Oleh Mashuri Alhamdulillah, Peneliti Sastra di Balai Bahasa Jawa Timur

: ngablak pagi

“Tentara Majapahit kemudian mengepung tentara Tuban dari tiga jurusan, dari timur, barat, dan utara. Masing-masing pasukan di bawah pimpinan Mahisa Anabrang, Gagak Sarkara dan Mayang Sekar. Pasukan yang menyerang dari jurusan timur, di bawah pimpinan Mahisa Anabrang, segera terlibat dalam pertempuran. Mahisa Anabrang kehilangan kudanya, tentara Majapahit dipukul mundur. Mahisa Anabrang yang berhasil melepaskan diri dari maut, menghadang Ranggalawe di tepi Sungai Tambak Beras bersama kuda barunya merendam di dalam air, untuk menyegarkan kembali badannya. Mendadak Ranggalawe, yang mengendarai Nila Ambara, menyambarnya. Kuda Nila Ambara kena tusuk tombak. Rangga Lawe jatuh ke dalam air, namun berhasil memanjat karang padas.”

Kidung Ranggalawe

Begitulah nukilan Kidung Ranggalawe merekam pertarungan penguasa Tuban terpopuler, legendaris dan kontraversial, yaitu Raden Harya Ranggalawe, vis a vis Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang. Keduanya sahabat dekat, teman seperjuangan dalam membantu Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit pada 1263. Kisah pertarungan dua sahabat itu menjadi klasik dalam sejarah politik Jawa karena nilai persahabatan itu mencapai titik nadir, lalu saling bermusuhan, dan saling berperang —atas nama kekuasaan dan harga diri. Hidup keduanya berakhir tragis. Keduanya sama-sama menghembuskan nafas terakhir di aliran Kali Tambak Beras, Jombang, dengan tubuh koyak, karena setelah Mahisa Anabrang berhasil menghabisi Ranggalawe, ia kemudian dibunuh oleh teman seperjuangan lainnya, Arya Lembu Sora.

Mungkin peristiwa itu adalah sebuah kaca benggala luar biasa, tetapi saya tidak mau mengarahkan ke arah sana. Pasalnya, sejak zaman baheula, bangsa kita sering terjangkit penyakit amnesia. Setelah peristiwa tersebut, penguasa Tuban digantikan oleh Raden Haryo Sirolawe mulai tahun 1295–1306. Sirolawe adalah putera Ranggalawe. Kisah Ranggalawe itu menjadi abadi karena hingga kini masih dapat ditemui dalam beberapa naskah dari keropak, daun lontar, dluwang, dan tersimpan di museum dan perpustakaan, bahkan terus disalin dalam tradisi filologi Jawa Kuno di Bali.

Ranggalawe, sering pula tertulis Rangga Lawe atau Ronggolawe, bukan nama asing di pentas sejarah Jawa. Kitab-kitab sejarah kuno yang ditulis para pujangga masa lalu, semisal Kidung Wijayakrama, Kidung Harsya Ranggalawe, Pararaton dan Negarakertagama, juga Babad Tuban, menyebut tokoh tersebut sebagai penguasa Tuban, sebuah wilayah semiotonom di bawah Pemerintahan Majapahit. Ahli sejarah masa kini bahkan meyakini Ranggalawe-lah penguasa pertama Kadipaten Tuban, bukan Arya Dandang Wacana dengan keratonnya di Desa Prunggahan, sebagaimana yang selama ini dipercaya sebagian besar masyarakat Tuban sebagai Adipati Tuban pertama.

Nama itu juga tidak asing bagi saya. Saya merasa karib dengan Ranggalawe. Saya juga tidak tahu sebabnya karena pelajaran sejarah ihwal tersebut juga absen dari sekolah dasar—menengah. Bagi generasi saya, kisah-kisah tersebut memang karib di telinga, terutama lewat sandiwara radio yang pada masa itu, tahun 1980—1990-an, di puncak kejayaan. Tema-tema sejarah menjadi bahan kreasi para penulis naskahnya. Di antaranya yang kondang adalah Saur Sepuh dan Tutur Tinular. Sandiwara radio pun menjelma sarana hiburan paling dekat dengan rakyat jelata, dari kalangan akar rumput terbakar, seperti saya.

Mungkin kedekatan saya dengan sosok tersebut karena saya seringkali berziarah ke makam Ranggalawe setiap kali punya kesempatan bertualang di Tuban. Apalagi di dalam cungkup makam, terdapat beberapa makam tokoh lain, yang menurunkan tokoh-tokoh lain, selain Rangglawe, yang memang dikenal dalam sejarah. Bahkan, sejak masa sekolah menengah atas. Dengan cara izin kemah selama tiga hari, saya pun blusukan ke beberapa tilas masa lalu Tuban, di antaranya adalah makam pembesar Tuban awal Arya Dandang Wacana di Prunggahan dan tentu saja nyambangi kompleks makam Ranggalawe di sebelah barat kompleks makam Sunan Bonang. Saya sama sekali tidak merasa isykal saat itu ketika menemukan makam Ranggalawe sudah berbentuk makam Islami.

Namun, setelah hijrah di Surabaya dan mulai gandrung membaca sejarah lama via naskah kuno, saya pun mulai bertanya-tanya bagaimana bisa makam Ranggalawe berbentuk nisan, bukankah masa-masa itu masih memeluk keyakinan lama. Ketika pada tahun 2001, saya berkesempatan ke sana, saya berusaha menanyakannya pada juru kunci yang lama.

“Makam Ronggolawe kok pakai nisan, Mbah?” tanya saya.
“Saya sudah mewarisinya dalam kondisi seperti sekarang, Nak. Mungkin dulu, memang di sini diperabukan jasad Eyang Ronggolawe. Namun, pada masa-masa selanjutnya, dibentuklah nisan, sebagai tetenger,” seru juru kunci lama, yang kini sudah wafat.

Saya pun berusaha memahaminya. Tetenger atau tilas masa lalu itu penting sebagai memorabilia, agar mudah menautkan kenangan yang memang secara sunnatullah mudah hilang dan rapuh. Terlepas soal nisan, dari juru kunci tersebut saya tahu perihal patung kuda Nila Ambara yang kakinya diangkat dua, yang menjadi lambang Kabupaten Tuban. Menurut dia, selain sebagai lambangan perjuangan dan heroisme, patung kuda dengan model tersebut merupakan pralambang sungkawa.

“Itu menunjukkan bahwa penunggang kuda dan pemiliknya wafat di medan perang. Hal itu berbeda dengan patung kuda Pangeran Diponegoro. Kaki kudanya diangkat satu. Itu lambang kekalahan atau takluk tetapi tidak sampai meninggal di peperangan,” tandas dia. “Mungkin jika ada patungnya, sama dengan nasib Gagak Rimang, kuda milik Raden Arya Penangsang,” lanjut dia.

Saya pun sempat merekam jejak patung kuda Nila Ambara di alun-alun Tuban, yang kini sudah hilang. Bahkan, karena cerita tentang kuda Ranggalawe yang seksi, saya pun menyatroni bekas istal kuda tersebut yang menjadi bangunan pemerintahan Tuban. Sahdan, berbagai mitos menyelimuti sebuah ruangan di sana, yang memang berwatak istal, alias pantang untuk dibersihkan.

“Meskipun kotor, tidak boleh disapu, Mas. Dulu itu kandang kuda Ronggolawe,” tegas sebuah sumber, seorang kawan dari Tuban. “Dulu, ada seorang pembesar yang mau menghilangkan ruangan itu, tetapi akhirnya batal,” lanjt dia.

Tidak sampai di sana. Saya pun melacak tukang angon atau penggembala dan perawat kuda Ranggalawe, yang dalam bahasa Jawa disebut pekathik. Makam pekathik Nila Ambara berada di dekat gerbang makam kompleks Ranggalawe, yang ditandai dengan sebuah pohon beringin tua, yang batang bawahnya sudah keropos. Ditandai dengan nisan yang dibungkus mori putih. Namun, pada 2014, ketika saya melacaknya lagi, ternyata saya tidak menemukan tilas pekathik tersebut.

Yup, pada 2014, saya ke kompleks makam Ronggolawe lagi. Suasananya sudah berbeda. Muncul gerbang dan bangunan baru di areal makam, meskipun bangunan makamnya masih tetap seperti dulu. Saya pun tidak lagi bertanya perihal bentuk makam Ranggalawe ke juru kunci baru atau pengganti, yang merupakan anak laki-laki juru kunci lama. Yang melegakan, juru kunci ini cukup fasih berkisah dan berusaha merasionalisasi kenapa Ranggalawe ada makamnya.

“Memang, tidak semua ‘makam’ tokoh di dalam itu berasal dari zaman Islam, Mas. Saya sendiri tidak punya kapasitas untuk menjelaskannya lebih jauh. Yang saya pahami mengingat jasa baik dan sejarah nenek moyang itu baik. Jadi, diniati saja dalam kerangka itu,” tutur juru kunci, berkaca mata tersebut.

Sementara itu, keberadaan Tuban sebagai sebuah geokultur memang jauh lebih dulu daripada Majapahit. Beberapa prasasti yang telah ditemukan para arkeolog menjelaskan bahwa sebelum ditetapkan bernama Tuban, daerah ini bernama Kambang Putih. Bukti yang memperkuatnya adalah Prasasti Kambang Putih yang diperkirakan dibuat pada masa putera Prabu Airlangga, yaitu raja Jenggala, Panji Garasakan, jauh sebelum Majapahit berdiri. Nama Tuban sendiri diperkirakan baru dipakai secara resmi pada 1293, setelah Ranggalawe dinobatkan sebagai penguasanya oleh Raden Wijaya, Raja Majapahit pertama.

Bukti-bukti sejarah yang memperkukuh posisi Kabupaten Tuban di kancah Nusantara begitu melimpah, mulai dari prasasti, naskah-naskah kuno dan berita dari asing (Cina). Prasasti yang ditemukan di wilayah Tuban antara lain Prasasti Kambang Putih, Prasasti Malenga, tertulis 974 saka atau 21 Agustus 1052, Prasasti Banjaran (bertuliskan angka 974 saka atau 31 Agustus 1052), dan Prasasti Tuban (I dan II berangka 1355). Sebagian prasasti sudah dipindah ke Museum Nasional. Tuban juga terdapat dalam Prasasti Kudadu dan Penanggungan (1296). Adapun berita asing yang menceritakan tentang keberadaan Tuban adalah Berita Cina oleh Ma Hua dalam buku Ying Yai Shing Lan.

Dari beberapa sumber yang dengan tegas menunjukkan keberadaan pemerintahan di Tuban pada awal Majapahit adalah Kidung Ranggalawe pupuh XXV/22–23, Kidung Harsa Wijaya dan Prasasti Kudadu. Kidung Ranggalawe pupuh XXV/22 menceritakan tentang kepulangan Ranggalawe dari Madura ke Tuban, sedangkan pupuh XXV/23 menceritakan bahwa ketika pengangkatan Raden Wijaya diikuti pula pengangkatan tujuh pengikut setianya, salah satunya adalah Ranggalawe.

Kidung Harsa Wijaya menceritakan tentang pengangkatan Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit yaitu pada 12 November 1293 beserta para punggawa-punggawa. Kisah pada Kidung Harsa Wijaya kemudian diperkuat dengan adanya Prasasti Kudadu yang berisikan tentang punggawa-punggawa Majapahit. Oleh karena itu, tanggal 12 November 1293 ditentukan sebagai hari kelahiran Kabupaten Tuban dan dianggap sesuai dengan tanggal-tanggal dalam sumber-sumber sejarah —dengan cara komparasi antarsumber.

Perlu diketahui, meski dalam beberapa sumber tersebut Ranggalawe terlibat pemberontakan, tetapi bagi masyarakat Tuban, ia adalah seorang pahlawan. Sebelum dia diperintah ayahnya, Arya Wiraraja, untuk membantu Raden Wijaya, dia adalah penguasa Kamal, Madura. Salah satu puisi saya yang bersumber dari kisah ini adalah “Trah”, yang saya tulis pada tahun 2014, blusukan mutakhir saya di kota seribu wali tersebut. Puisi itu pernah dimuat Kompas pada 2014 dan saya ikutkan dalam buku puisi saya Dangdut Makrifat (Basabasi, 2018)

TRAH

Darahku tumpah di lumbung kampung Tunjung
di gigir selat Madura
aku pun disebut rangga, putera Wiraraja
tapi kau pernah tak mengerti kenapa aku menuntut janji
tidakkah kau tahu, di tanahku
‘lebih baik berputih tulang daripada berputih pandang’
aku seakan kaukutuk sebagai pengikut, seperti rumput
dan debu tempat kaki pengikutmu dan
ladam kaki kuda menyepakkan tinjanya

tidak ingatkah di Terik, ketika rembulan belum terbit
aku telah menyulut karbit, agar buah-buah maja
tak semakin pahit, dan buah-buah yang masih mentah
bisa disajikan di meja jamuan

Kau menyebut dirimu trah rembulan, karena malam
tak mempersilahkan rembulan lain singgah
bintang-bintang kaurakit menjadi gugus galah
di bentang angkasa –kuasamu
yang mengekalkan dirimu sebagai pusat cahaya
semacam purnama di angkasa raya
rasi itu membentuk mimpi-mimpi
dari satu titik kota ke titik kampung lainnya
dan kau nisbatkan mereka dengan trah bintang

Tuban, 2014

Terlepas dari puisi “Trah”, ternyata kedekatan saya dengan Ranggalawe berkorelasi dengan keseharian, alias berbuntut panjang. Buntut pertama, saya memiliki kawan karib dari Jatirogo Tuban, yang dari dia saya tahu bahwa di kawasan tersebut masih tersimpan beberapa tinggalan Ranggalawe, di antaranya adalah payung songsong dan beberapa pusaka.

“Pada hari-hari tertentu, tinggalan Ranggalawa itu dirawat atau dijamas, Mas,” terang dia.

Berkali-kali saya ingin mendatangi acara perawatan benda pusaka yang dihelar tiap bulan Suro atau Muharam, tetapi tak kunjung terlaksana. Buntut kedua, pada suatu hari, saya mendengar kabar bahwa moyang isteri saya berasal dari Tuban. Saya pun konfirmasi pada isteri perihal itu.

“Benarkah kakek buyut berasal dari Tuban?” tanya saya.
“Benar. Kami memang punya keluarga di Tuban karena Buyut berasal dari Jatirogo. Konon, beliau dekat dengan cerita-cerita Ronggolawe!” jawab dia.
“Apa?!”

Terlepas dari persoalan buntut tersebut, saya memang sering menziarahi sejarah Tuban, terutama Ranggalawe dan anak turunnya yang termaktub dalam kitab Babad Tuban, yang diterbitkan oleh sebuah penerbit jadul dari Kediri, Tan Khoen Sie, pada 1936. Dari sanalah, saya menulis sebuah puisi berjudul “Kutu Majapahit”. Entah kenapa, pada saat pandemi mulai menari-nari di udara, dan saya sowan ke sebuah pesantren tua di Jawa Timur, yakni Tebu Ireng Jombang, saya seperti kesurupan dengan ruh dekonstruksi. Saya pun melihat betapa sejarah yang saya ziarahi itu demikian raksasa, meskipun beberapa detailnya berada pada wilayah rahasia, tetapi tetap berposisi istimewa dalam bangun sejarah Jawa.

Mungkin karena saat saya di Tebu Ireng, ingatan saya terseret ke arus sungai Tambak Beras –sebagaimana yang saya nukil di awal ngablak, yang siapapun tahu di Tambak Beras juga berdiri sebuah pesantren besar dan legendaris. Begini jadinya puisi tersebut.

KUTU MAJAPAHIT

: Babad Tuban

ia masih muda
tapi darahnya tua
ia masih bertrah kutu
nilam umbara
kuda berbulu wulung
—turangga ranggalawe agung
kini diarcakan di batas kota
tuban
kaki depan terangkat dua
hitam
menantang angkasa

usai maut merenggut sang tuan
di bengawan deras
tambakberas
ia membaca silang silsilah
bukan dari lontar, dluwang
pelepah pisang
atau batu tulis
tapi dari bulu kuda
bekas tunggangan anabrang
nambi
gayatri
suhita, hingga kertabumi
kerna ada koloni
para saksi
dari dinasti ke dinasti
terselip antara ekor dan surai

  saat pralaya

ia mendekam di surai kuda
punggawa rendah
kelahiran jatiraga
–abdi kinasih brawijaya purna
ketika arak-arakan balaraja
migrasi
dari timur lazuardi
ke tepi laut di perut jawa
melengkung ke utara
pasca kadiri —wangsa girindrawardana
menyulut api
di trowulan
yang mulai sepi

begitu tiba di kambang putih
rombongan pelarian
bermalam di lereng bukit kapur
tepi pantai
ia mewartakan mimpi
nujum
uzur
pada kanak-kanaknya yang letih
‘kelak, demak
menjadi jejak sang bintara
memboyong ulang pusaka
pendulang nyanyian
berbirama nirwana’

ia pun menghembuskan nafas
penghabisan
di batas tapal
hembusan angin laut
mirip moyangnya
di tanah muasal
tempat bonang menyemaikan
tembang-tembang bernotasi
sunyi lumut
tilas selo sujud

tapi ada yang luput
dari netra sang kutu
bermulut lembut itu
bahwa kuda-kuda di Jawa
ada dari mongolia, sumbawa
india, sumatera,
dan belah lain dunia
mereka menjadi persembunyian
penumpang gelap
kutu
yang kian membuat gatal
juga memberi kesaksian
dari delapan penjuru
mata bayu

Tebu Ireng, 2020

Demikianlah, peziarahan sejarah dari seorang amatir, yang kadang hanya kuasa membuhulnya dalam puisi getir —sebagaimana akhir takdir sang tokoh yang dikenal memiliki kesaktian langka: ajian brajamusti, alias pukulan petir. Blar!

MA
On Sidokepung, 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *