Oleh Mashuri Alhamdulillah, Peneliti Sastra Balai Bahasa Jawa Timur

: ngablak pagi

Saya pertama kali ke makam KH. Moh. Kholil bin KH. Abdul Latif (1820—1925) di Mertajasah, Bangkalan, Madura, pada bulan Ramadan tahun 2002. Saat itu saya baru saja selesai menempuh ujian skripsi S1 jurusan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga Surabaya –-setelah suntuk dan terbatuk-batuk di bangku kuliah selama 8 tahun!– dan kebetulan saya mendapatkan tugas kantor tempat saya bekerja di sebuah harian di Surabaya, untuk membuat liputan Ramadan terkait dengan pondok pesantren dan hal-ihwal yang terkait dengan kepesantrenan.

Saya pun memilih sosok KH. Moh Kholil, yang selanjutnya saya sapa dengan Syaikhona Kholil, sebagai pilihan pertama, karena beliau adalah arsitek pesantren penting dan terkemuka pada abad ke-19 dan ke-20 dan guru dari kiai-kiai besar di pesantren Jawa dan Madura. Saya berencana untuk meliput makamnya. Begitu saya menyodorkan pilihan calon liputan saya, redaktur saya bilang, “Mantap, jika makam pendiri pesantren. Hal itu karena makam Walisanga sudah bukan rahasia lagi. Sudah sering ditulis orang!” Yup, pintu terbuka lebar!

Saya langsung menggandeng kawan Madura saya, Ahmad Faishal, yang biasa disapa Acong. Kebetulan dia saat itu menjabat sebagai klebun alias lurah Teater Gapus, Unair. Kami berangkat dari Surabaya, usai jam orang terawih dengan naik sepeda motor berboncengan, meskipun kami sendiri tidak tarawih. Sebelum kami menuju pelabuhan penyeberangan kapal feri Ujung-Kamal, kami mampir ke rumah famili Acong di kawasan Bulak, Surabaya, yang memang merupakan perkampungan urban orang-orang dari Madura, yang biasa disapa masyarakat lainnya dengan Blok M.

Setelah itu, kami menuju kawasan Tanjung Perak, tepatnya ke penyeberangan Ujung—Kamal, yang buka 24 jam. Saat itu, Jembaran Suramadu masih dalam angan-angan. Terus terang, saat itu merupakan serba pengalaman pertama bagi saya. Saya pertama ke Madura, dengan demikian itu pun saya pertama kali menyeberangi Selat Madura. Dari Kamal, Acong melajukan motor ke arah Bangkalan kota. Penerangan jalan sangat minim, tetapi sepertinya Acong sangat hapal dengan kawasan itu. Hmmm. Dia memang arek Madura aseli, rumahnya di sebuah desa di Kecamatan Galis, dekat Tanah Merah, Bangkalan. Begitu memasuki kota Bangkalan, motor berbelok ke arah barat menempuh jalan yang lebih kecil dan lebih gelap. Sejurus kemudian, kami pun sampai di makam Syaikhona Kholil. Sesampainya di sana, waktu menunjuk lepas tengah malam, alias dinihari, sekitar pukul 12.30-an.

Pertama kali yang kami lakukan begitu tiba adalah makan mie instan rebus hangat dan ngopi. Setelah tandas, kami baru ke makam Syaikhona Kholil. Suasana makam benar-benar makam pada umumnya. Penerangannya remang-remang. Di areal makam, berdiri beberapa pondokan terbuat dari bambu. Saya taksir ada puluhan orang di sana. Sebagian beraktivitas memasak, sebagian rebahan, ada pula yang ngaji. Hmmm. Mengingatkan saya pada suasana pesantren tempo doeloe.

Ternyata, mereka memang benar-benar ‘santri’. Rata-rata mereka berasal dari luar Madura, mereka di sana dalam ‘rangka’ belajar. Yup, mereka para sarkub! Kami tidak bertahan lama di makam Syaikhona Kholil. Hanya sekadar umik-umik sebentar. Setelah itu, saya sibuk jepret sana jepret sini untuk kepentingan pembuatan laporan. Karena malam hari, bahkan dinihari, juru kunci tidak ada. Alhasil, saya menulis laporan pada keesokan harinya terkait dengan Syaikhona Kholil berdasarkan pada dua buku, yaitu Kharisma Ulama terbitan Mizan dan Surat Buat Anjing Hitam terbitan Pustaka Ciganjur.

Saya memang sengaja tidak mewawancarai para sarkub, karena tidak ingin mengganggu mereka. Sebagaimana yang sudah saya singgung, mereka sedang sibuk menyiapkan sahur, rebahan, dan selebihnya mengaji di tepi makam. Untuk memeroleh data tambahan, agar tulisan saya lebih kaya, saya mengorek keterangan dari Acong yang ia dapatkan dari kakek, nenek, dan orang tua di kampungnya. Sayangnya, saya tidak punya arsip terkait dengan tulisan saya tersebut. Sebuah penyakit laten bila terkait dengan pengarsipan tulisan!

Dalam kurun waktu lama, saya tidak pernah lagi ziarah ke makam Syaikhona Kholil, meskipun keinginan itu selalu ada. Baru sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2012, saya berziarah ke sana lagi. Saya sendirian dengan naik motor dan lewat Jembatan Suramadu. Kali ini siang hari. Saat itu, posisi saya lebih sering di Yogyakarta daripada di Surabaya.

Ketika sampai di areal makam Syaikhona Kholil, saya pangling sekali. Banyak yang sudah berubah. Bangunan makam dan tata letak sekitar makam sudah jauh berkembang. Masjid sudah berdiri megah. Lahan parkir sudah tersedia begitu lapang. Banyak toko souvenir buka. Gubuk-gubuk para sarkub, yang dulu sempat mencuri perhatian saya, sudah hilang.

Makam Syaikhona Kholil, Bangkalan (Sumber: rambah Google)
Makam Syaikhona Kholil, Bangkalan (Sumber: rambah Google)

Tujuan saya ke sana sebenarnya sederhana. Sebagai orang yang diamanati sebagai ketua komite sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), saya ditugasi para pengurus (DKJT) untuk membuat majalah sastra. Tugas itu tak kunjung saya eksekusi, salah satu penyebabnya karena kesulitan menentukan nama majalah. Sebagai orang tradisional, untuk menentukan nama tidak bisa sembarangan. Repotnya, saya tidak mampu menentukan nama secara mandiri. Akhirnya, saya berikhtiar dengan berziarah ke makam Syaikhona Kholil. Alhamdulillah saya mendapatkan sebuah nama lewat perenungan amatiran, sambil berputar-putar mencari pernak-pernik di toko asesoris yang marak di sekitar lahan parkir.

“Majalah sastra ini bergaya antara majalah dan jurnal. Semi-jurnal. Saya beri nama Suluk!” kata saya, di depan rapat pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur, pada keesokan harinya.
Saya masih ingat, pada saat itu, hampir semua mata peserta rapat terbelalak! Terpenosa, eh terpesona. Tanpa bertanya lebih jauh, mereka semua langsung menyetujuinya. Hmmm. Sungguh, tak ada seorang pun yang musykil atau menyanggah usulan saya. Wow! Saya sendiri merasa terheran-heran dengan temuan nama itu. Alhamdulillah, majalah “Suluk” hingga kini masih bertahan, meskipun tidak lagi saya yang menanganinya.

Meskipun saya sudah dua kali ke makam Syaikhona Kholil, saya belum merambah wilayah kreatif. Saya belum pernah menulis puisi atau prosa perihal ‘perjumpaan’ saya dengan Syaikhona. Terus terang, saya malu. Saya memilih menyimpan segala gejolak diri di dalam hati untuk konsumsi pribadi.

Baru pada tahun 2015, saya menulis puisi terkait ‘perjumpaan’ saya dengan Shaikhona Kholil. Mungkin jika sebelumnya saya malu, tetapi pada saat itu ‘maqom’ saya sudah malu-maluin, sehingga sudah berani menulis puisi ketika berziarah ke Mertajasah. Adapun peziarahan tahun 2015 itu, saya memang sengaja dari rumah di Sidoarjo. Saya datang bersama pasukan lengkap. Isteri dan tiga anak. Kami rental mobil sekalian sopir dari Sidoarjo. Kami berangkat lewat Jembatan Suramadu, dan pulangnya lewat naik kapal feri di penyeberangan Kamal–Ujung.

Seingat saya, kami ke sana pada hari Minggu, Januari 2015. Saya ke sana berbekal beberapa maksud. Pertama, saya barusan ujian tesis S2 Ilmu Sastra di UGM di Yogyakarta, yang termasuk sudah kadaluwarsa, karena seharusnya studi berlangsung 2 tahun, molor menjadi 5 tahun. Kedua, saya ingin mengenalkan tokoh hebat ke anak-anak saya. Ketiga, saya lupa.

“Kenapa ke makam Mbah Kholil?” tanya anak pertama saya, ketika mobil berhenti di parkiran makam Syaikhona.

“Beliau orang besar dan hebat. Kau tahu namamu Khalila itu dari mana?”

“Enggak!” kata Khalila, yang saat itu, sudah duduk di kelas dua SD.

“Namamu Khalila itu dari sini,” seru saya.

Yup, anak pertama saya perempuan yang lahir pada bulan Agustus 2008, menyandang nama Khalila Posmoderna adalah tafa’ulan pada Syaikhona Kholil, —meskipun ternyata ada nama anak tetangga yang masih famili, yang rumahnya persis di sebelah timur rumah orang tua di desa yang bernama Kholila juga.

Pada ziarah kali ini, mungkin karena saya merasa sok matang dari segi usia, saya memberanikan diri menulis puisi terkait dengan Syaikhona. Apalagi, saat di areal peziarahan, anak kedua saya Damar Resainan menunjukkan kelebihannya. Di sebelah utara makam, dia yang menolak duduk di bangku PAUD itu menuliskan namanya di atas tanah. Saya tertawa begitu melihatnya, meskipun ada sisi batin yang merasa gentar dan gemetar –berkumpar antara geletar masa lalu dan gelaran masa kini, saat itu. Puisi itu saya beri judul “Mertajasah”.

MERTAJASAH
aku tenggelam dalam kediamanmu
tanpa langgam waktu –di bilik itu
masih penuh lagu sahdu
notasinya mengingatkanku pada jalan panjang
yang pernah kau tempuh lewat ayat-ayat
nubuat, tembang-tembang samawat
aku gentar, gemetar, nyaris hilang sasar
meski di luar kamar, ilalang telah terbakar
dan masa lalu penuh madu itu seakan tercemar
di kamarmu, masih kudengar bait-bait Alfiyah
yang melampaui tata bahasa mata,
sarat sandi dan kilat rahasia
di tilasmu, masih mengalir gemericik mata air
yang tercurah dari sumur keramatmu
kubaptis pengetahuanku ke ritmis syiirmu
tanpa ragu, meski aku hanya serdadu
berbekal senapan tak berpeluru
Bangkalan, Januari 2015

Tiga tahun kemudian, pada akhir tahun 2018, saya ‘ketiban sampur’ sebagai ketua panitia Revitalisasi Sastra Madura, di Bangkalan Madura. Sungguh, saya sok sibuk sehingga tidak berziarah ke makam Syaikhona. Tetapi, pilihan lokasi di Bangkalan, salah satu alasannya memang mempertimbangkan bagaimana masa lalu di Pesantren Kademangan, Bangkalan, adalah tempat skriptorium dahsyat. Bahkan, sebuah sumber menyebut, Syaikhona juga mengarang syiir-syiir Madura —begitu pula dengan salah satu santri kesayangannya KH. As’ad Syamsul Arifin yang menulis Syiir Madura di pesantren tersebut. Bahkan, dalam sejarah tercatat, bahwa Syaikhona memandang lebih pada soal kebahasaan, termasuk kepiawainnya dalam penguasaan nazam-nazam Alfiyah, yang tidak sekadar sebagai tata bahasa Arab semata.
Ketika di lokasi acara, tepatnya di auditorium STKIP PGRI Bangkalan, entah bagaimana prosesnya, saya menulis puisi terkait dengan kondisi kekinian saya dan baying-bayang warisan masa lalu. Di dalamnya, ada gelisah, ada harapan, dan ada impian yang masih terbengkalai. Saya membingkainya dengan judul “Mata Yang Lain”.

MATA YANG LAIN
antara Bangkalan–Surabaya, kurayapi tilas sejarah
kucing hitam mengeong di aorta —dekat dada
mencari jalan pulang yang membentang
dari Mertajasah ke Ampeldenta
aku pun tersedak oleh suara-suara
seperti pemabuk ulung dipaksa menenggak arak mentah
cakar-cakar kucing semakin liar
mengaduk pembuluhku
o palung jantung, di mana pusar segala getar
o tali nyali, di mana waktu kalis dari hantu sasar
o dunia kini, aku hanya butuh ruh cinta penuh atsar
perempuan bangkit dari kubur hatiku
jantungnya busuk, penuh lumpur dan belatung
ia meraung seperti seorang ibu yang kumat ayan dan linglung
: “jika jalanmu cinta,
kenapa kau berhitung soal luka?”
aku diam seperti blantik sapi
dengan mulut ditimbun tahi andini
o akar mimang waktu, aku hanya ingin arah kembali
tapi kenapa rambu seperti kitab lama
tak lagi dapat dibaca sebagai tanda
aksaranya berlari ke balik bilik malam
aku pun bertugu di perempatan
membaca kiblat luka saudara empat
—kakang kawah, adi ari-ari, darah, dan pusat
tapi di jalan, anjing-anjing berkejaran
seperti serdadu Tartar dan punggawa Ranggawijaya
aku pun menyalakan lagi dupa
menabur kembang tujuh rupa
lalu bermantra Jawa Kuna
mengundang dahnyang Selat Madura
sebagai penguasa peta air-tanah
ketika bibirku mulai merapal bahasa mati
pria berkepala kuning
—yang muncrat dari darahku
menyumpal mulutku
dengan biru bismillah
ia seperti sultan tempo dulu
menghardikku serupa budak tak laku
: “kau dilahirkan bukan sebagai penempuh jalan
tapi pemiliknya!”
dadaku pun terbelah
netra tumbuh tanpa pupil dan retina
kulihat jalan setapak membentang di atas lautan
galurnya bersimbah air mata, darah, dan jerit lelawa
kusaksikan maut telah mendahului waktu
dan bumi letih beredar di porosnya sendiri
berderit mengelilingi matahari
tanpa nyala api
kini, di atas jembatan
mayat-mayat berlalu-lalang
dengan wajah dipenuhi kemaluan
di bawahnya, aku berlari menyusuri pantai
mencari delta terjanji
tanpa pakaian dan alas kaki
di hati, kucing hitam mengandangkan diri
di kanan-kiri,
buaya-buaya sungai berbaris serupa tentara
dan hiu ganas memenuhi samudera
Bangkalan, 2018

Setahun kemudian, pada tahun 2019, ketika saya menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan, sosok Syaikhona kembali membayang dalam ingatan saya, meskipun lagi-lagi saya tidak berziarah ke makamnya. Saat itu, entah kenapa, saya merasa diburu jadwal. Saya melakukan serangkaian acara marathon dari Jakarta, dalam rangka sebagai juri Festival Literasi, lalu langsung menuju Bangkalan. Kebetulan, saat itu, saya dipercaya sebagai salah satu pemateri bersama dengan dua kawan, Tia Setiadi dan Dadang Ari Murtono.
Ketika saya menyeberangi Jembatan Suramadu, tergambar kembali sosok Syaikhona dalam imajinasi dan memori saya –-berbagai kelebihan dan keunikannya, yang bersatu dengan kondisi kekinian saya yang kalang-kabut dan sok sibuk. Ingatan masa lalu itu kembali mencuri dan menggoda kekinian saya yang terkesan tenang, tetapi kian rapuh..

GRAMATIKA SELAT MADURA
aku menatap ke balik matahari terbit. suramadu membayang laksana tali raksasa dalam lakon wayang ramayana. semilir angin melentingkan harapan. ole olang, ole olang, ole olang. kujelang bangkalan seperti kanak-kanak yang sudah hapal tasrifan: ‘qama yaqumu qouman’. bibit puisi terbit dari lahan sepi, merupa bukit kapur, tanah merah, rembang asta-asta tinggi yang bersajak melebihi kata-kata dan sunyi dada
tapi di belakang, terselip di bilik ingatan, membayang bibir-bibir bocah, dengan kepala berkopyah, menembangkan bait-bait alfiyah —suaranya menggunting takdir ke balik tabir sejarah. di pelupukku, air mata menggenang serupa doa tua, alfatihah, dan bening yasin, yang membentur mistar-mistar mertajasah. ada yang melayari waktu, batu, dan selat kini menyatu. mirip gurita mengendap-endap di dasar laut gelap, gulita, banjir air dan tinta.
di tepi sabar, aku bertahan dari godaan laut berkibar. orang-orang menyusun bantal dari gemulung ombak dan cicit camar –dalam khayalan. ada tilas terpenggal di antara ampas matari, mimpi dan gerak hati, seperti corak batik madura di secarik jarit yang membungkus pinggul sintal dan sentausa, bergegas menuju padang karapan dan luka.
aku menatap ke arah matahari terbit. dari radio, salawat nabi mengasapi ruang sempit. hatiku sangit, penuh karbit. kusaksikan cakrawala sakit. aku pun menjerit: meledaklah kau, langit!
Suramadu, 2019

Di tempat acara digelar, yaitu di Pendopo Wakil Bupati Bangkalan, tepat saat puisi dirayakan oleh para sastrawan dan pemerhati sastra, entah kenapa saya merasa dihantui sunyi dada. Ada rongga kosong di dalam diri, yang menuntut untuk segera diisi. Saya pun mojok sendiri, sambil merokok Djisamsu, saya pun hibuk dengan gawai. Apalagi, ‘petaka’ politik yang pernah berlangsung di Bangkalan, menyeret ingatan saya seperti sepiring porsi Sate Madura siap saji. Saya teringat dengan sebuah insiden beberapa tahun sebelumnya, ketika pada suatu malam, saya ditelepon seorang kawan jurnalis dari Jakarta. Saya diminta mengomentari insiden penyegelan makam Syaikona Kholil, yang ternyata yang disegel sementara ‘hanya’ masjidnya dan makamnya selalu terbuka. Yeah, kala itu, saya mengatakan pada kawan jurnalis tersebut, saya tidak dapat memberi keterangan. Saya tidak punya kapasitas untuk itu. Saya ini siapa…

Dari tumpang-tindih ingatan rumpang dan kekinian yang berhumbalang, lahirlah sebuah puisi ihwal tanah Bangkalan sebagai ‘Bumisakra’. Puisi sederhana ini pernah dimuat sebuah koran, pada tahun 2019.

BUMISAKRA
di tanahmu, aku mengutip sajak-sajak tua, yang telah menjadi kerlip kartika. mungkin sebagian sudah mati, tapi kilaunya masih membentuk gugus rasi —yang menjadi penuntun bagi pengarung laut sepi. aku pun mudik ke balik bebayang —menyaring rima dan kata dalam kegelapan, merebut sejumput diksi dari dunia terang kenangan. tapi yang ada hanya debu, mengubur rongsokan masa lalu. ketika bebayang hilang, kusaksikan namamu menjulang di puncak bukit, sedangkan di kaki-kakinya bulan disabit. bahkan ketika bintang jatuh, bumi mengeluh, riuh, dibuldoser atas namamu…
Bangkalan, 2019

Begitulah. Entah kenapa setelah tahun 2015, saya belum berziarah lagi ke makam Syaikhona Kholil, meskipun saya beberapa kali ke Bangkalan. Terkadang, ketika di sana, saya hanya berkirim umik-umik sekadarnya, seperti seorang santri desa yang tak kunjung fasih membahasakan degup, derit, dan derak dada. Semakin ke sini, saya tahu penyebabnya. Sungguh, saya malu telah lancang menuliskan kelebatan ‘perjumpaan’ saya dengan Syaikhona dalam puisi-puisi saya, yang selalu saja belum menunjukkan kedewasaaan. Puisi-puisi yang tidak jernih, gelisah, dan penuh cipratan noda…

On Sidoardjo, 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *