Oleh: Eni Ratnawati*)

RumahBaca.id – Saat ini, hampir semua orang disibukkan dengan kebiasaan baru terkait fenomena pendemi yang tak kunjung berakhir. Sebagian orang menganggap pandemi ini musibah, karenanya mereka tersudut dalam situasi buruk, tak menentu, sehingga lahirlah keluhan-keluhan panjang yang sepertinya tak kenal kata khatam.

Tetapi ada baiknya Kawan tahu, sebagian yang lain meyakini pandemi ini adalah anugerah. Pandemi membawa atmosfer baru, cara berpikir baru, peluang baru, koneksi baru, memaksa setiap orang untuk melek teknologi, dan pandemi seolah mengingatkan kita bahwa rumah adalah madrasah pertama dan utama untuk anak-anak kita.

Belajar dari rumah (BDR) memang memicu banyak permasalahan: tenaga pendidik dengan persoalannya terkait target kurikulum dan model pembelajaran; orang tua dengan kesibukannya yang luar biasa padat namun harus tetap on saat anak membutuhkan; anak-anak dengan ritme pembelajaran baru yang justru lebih sering merasa bosan dan mencari pelampiasan; dan lain sebagainya.

Dengan semua persoalan itu, bisa dikatakan BDR adalah wajah lain dari tantangan zaman. Mereka yang bisa melewati challenge ini dengan prima adalah mereka yang sejak mula mampu menentukan langkah bagaimana harus menyikapi tantangan ini. Jika Kawan lebih optimis dan mau melihat betapa banyak pandemi memberi nilai positif, dengan sendirinya ruang untuk keluhan dan hal-hal negatif lainnya akan tereliminisi. Nilai positif yang mana? Oke, chek it out.

Jika sebelum pandemi orang tua cenderung menyerahkan pendidikan anak-anaknya ke sekolah, yang seringnya justru kebablasan sehingga luput memantau pencapaian belajar anak, maka di masa pandemi ini, orang tua dituntut terlibat aktif dalam pendidikan anak-anaknya. Dengan peran aktif orang tua, besar kemungkinan orang tua akan mengetahui di bagian mana saja anak mengalami kesulitan, sudah menguasai, atau bahkan tertinggal pelajaran. Anak belajar, orang tua juga belajar.

Peran aktif orang tua juga akan membuka komunikasi yang baik antara orang tua dan guru. Dengan demikian, diharapkan pendidikan anak akan berjalan selaras antara pencapaian materi akademik di sekolah dan pengembangan sikap di rumah. Bahkan, jika diperlukan, dalam poin ini orang tua bisa menyelipkan gagasannya kepada guru terkait muatan di luar tema akademik yang ingin diberikan kepada anak sesuai dengan kebutuhan. Semisal nilai afektif, spiritual, budi pekerti dan lain sebagainya.

Selain di bidang akademik, momentum pandemi ini bisa digunakan oleh orang tua untuk mempererat jalinan psikis dengan anak, membangun komunikasi, identifikasi kebutuhan dan perkembangan anak, menemukan permasalahan, serta berupaya mencari solusi atas kendala-kendala yang dihadapi. Dengan selalu melibatkan diri dalam hal-hal positif dan mengerahkan segenap pikiran untuk mengurai permasalahan, sedikit kemungkinan peluang seseorang untuk sekadar berjibaku dengan keluhan demi keluhan.

Suka tidak suka, tantangan ini harus diterima dengan pikiran terbuka. Dan dengan banyaknya tuntutan yang dihadapi, sebaiknya orang tua merumuskan langkah yang akan diambil demi lancarnya aktivitas bersama anak. Salah satu strategi cerdas dalam upaya melancarkan jalannya aktivitas antara orang tua-anak tanpa dibumbui banyak drama adalah dengan menentukan prioritas. Termasuk dalam lingkup prioritas ini memutuskan aktivitas apa saja yang harus dicapai esok, urgensinya berdasarkan ketepatan waktu, mana yang harus dikerjakan pertama, kedua dan seterusnya. Saya yakin setiap kita memiliki prioritas yang berbeda.

Dan sebelum saya lanjutkan tulisan ini, izinkan saya sedikit mengulas cerita tentang Ranchodas Shamaldas Chancad, seorang mahasiswa teknik yang jenius, unik, sederhana, setia kawan, tidak menabung, tidak menelikung dan tidak sombong. Yang dengan caranya sendiri mampu memikat banyak hati termasuk sang rektor sekaligus anak gadisnya. Rancho diperankan oleh Aamir Khan dalam film 3 Idiots (2009).

Setiap orang memiliki permasalahan dan kesulitannya sendiri. Dan sesulit apa pun kondisi yang dihadapi seseorang, menurut Rancho, hendaknya selalu yakin bahwa segala sesuatu akan berjalan baik-baik saja. Karenanya, masih menurut Rancho, segala bentuk kekhawatiran serta ketakutan akan masa depan adalah nama lain dari penyia-nyiaan waktu, tenaga serta pikiran yang tidak perlu ada dalam kamusnya. Gagasannya yang lebih sering berbeda dan melawan arus membuatnya menuai banyak kecaman. Namun siapa sangka, mahasiswa yang kerap dipanggil idiot ini kelak justru menjadi salah satu ilmuwan besar.

Jadi, apa kaitan Rancho dengan tulisan ini? So true, ini tentang totalitas. Totalitas mengajarkan seseorang untuk menikmati setiap detail pekerjaannya, mencintai dan memberinya performa yang baik. Tidak cukup hanya dengan gugurnya kewajiban, tetapi mengisinya dengan cinta dan keseriusan. Mengutip pernyataan Schaufeli dan Bakker, (2004) bahwa totalitas mendorong seseorang untuk bekerja keras, memberikan usaha yang lebih, terlibat aktif, fokus dan secara fisik memberikan energi positif terhadap apa yang dikerjakan.

Apa makna yang tersirat dalam prinsip totalitas? Adalah berhenti mengeluh dan mulailah!

Memegang peran apa pun dalam pentas kehidupan ini, sepatutnya kita dedikasikan diri dengan ruh totalitas. Mau menjadi tenaga pendidik, mahasiswa, pelajar, menjadi pengurus rumah tangga pun sebaiknya tetap mengedepankan totalitas. Guru merangkap mahasiswa? Tetap harus profesional. Mahasiswa sekaligus ayah rumah tangga? Ya tetap harus total. Dan karena kita tidak tahu kelak akan diingat sebagai apa atau siapa, tidak berlebihan kiranya jika kita memberikan yang terbaik di setiap peran yang kita mainkan.

Just do the best what you can do today, lalu serahkan hasilnya kepada Tuhan. Believe, that all is well.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *