Oleh Ati Latifah*)

AKU adalah mahasiswi baru (Maba) di kampus Institut Agama Islam Cirebon angkatan 2020. Karena ketinggalan informasi terkait kegiatan awal di kampus, aku gak ikutan masa kuliah ta’aruf (perkenalan) bareng teman-teman Maba lainnya. Sedih. Padahal aku termasuk pendaftar awal di kampus. Saat itu, kampus untuk pertama kalinya ditutup karena penyebaran wabah virus corona telah masuk ke Indonesia.

Satu bulan sebelum aktif kuliah, pada suatu siang terasa ada getar berasal dari gadgetku.

“Assalamualaikum, apa benar ini dengan Teh Ati Latifah?” Satu pesan singkat melalui aplikasi berwarna hijau dari telpon pintarku.

Pesan itu dari Dinda Alfia Noki, satu-satunya temanku yang paling cuantik di Prodi HKI IAI Cirebon. Ya, karena cuma kami berdua kaum hawa di Prodi HKI angkatan 2020. Yang lainnya kaum adam.

Singkat cerita, dia mengajakku untuk bergabung di UKM SLI. Karena dia tahu aku belum dapat informasi apa pun terkait UKM-UKM di IAIC, sedikit dia jelaskan tentang UKM SLI yang dia ketahui saat kuliah ta’aruf. Dengan penjelasan singkatnya, sudah cukup meyakinkanku untuk segera bergabung di UKM SLI. Saat itu, dia gak ngasih tahu kalau pembina SLI itu adalah Kaprodi HKI juga.

Tahap demi tahap, aku diminta mengirim tulisan berupa profil pribadi dan alasan kenapa masuk ke UKM SLI. Akhirnya aku dinyatakan resmi menjadi anggota UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon. Alhamdulillah.

Awal mula berada di WA Group SLI, aku cukup hanya menjadi pembaca dan penyimak yang baik. Karena bagiku, pembahasan di sana maqamnya sudah tinggi, baik dari segi tema yang dibawakan oleh setiap narasumber, maupun dari segi teknik penulisan. Apalah dayaku yang masih newborn.

Aku coba pahami setiap kritik dan saran yang disampaikan oleh pembaca kepada narasumber yang bertugas. Aku pahami kata perkata dan koreksian tulisan dari narasumber yang disampaikan pembina SLI. Rasanya ngeri-ngeri sedap lah.

“This is so scary,” dalam hatiku berkata, sembari berharap semoga aku tidak berada pada posisi narasumber pada suatu hari nanti. Sebab, aku ngerasa belum siap aja, ngebayangin gimana rasanya dikritik kayak gitu.

Namun, harapanku sepertinya tidak diijabah oleh Allah. Gak ada angin, gak ada hujan, tiba-tiba salah satu pengurus UKM SLI menghubungiku, meminta aku untuk menggantikan narasumber yang tidak bisa hadir di diskusi online WAG SLI. Udah ngarep-ngarep gak dapat tugas, eh malah ditugasin dadakan di luar jadwal (kena mental gak tuh).

Mau gak mau, siap gak siap, bismillaah aku terima permintaan pengurus SLI untuk mengirimkan tulisan dan menjadi narasumber saat itu. Jangan ditanya “macam mana perasaanku saat itu.” Berasa kayak lagi di acara uji nyali. Takut, degdegan, dan malu juga. Karena bikin tulisan itu saat kondisi badan lagi kurang fit, jare wong cerbon mah, padu dadi bae tulisane (asal jadi saja tulisannya).

Tapi bukan berarti asal-asalan juga nulisnya. Hanya saja merasa gak pede aja gitu.
Setelah tulisan dikirim ke WAG SLI, dimulailah sesi tanya jawab berikut juga kritik dan saran. Di situlah mentalku diuji.

Kritik dan saran mulai disampaikan oleh para pembaca di WAG SLI, tidak luput pula kritik dan saran dari bapak pembina SLI, yang bikin jantung mau copot.

Alhamdulillah kritik dan saran yang disampaikan sangat membangun. Soal manfaat jangan ditanya, semua yang disajikan di WAG SLI isinya sangat-sangat bermanfaat. Baik dari segi tulisan yang disajikan oleh narasumber, kritik dan saran, maupun pengalaman-pengalaman yang juga disampaikan oleh semua warga WAG SLI.

Sejak saat itu, aku benar-benar merasa termotivasi untuk bisa menulis lebih baik lagi. Mentalku pun semakin terbentuk dengan matang, bahwa kita tidak perlu takut dan malu untuk belajar, dan untuk mencoba. Karena takut dan malu tidak akan bisa membuat kita maju, tidak akan membuat kita tahu sampai dimana kemampuan kita?!.

UKM SLI membuatku semakin lebih percaya diri untuk memulai belajar menulis dengan baik dan benar, menambah ilmu, wawasan, pengalaman dan yang lebih berharga lagi buatku adalah aku menemukan keluarga baru di UKM SLI. Ditambah lagi dengan diberikannya kepercayaan dari pembina SLI dan pengurus dengan mengikutsertakan aku di Tim Podcast UKM SLI.

Masya Allah terima kasih yang tak terhingga untuk UKM SLI.
Semoga semakin berjaya di darat, di laut dan di udara, semakin menebar manfaat, ilmu dan segala kebaikan. Yaumil Milad UKM SLI. Semakin panjang umur untuk kemajuan Kampus IAI Cirebon dan mahasiswa/inya.

Salam Literasi
Ukir Sejarahmu dengan tulisan

Talun, 23 Juli 2021

*) Ati Latifah, anggota UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon, Sekretaris Hima Prodi HKI IAI Cirebon, tinggal di desa Cirebon Girang Talun

Bagikan tulisan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id