Oleh: Erna Suminar Gunawan*)

Rumah Baca – Islam adalah agama yang sangat minoritas di Timor. Di Kabupaten Malaka, umat Islam kurang dari 1%. Umat Islam di Timor Tengah Utara kurang dari 2%. Umat Islam di Timor Tengah Selatan kurang dari 2,5 persen. Umat Islam di Kabupaten Belu sekitar 2,76 persen. Umat Islam di Kabupaten Kupang sekitar 2,16 persen. Namun di Kotamadya Kupang karena banyak pendatang dari Jawa, Sulawesi dsb., penduduk muslim cukup banyak, ada sekitar 14,42 persen.

Saya bersyukur, telah mengunjungi sebagian besar masjid-masjid di Timor kendati ratusan kilometer jauhnya dari satu masjid ke masjid lainnya, atau pun puluhan kilometer dengan umat Islam yang dapat dihitung jari di beberapa tempat sembari mengirimkan keperluan ibadah mereka. Di masjid yang jauh dari Kota Kupang, kebutuhan mereka terutama buku Iqra, untuk belajar membaca Alqur’an bagi anak-anak.

Kendati masjid-masjid di beberapa tempat ini jemaatnya dapat dihitung jari, namun di Timor, mesjid-mesjid biasa mengumandangkan azan lima waktu. Orang-orang Katolik dan orang-orang Kristen Protestan Timor tak mengeluhkan suara-suara azan tersebut. Mereka menyambut dengan rasa hormat. Saat mesjid dibangun, mereka (orang-orang Katolik dan Kristen Protestan) yang berada di sekitarnya pun turut membantu membangunnya.

Pada beberapa tempat saat Ramadan, untuk mencapai masjid yang sangat jauh semisal di sebuah masjid di wilayah Timor Tengah Selatan, hanya untuk menikmati salat tarawih, orang-orang berjalan kaki sangat jauh. Sore harinya mereka berangkat, dan membawa bekal. Di masjid mereka buka puasa bersama sambil menunggu salat tarawih. Setelah salat tarawih, mereka pulang dalam kegelapan malam, dan tiba di rumah masing-masing sekitar jam 11 atau jam 12 malam. Esoknya, mereka akan mengulang hal yang sama sepanjang Ramadan.

Masjid Raya di Kota Kupang

Sebagian besar orang-orang muslim di Timor, memiliki daya kekuatan ibadahnya sendiri dan daya adaptasinya sendiri di tengah masyarakat Timor.

Jika kebetulan saat Ramadan saya berada di Timor, saya sangat menikmati beribadah di sana. Juga, berburu takjil untuk berbuka puasa di mana orang-orang non muslim pun turut berbaur membeli jajanan Ramadan di Kota Kupang, termasuk beberapa Biarawati Katolik.

Di siang hari kedai-kedai makanan tetap buka untuk melayani pembeli. Kedai-kedai makanan tersebut banyak milik orang-orang muslim dari Jawa. Pedagang-pedagang makanan muslim yang berpuasa tetap ingin melayani orang-orang yang tidak berpuasa. ” Kalau kami tutup, kasihan kepada non-muslim yang tak berpuasa nanti kesulitan mencari makanan masak”, kata sebagian dari pedagang-pedagang muslim berjilbab tersebut berbicara kepada saya.

Suka cita Ramadhan tetap dapat dinikmati oleh kaum Muslim di Timor, dengan caranya sendiri dan kegembiraannya yang tak terbatasi. Ramadan Kariim.

*) Erna Suminar, Penulis Novel Gerimis di El Tari

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *