Oleh Yunia Kusminarsih, Guru Bahasa Indonesia di al-Nahdlah Islamic Boarding School Pondok Petir Depok

Gelisahku tak seperti bintang di langit saat menanti hari akan pagi. Gelisahku tak seperti gelisah Vina Panduwinata menanti cintanya yang dilantunkan dalam lagunya berjudul “Kasmaran”, lagu yang sempat hit pada tahun 1983 ini mengantarnya ke gerbang kesusesan.

Aku gelisah karena melihat tingkat membaca muridku yang rendah yang berimplikasi pada kemampuan menulis mereka. Bagaimana tidak, dari 23 siswa per kelas yang terlihat kemampuan menulisnya hanya 7-10 orang. Itu berarti hanya 30%-40% dari yang kemampuan menulisnya bagus. Hal tersebut tidak bisa kubiarkan begitu saja. Aku harus berusaha agar siswa yang memiliki kemampuan menulis menjadi bertambah.

Sebagai guru Bahasa Indonesia mereka, tentu aku merasa khawatir. Jika keadaan tersebut berlanjut, akan membuat mereka mengalami kesulitan di tingkat selanjutnya. Beberapa informasi yang berhasil kukumpulkan dari mereka terkait sebab mereka tidak bisa maksimal menulis adalah karena tingkat membaca mereka rendah. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan buku di perpustakaan sekolah yang minim. Yang ada pun tidak variatif, tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.

Kebanyakan koleksi yang ada di perpustakaan sekolah adalah buku-buku yang tingkat keterbacaannya oleh siswa sangat rendah. Siswa susah memahaminya, karena jenis bukunya yang tidak sesuai dengan kemampuan kognitif mereka. Artinya isinya terlalu berat untuk mereka cerna. Sedangkan yang mereka inginkan adalah buku-buku pengetahuan yang dikemas dengan bahasa yang ringan dan populer.

Perpustakaan sekolah saat ini lebih banyak menyediakan buku-buku materi ajar. Sedangkan pengetahuan umum (non fiksi) sangat sedikit. Apa lagi buku-buku fiksi (sastra) seperti cerpen, novel, puisi dan naskah drama, masih sangat jarang, kalau tidak mengatakan tidak ada. Hal ini membuat siswa kurang bahan, jika akan mengerjakan tugas dari guru.

Jaringan internet sekolah yang kadang tidak stabil untuk mengakses e-book atau informasi yang dibutuhkan juga menjadi kendala. Selain itu, laptop atau komputer yang terbatas juga menjadi faktor penyebab sulitnya mereka menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Hal ini sebenarnya bukan faktor utama, karena siswa masih bisa menuangkan gagasannya dengan cara menulis dengan tangan di kertas. Toh zaman dahulu sebelum kertas, mesin ketik, mesin cetak, dan media elektronik ditemukan, mereka (penulis-penulis yang melegenda) seperti Ibnu Sina, Ronggo Warsito, dan lain sebagainya menulis dengan tangan di atas papirus dan daun lontar yang dikenal dengan sebutan manuskrip.

Lantas apa yang bisa aku lakukan agar keluar dari kegelisahanku? Apa yang bisa aku lakukan untuk menumbuhkan budaya literasi siswa di sekolah?

Aku harus mampu menumbuhkan minat membaca mereka. Cara yang aku lakukan, dengan mewajibkan mereka membeli satu buku apa saja yang mereka sukai, bebas. Buku tersebut bisa berjenis fiksi atau non fiksi. Kemudian buku tersebut diletakkan di sudut ruang kelas. Ya, aku membuat sebuah Classroom Book Corner, semacam pojok baca di dalam ruang kelas.

Buku-buku yang terkumpul bisa mereka baca secara bergantian selama 5-10 menit sebelum masuk materi pembelajaran. Selanjutnya, masing-masing siswa aku minta menceritakan secara singkat isi buku yang mereka baca.

Pada kesempatan lain, aku minta mereka secara berkelompok untuk membedah buku tersebut dalam bentuk resensi tertulis yang kemudian dipresentasikan. Dengan demikian siswa telah melakukan empat hal yang berhubungan dengan kompetensi berbahasa mereka yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Memang tidak bisa dipungkiri, menulis merupakan tingkat kemampuan berbahasa tertinggi, karena melibatkan proses berpikir dan nalar, sehingga dibutuhkan latihan secara kontinyu dan sungguh-sungguh. Namun, itu tentunya bukan hal yang sulit untuk diwujudkan, jika ada kemauan. Dua variabel kemampuan dan kemauan menjadi penentu sebuah tujuan bisa terwujud atau tidak. Siswa yang mampu, tetapi tidak mau tentu akan sulit mewujudkan tujuannya. Tetapi siswa yang tidak mampu, tapi memiliki kemauan, tujuannya akan bisa terwujud. Apabila kedua variabel tersebut (mampu dan mau) ada pada diri siswa, maka tujuan akan jauh lebih mudah digapai. Sebaliknya, siswa yang tidak mampu dan tidak mau, tidak akan mungkin mencapai tujuannya.

Untuk lebih mempermudah mereka bisa menulis, memang mereka harus banyak membaca. Karena dengan membaca mereka akan banyak menemukan gagasan-gasan yang akan memperkaya dan mempertajam tulisannya. Semakin banyak mereka membaca, semakin banyak gagasan yang ditemukan dan ditulis. Tanpa membaca, mereka akan sulit menuangkan gagasan atau ide.

Yang dibaca tentunya tidak hanya buku, tetapi juga alam sekitar. Sumber tulisan tidak hanya diperoleh dari apa yang dibaca, tetapi bisa dari yang dirasakan dan yang didengar. Pendek kata, apa yang dialami siswa yang melibatkan panca inderanya dapat menjadi sumber tulisan. Peran guru hanya mendampingi mereka agar pengalaman panca inderanya dapat tertuang dalam bentuk tulisan.

Hanya saja, tidak sedikit guru yang menemui kesulitan ketika mendampingi mereka menulis. Ada guru yang menginginkan siswanya dengan instan bisa menulis. Ada juga guru memperlakukan siswa sebagai objek bukan subjek. Mereka disamakan seperti gelas atau ember yang siap diisi air. Ketika air dituang secara terus menerus, maka gelas atau ember tersebut tidak mampu menampung air tersebut, dan akhirnya air akan tumpah ke mana-mana. Jika air itu dibaratkan ilmu, maka ilmu yang diterima oleh siswa akan sia-sia. Berbeda halnya jika guru sebagai pendamping siswa memperlakukan siswa sebagai subjek, maka guru akan mencari bagaimana strategi pendampingan yang memikat dan efektif, sehingga siswa dapat dengan mudah mewujudkan tulisannya.

Setidaknya ada 7 strategi pendampingan yang efektif yang dapat dilakukan oleh guru ketika mendampingi para siswa menulis, yaitu:

Pertama, guru harus lebih banyak mendengar dan bertanya. Guru mendengarkan dan bertanya yang berkaitan dengan apa yang mereka mau. Strategi ini dapat mengetahui tingkat kefokusan mereka. Kalau mereka tidak fokus, mereka akan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang salah. Sehingga mereka salah presepsi. Dengan demikian, mereka akan gagal memahami objek yang dihadapi.

Kedua, guru harus membangun kepercayaan diri (building trust) siswa. Sehingga, siswa yakin bahwa masing-masing memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan sesuai dengan minat dan bakatnya. Seorang guru harus menyadari bahwa anak memiliki kemampuan, sesuai dengan teori multiple intellegences. Guru hanya mendampingi dan mengarahkan, agar kemampuannya tersebut bisa tumbuh dan berkembang.

Ketiga, guru memberi apresiasi. Guru jangan segan memberi apresiasi sekecil apa pun prestasi yang dicapai oleh siswa. Apresiasi akan membuat mereka lebih bersemangat. Terkait dengan kemampuan menulis mereka, yang pertama dilihat bukan kualitas tulisan, melainkan keberanian mereka menuangkan gagasan sudah merupakan prestasi mereka yang patut diapresiasi.

Keempat, fast respons (merespon dengan cepat). Ketika siswa bertanya atau menemui kesulitan terkait dengan tulis menulis, guru harus cepat merespon dan segera memberinya arahan atau jalan keluar.

Kelima, murah berbagi pengalaman. Ada sebuah quote yang berbunyi “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Guru jangan merasa segan berbagi pengalamannya kepada mereka. Dengan pengalaman guru, siswa menjadi terinspirasi dan termotivasi untuk berbuat yang sama, jika pengalamannya baik. Jika tidak, maka siswa sudah memiliki insight untuk tidak melakukan hal yang sama.

Keenam, guru memberikan usul atau saran dan mendiskusikan hal-hal yang kontekstual. Apa yang akan mereka tulis haruslah sesuai dengan konteks mereka, sehingga mereka tidak kesulitan untuk mengembangkan gagasannya menjadi tulisan yang kohesif dan koheren.

Ketujuh, guru hendaknya sering memberi motivasi terkait dengan target atau tujuan yang ingin dicapai di tahun mendatang, apa dampak yang diperoleh bagi orang di sekitarnya jika tujuan tersebut tercapai, kekuatan diri apa yang mampu mendorong mencapai terget, dan tantangan apa yang dihadapi untuk mencapai target.

Jika strategi terakhir ini diterapkan pada target kemampuan menulis siswa, maka guru memotivasi siswa agar target itu terwujud. Misalnya, siswa ingin membuat buku kumpulan cerpen, maka guru harus memberi motivasi kepada siswa agar targetnya tercapai. Guru menjelaskan apa dampak yang ditimbulkan ketika buah karyanya dibaca oleh banyak orang. Oleh sebab itu, cerpen yang ditulis hendaknya mengandung nilai edukasi, moral, dan etika yang bisa diambil oleh pembacanya. Dengan demikian karyanya bermanfaat dan bisa menjadi amal jariyah mereka, ketika mereka sudah sampai waktunya mengahadap Sang Pencipta.

Aku tutup tulisan ini dengan sebuah puisi:

Anakku,
mari kita jelang esok hari
Dengan untaian kata-kata
Tepis gelisahku dengan tinta emasmu
Anakku,
Taburkan semua butir-butir aksara
Menjadi perisai yang kelak menjadi senjatamu
Di medan juang
Membuka gerbang
Menuju asa gemilang

Tangerang Selatan, Ahad dini hari, 5 September 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *