0 0
Read Time:4 Minute, 11 Second

Oleh A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

SETIAP PEMBELAJAR tidak hanya berperan sebagai konsumen pasif produk visual, akan tetapi mereka juga harus mampu menganalisa, mengkritisi, bahkan menciptakan objek visual dengan berbagai alat bantu. Pembelajaran literasi visual dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Pengenalan literasi visual perlu dibuat perencanaan dengan baik sesuai dengan kebutuhan, sehingga visual tidak hanya digunakan sebagai media yang sifatnya literal, namun mampu menstimulasi proses berpikir lebih lanjut. Salah satu langkah strategi yang dapat digunakan adalah menyusun perencanaan instruksional visual. Instruksional visual adalah serangkaian rencana pembelajaran dalam bentuk petunjuk visual yang sederhana, jelas, dan tepat. Tujuannya adalah untuk memberi penjelasan atas sesuatu informasi yang sifatnya belum pernah diketahui sebelumnya, atau menentukan langkah untuk menjelaskan sesuatu konsep yang abstrak. Dalam bmembuat suatu instruksional visual diperlukan pengetahuan klasifikasi jenis dan fungsi visual.

Menurut Alesandrini’s Representational, Analogical and Arbitrary Classification (Linda: 2008) tingkat realisme yang dapat digambarkan oleh grafis dan klasifikasi grafis dibagi menjadi menjadi tiga kategori: (1) representasional (foto) (2) analogis (perbandingan visual) dan 3) Sesuatu yang bebas (grafik, bagan, diagram).

Levin dalam (Linda, 2008) membuat klasifikasi lima fungsi instruksional grafis, yakni:

Pertama: Dekorasi, membantu pelajar untuk menikmati konten instruksional karena membuat menarik atau menarik.

Kedua: Representasi, membuat informasi lebih konkret;

Ketiga: Organisasi, membantu pembelajar memahami struktur dan hirarki informasi dan membantu mengintegrasikan informasi;

Keempat: Interpretasi, membantu pembelajar memahami konten yang sulit dan ambigu;

Kelima: Transformasi, membuat informasi lebih berkesan.

Dari beberapa pernyataan di atas, maka dalam membuat instruksional visual perlu dirancang terlebih dahulu apa tujuan yang akan dicapai, lalu melakukan pemilihan visual sesuai kebutuhan. Apabila seorang pendidik tidak melakukan hal ini maka visual yang dipilih tidak akan menjadi alat bantu dalam proses pembelajaran, visual justru akan membuat proses berpikir tidak tercapai. Jika sebuah teks pada materi pembelajaran ingin menyampaikan sebuah proses yang kongkrit, maka pilihlah visual yang sifatnya representasi dari teks atau objek yang menjadi materi.

Lantas, bagaimana penerapan teori pemrosesan informasi dalam proses belajar mengajar?

Salah satu desain pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar adalah pemrosesan informasi. Teori pemrosesan informasi (information processing theory) memandang aspek lingkungan memegang peranan penting dalam belajar. Teori pemrosesan informasi sebagaimana dijelaskan oleh Byrnes (1996) memandang belajar sebagai suatu upaya untuk memproses, memperoleh, dan menyimpan informasi melalui short term memory (memori jangka pendek) dan long term memory (memori jangka panjang), dalam hal ini belajar terjadi secara internal dalam diri peserta didik.

Teori pemrosesan informasi (information processing theory) memandang aspek lingkungan memegang peranan penting dalam belajar. Teori pemrosesan informasi sebagaimana dijelaskan oleh Byrnes (1996) memandang belajar sebagai suatu upaya untuk memproses, memperoleh, dan menyimpan informasi melalui short term memory (memori jangka pendek) dan long term memory (memori jangka panjang), dalam hal ini belajar terjadi secara internal dalam diri peserta didik.

Pemrosesan informasi menunjuk kepada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, dan pemecahan masalah, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. Teori ini berkenaan dengan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir produktif, serta berkenaan dengan kemampuan intelektual umum (general intellectual ability).

Adapun landasan penting teori pemrosesan informasi yaitu: (1) Prior Knowledge (pengetahuan awal). (2) Rancangan tujuan yang berorientasi kognitif. (3) Umpan balik (feedback).

Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisi-kondisi eksternal (rangsangan dari lingkungan) dan interaksi antarkeduanya akan menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari: (1) informasi verbal; (2) kecakapan intelektual; (3) strategi kognitif; (4) sikap; dan kecakapan motorik.

Delapan fase proses pembelajaran menurut Robert M. Gagne (1989). dalam pemrosesan informasi adalah motivasi, pemahaman, pemerolehan, penahanan, ingatan kembali, generalisasi, perlakuan, dan umpan balik.

Pemrosesan informasi kognitif difokuskan pada berbagai aspek pembelajaran dan bagaimana aspek-aspek tersebut dapat memfasilitasi atau merintangi belajar dan memori. Teori ini juga menekankan pada bagaimana menggunakan strategi yang fokusnya pada perhatian peserta didik, mendorong proses pengkodean dan retrieval (pemerolehan kembali informasi), dan menyediakan praktik-praktik pembelajaran yang efektif dan berguna. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis

Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Provinsi Jawa Barat. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?+ a.rusdiana+shopee&source (3) https://play.google.com/store/books/author?id.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id