah bagi semua pihak, terutama bagi mahasiswa dan dosennya. Sayangnya, sejauh ini masih banyak mahasiswa yang menganggap mata kuliah Bahasa Arab sebagai momok. Mereka tidak memiliki motivasi yang tinggi saat mengikuti perkuliahan. Banyak di antara mereka yang sekadar ingin lulus saja. Akibatnya, apa yang menjadi tujuan pembelajaran mata kuliah Bahasa Arab tidak tercapai secara maksimal. 

Lalu apa sebenarnya tujuan mengikuti mata kuliah Bahasa Arab?

Mata kuliah bahasa tentu saja bertujuan meningkatkan 4 keterampilan mahasiswa dalam berbahasa. Buku Bahasa Arab 1 yang digunakan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon difokuskan pada kemampuan menyimak dan berbicara. Sedangkan buku Bahasa Arab 2 difokuskan pada keterampilan membaca dan menulis.

Pada  prakata kedua buku ajar Bahasa Arab IAIN Cirebon tersebut, Dr. Sumanta, selaku Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, berharap agar para dosen dapat membina mahasiswa dalam rangka meningkatkan kemampuan mereka memahami teks-teks keagamaan.

Pada umumnya, semua pihak di lingkungan PTAI mana pun di Indonesia mengakui bahwa salah satu kekurangan PTAI, baik negeri maupun swasta, termasuk STAIN, IAIN, bahkan UIN, adalah di bidang bahasa, khususnya Bahasa Arab.

Padahal Bahasa Arab bukanlah hal asing bagi kita selaku umat Islam. Ritual saalat fardhu lima waktu dan ibadah-ibadah lain telah mengkondisikan kita untuk rutin berbahasa Arab. 

Bukankah al-Quran yang tiap hari kita baca juga berbahasa Arab? Idealnya, sebagai muslim, kita mampu berinteraksi dengan al-Quran secara maksimal. Memang benar, sekadar membaca atau menghafal al-Quran sangatlah bagus dan dianjurkan. Tetapi tidak kalah penting adalah membaca untuk memahami pesan pesannya.

Dengan bekal keterampilan bahasa Arabnya, para mahasiswa di kampus Islam seharusnya memiliki amunisi lebih dibanding kompetitornya di kampus kampus non-Islam. Selain keterampilan bahasa Arab untuk kepentingan religius dan akademiknya, mahasiswa kampus Islam juga lebih berpeluang meningkatkan keterampilan bahasa arabnya untuk tujuan praktis, pragmatis, dan bahkan untuk tujuan ekonomis.

Tidak sedikit orang yang tulus mencintai bahasa Arab, selalu menjaga fokus dan semangatnya, terus berusaha meningkatkan kemampuannya, di kemudian hari mendapat limpahan berkah yang luar biasa, baik berupa keberkahan finansial, kedudukan, maupun ketenaran. Saya harus menyebutkan di sini, pertama, Prof HD Hidayat, seorang santri yang kemudian menjadi pakar dan penulis buku-buku ajar bahasa Arab, serta aktif mengajar di berbagai kampus hingga kini di usianya yang lebih dari 70 tahun. Kedua, Agus Maftuh Abegebril, santri yang menggemari bahasa dan sastra Arab yang kemudian jadi dosen, dan kini menjadi dubes RI untuk Kerajaan Arab Saudi. Ketiga, Prof KH Ma’ruf Amin, santri yang gemar bahsul masail dan sekarang menjadi wakil presiden RI.

Saya kira sangat mudah untuk menemukan tokoh-tokoh panutan lain di sekitar kita yang mendapat limpahan berkah belajar bahasa Arab. Kita semua bisa mengambil inspirasi dari mereka agar dapat menjaga motivasi, tidak antipati dan alergi terhadap bahasa Arab. 

Menjadi sebuah paradoks yang memilukan jika di lingkungan PTAI, mata kuliah Bahasa Arab justru tidak dirindukan. Kepada semua pelajar muslim, khususnya para mahasiswa di kampus-kampus Islam saya berpesan “pelajarilah bahasa Arab sebelum terlambat dan segera ajarkan sebelum engkau wafat”.

Semoga bermanfaat. Salam.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *