Oleh KH As’ad Said Ali, Mantan Waka BIN

Berakhirnya perang dingin dan bubarnya Uni Soviet pada 1990 menempatkan AS sebagai satu satunya negara adidaya. Hanya kurang dari 30 tahun, RRC mampu mempersempit kesenjangan ekonomi, teknologi dan militer dengan AS. RRC kemudian tampil sebagai negara adidaya baru menjadi pesaing AS.

Presiden AS, Donald Trump menyadari munculnya lawan baru yakni RRC dengan strategy OBOR (One Bridge One Road). Trump mendeklarasikan “American First“ yang kemudian mengakibatkan terjadinya perang dagang antar kedua negara tersebut hingga saat ini. Untuk keperluan itu pula, Trump menjalin hubungan baik dengan Rusia.

Berbeda dengan Trump, Presiden Jo Biden mengambil jarak dalam hubungan dengan Rusia. Perubahan sikap AS tersebut lebih didasarkan pada subyektivitas atas keberpihakan Rusia yang lebih mendukung calon presiden dari Partai Republik dalam dua pemilihan presiden pada 2016 dan 2020.

AS menandingi perluasan pengaruh RRC. Misalnya mengimbangi langkah RRC membangun pelabuhan laut di samudera Hindia (Gwadar, Pakistan) dalam konteks OBOR guna menghubungkan antara RRC, Afganistan, Asia Tengah dengan Pakistan (akses ke Samudera Hindia). AS juga mengimbanginya bekerjasama dengan India membangun pelabuhan laut di Cha Bahar (Iran) yang juga menghubungkan dengan Asia Tengah dengan Samudera Hindia.

AS juga mengubah kebijakan anti terorisme dengan memusatkan perhatian pada pencegahan terorisme di bumi Amerika Serikat, sehingga menarik pasukan dari Afganistan secara keseluruhan. Dengan terjadinya kekosongan kekuatan di Afganistan, wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Xin Jiang tersebut akan berpotensi menjadi basis kekuatan perlawanan kaum separatis Uigur.

Rusia baru di bawah Putin kini mulai unjuk gigi sebagai negara adidaya sejajar dengan AS dan RRC. Secara tidak terduga, Rusia melakukan operasi militer yang masif ke Ukraina dengan tujuan utama menjadikannya sebagai “buffer zone” sekaligus untuk membuktikan keperkasaannya. Gebrakan Putin tersebut menghentak dunia sehingga timbul kekhawatiran Perang Dunia Ketiga.

Manuver Putin berhasil. NATO terpaksa harus menerima kehadiran negara adidaya baru yang diperhitungkan dalam percaturan dunia setara dengan AS dan RRC. Perang dunia tidak akan terjadi karena faktor “second strike” (serangan balik )“, sekali senjata nuklir diluncurkan maka kekuatan nuklir lain otomatis akan membalasnya dari sejumlah kapal selam pembawa nuklir.

Apa yang terlihat sekarang ini adalah gejala perang ekonomi, tekanan melalui embargo. Langkah Indonesia sangat taktis atau sangat jitu. Bersikap mendukung resolusi PBB tentang penolakan invasi Rusia sesuai dengab prinsip “ non intervensi”, tetapi juga menolak ikut serta melakukan “embargo ekonomi” terhadap Rusia.

Gejala yang perlu digarisbawahi adalah mengapa NATO menolak mencampuri soal Ukraina. Pada satu sisi, AS/ NATO tidak mau terjebak ke dalam konflik militer yang panjang karena berpotensi menguras resources NATO dan Rusia. Pada sisi lain kalau konflik militer dengan Rusia terjadi, RRC adalah negara yang beruntung.

Putin bertindak dalam waktu yang tepat, saat berlangsung perang dagang AS vs RRC. Alasan penyerbuan ke Ukraina juga sangat tepat menolak perluasan NATO ke timur. Dengan demikian, invasi ke Ukraina merupakan suatu sinyal kuat bahwa RUSIA kini tampil sebagai negara adidaya ketiga, selain AS dan RRC.

Bagikan tulisan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id