Oleh Masyhari, Lc., M.H.I, Direktur RumahBaca.id

Rumah Baca – Peningkatan jumlah penderita Covid-19 secara signifikan (data lengkapnya baca di sini) membuat pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyaratakat (PPKM) Darurat. Berdasarkan informasi yang dikutip dari web resmi covid19.go.id, PPKM diterapkan pada 3-20 Juli 2021 di Jawa dan Bali mencakup 45 kabupaten/kota di wilayah situasi level 4 pandemi COVID-19 dan 76 kabupaten/kota di wilayah level 3.

Dengan pemberlakukan PPKM Darurat ini, ada sejumlah kegiatan masyarakat yang dibatasi. Beberapa tempat dan fasilitas umum ditutup, di antaranya yaitu pusat perbelanjaan/mall/pusat perdagangan; tempat ibadah; fasilitas umum; sarana kegiatan seni/budaya, olahraga dan sosial kemasyarakatan. Pada tahun 2021 ini, Idul Adha (10 Dzulhijjah 1442 H) bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021, hari terakhir pemberlakuan PPKM Darurat.

Kondisi semacam ini, disikapi masyarakat dan pengurus DKM secara berbeda-beda. Ada sejumlah masjid yang masih melaksanakan shalat Idul Adha di masjid dengan pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat. Ada pula DKM yang lebih memilih tidak mengadakan shalat Idul Adha di masjid. Masyarakat dihimbau untuk melaksanakannya di rumah saja, khususnya mereka yang sedang isolasi mandiri (Isoman) dan ingin tetap melaksanakan shalat Idul Adha. Lantas, bagaimanakah tata cara pelaksanaan shalat Idul Adha?

Hukum Melaksanakan Shalat Idul Adha

Sebagaimana shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha hukumnya sunnah muakkad, bukan wajib. Sunnah berarti anjuran. Sedangkan muakkad artinya dikukuhkan dengan tegas. Artinya, seorang muslim yang tidak berdosa bila meninggalkannya. Hanya saja sayang sekali bila ditinggalkan, sebab hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun. Selain itu, salat hari raya merupakan ibadah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw sejak disyariatkan hingga beliau wafat, dan para sahabat beliau pun selalu melaksanakannya.

Apakah Shalat Hari Raya Harus Dilaksanakan Secara Berjamaah?

Disebukan dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji ala Madzhabil Imam Asy-Syafi’i bahwa shalat hari raya sebaiknya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid ataupun di tanah lapang. Akan tetapi, shalat ini boleh dan sah bila dilaksanakan sendirian, baik di rumah ataupun di tempat lainnya.

Dalam kondisi pandemi Covid-19, pelaksanaan shalat secara berjamaah di masjid atau di tanah lapang harus memperhatikan protokol kesehatan, demi mencegah penyebaran virus secara lebih luas. Tata cara pelaksanaan shalat Idul Adha sendirian tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan shalat Idul Adha secara berjamaah.

Waktu Pelaksanaan Shalat Hari Raya

Shalat hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha dilaksanakan pada saat matahari sudah terbit dan waktunya berakhir setelah masuk waktu Zuhur. Adapun waktu yang paling utama untuk dilaksanakan shalat hari raya yaitu ketika ketinggian matahari sekitar satu tombak, karena Rasulullah selama hidup beliau selalu melaksanakan pada waktu tersebut.

Tidak Perlu Azan ataupun Iqamat

Sebelum pelaksanaan shalat hari raya tidak disunnahkan azan ataupun iqamat sebagaimana shalat wajib, tetapi cukup dengan ucapan seorang petugas Ashshalatu jami’ah”. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah yang mengatakan bahwa pada hari Idul Fitri dan Idul Adha tidak dikumandangkan azan.

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Idul Adha

  1. Shalat hari raya dilaksanakan sebanyak 2 rakaat.
  2. Shalat dimulai dengan niat اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا/مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى
  3. Takbiratul ihram, dengan mengangkat kedua tangan setinggi bahu dan membaca Allahu akbar.
  4. Membaca doa iftitah sebagai berikut:
  5. Dilanjutkan dengan takbir sebagaimana takbiratul ihram sebanyak 7 kali pada rakaat pertama. Pada rakaat kedua sebanyak 5 kali takbir. Takbir ini sifatnya sunnah, kalau tidak dilaksanakan sebanyak itu karena lupa, shalat tetap sah.
  6. Di setiap jeda antara takbir satu dengan takbir berikutnya dianjurkan membaca سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ (Subhanallah walhamdulillah walailaha illahu wallahu akbar wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim)
  7. Membaca ta’awwudz (A’udzubillahi minasy syaithanirrajim), surat al-Fatihah, ditambah dengan surat al-Quran lainnya yang dihafal.
  8. Bacaan ketika rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud dan salam sama saja dengan shalat lainnya.
  9. Khutbah hari raya. Khutbah setelah shalat hari raya hukumnya sunna (dianjurkan) bila dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid, di tanah lapang ataupun di rumah. Bila sendirian tidak perlu dilaksanakan khutbah.

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. Mohon koreksi dan masukan di kolom komentar bila ada kesalahan.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

2 thoughts on “Begini Tata Cara Shalat Idul Adha di Rumah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *