1 0
Read Time:5 Minute, 39 Second

Oleh A Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

RUMAHBACA.ID – Sabtu, 30 Juli 2022 bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1444 H, umat Islam di seluruh dunia memperingati pergantian tahun baru hijriyyah. Muharam dipilih sebagai awal tahun kalender Islam. Bulan ini ditetapkan setelah melalui musyawarah para sahabat sepeninggal Rasulullah dan khalifah Abu Bakar.

Disebutkan dalam Manaqib al Anshar, bahwa para sahabat tidak menghitung dan menjadikan awal penanggalan dari masa diutusnya Nabi Muhammad saw, dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau. Suatu usulan yang rasional, mengingat bahwa Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik.

Akhirnya setelah berbagai usulan, Khalifah Umar berdasarkan persetujuan para sahabat, menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah, hijrah. Kalifah berkata, “Hijrah itu memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil. Oleh karena itu jadikanlah hijrah itu untuk menandai kalender awal tahun Hijriah.”

Ada banyak pelajaran dari spirit hijrah yang dicontohkan Rasulullah sejatinya dimaknai dalam kerangka perjuangannya merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan. Inilah agama rahmatan lil ‘alamin yang di dalamnya ada semangat ikhtiar, pengorbanan, kebulatan tekad, keteguhan niat, kesabaran, dan keikhlasan.

Pelajaran pertama, peristiwa hijriah yang diperingati setiap tahun mengadung nilai-nilai yang sangat relevan sepanjang zaman. Momen ini mengandung tekad yang bulat, semangat untuk berjuang, dan kegigihan kuat dalam beramal menuju tujuan yang jelas, yakni, terwujudnya baldatun toyyibatun warrabun ghafur. Negeri adil makmur yang senantiasa penuh rahmat dan ampunan Allah swt.

Menelusuri jejak sejarah perjalanan hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata yang pas. Perjalanan sejauh kurang lebih 320 km yang ditempuh penulis dan peziarah dengan kendaraan ber-AC dan jalan yang terbentang mulus, sangat berbanding terbalik dengan kejadian 14 abad silam. Baginda ditemani sayid Abu Bakar silih berganti saling menjaga dari kejaran kaum kuffar. Menempuh lautan pasir yang panasnya dapat mematangkan butiran telur, dan dinginnya malam yang dapat membekukan air.

Kaki mulia sang Nabi harus dilangkahkan melewati terjalnya cadas di bukit-bukit batu tajam di sepanjang perjalanan agung ini. Sebentar beristirahat di Gua Tsur, dan sebentar bermalam di tengah samudera pasir dengan angin yang bertiup kencang. Siang malam ditempuh dengan tekad dan keyakinan kuat, bahwa Allah akan memberikan kemuliaan bagi umat Islam setibanya di negeri yang Dia janjikan, Yatsrib.

Jika peziarah saat ini dapat menjangkau jarak sekira lima jam perjalanan, maka perjalanan suci Nabi memakan waktu 20 hari untuk tiba di tujuan. Suatu perjuangan yang berat dalam menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi.

Hal ini memberikan pelajaran selanjutnya kepada manusia, bahwa setiap perjuangan selalu beriringan dengan pengorbanan. Tidak ada satu pun perjuangan tanpa diiringi dengan pengorbanan. Itulah keteladanan Nabi yang seharusnya dicontoh.

Adalah perjuangan yang tidak instan, yang hanya mengandalkan ‘mukjizat’ dan keajaiban Tuhan. Proses adalah sesuatu yang harus ditempuh oleh siapapun dalam meraih tujuan. Samudera pasir, lautan batu terjal yang menggunung, yang sewaktu-waktu melukai kaki-kaki mulia, tidak menyurutkan tekad dan semangat perjuangan. Itulah yang dilakukan Nabi dalam merubah dunia menjadi jauh lebih baik dan beradab.

Pelajaran kedua yang dapat diambil adalah, Islam menjunjung tinggi asas musyawarah untuk mufakat. Hal ini seyogyanya menjadi semangat setiap diri untuk menempatkan kepentingan umat lebih utama daripada kepentingan pribadi maupun golongan. Segala riak perjuangan Islam bermula dari tempat ini Yatsrib. Dimulai dari mengubah Yatsrib menjadi Madinah, hingga ditulisnya Mitsaq al-Madinah (Piagam Madinah), suatu konstitusi modern pertama di dunia yang menjadikan rujukan pola kerukunan umat.

Piagam tersebut menjadi titik temu komunitas Madinah yang majemuk menjadi prototype negeri yang rukun, damai, toleran dan beradab, satu revolusi dakwah yang dilakukan Nabi yang menekan pada perbaikan umat dalam urusan ibadah dan muamalah, spiritual dan sosial.

Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib dalam menjamin kebasan beragama, keamanan, penegakan hukum, dan hak-hak individu. Sesungguhnya hal tersebut patut diteladani hingga sekarang.

Pelajaran ketiga, dalam konteks sebagai pendidik, momentum hijrah menjadi bahan refleksi diri. Menciptakan generasi unggulan tidak seperti mudahnya membalikan tangan, butuh perjuangan ekstra yang menguras pikiran dan tenaga. Diperlukan pula semangat perbaikan diri setiap saat. Perjuangan memang tidak selalu bertabur bunga dan berhamparkan karpet merah. Perjuangan bahkan selalu menemui tajamnya onak dan duri. Keikhlasan dan kesabaran adalah pengorbanannya.

Menarik juga untuk dikaji manakala Nabi tiba di Yatsrib yang kelak menjadi Madinah. Kegiatan pertama Baginda tidak mencari rumah untuk tempat tinggal diri dan keluarga. Tidak pula meminta fasilitas kelayakan hidup sebagai seorang pemimpin umat. Tetapi yang beliau lakukan adalah mendirikan masjid. Diyakininya bahwa masjid adalah pusat kegiatan yang dapat menjadi sentra perubahan dan perbaikan umat. Dari masjid itulah Islam memancarkan karisma kewibawaan sebagai agama ramatan lil ‘alamin.

Tiga pembelajaran tersebut hendaknya menjadi renungan. Inilah makna hijrah yang sebenarnya. Tidak hanya bermakna secara harfiah, migrasi atau pindah tempat, melainkan juga pindah orentasi, berubah pola pikir, yakni berpindah dari keadaan buruk menjadi baik, dari kondisi baik menjadi jauh lebih baik.

Itulah perubahan. Dan baginda Rasul memberikan contoh keteladanan bahwa semua perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk umat secara kolektif. Sebesar apapun keinginan untuk meraih dunia tidaklah harus mengalahkan kebutuhan akhirat, dan masjid adalah salah satunya. Segala riak perjuangan Islam bermula dari tempat ini.

Akhirnya, spirit hijrah yang dicontohkan Rasulullah harus dimaknai dalam kerangka perjuangannya merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan. Inilah agama rahmatan lil ‘alamin yang di dalamnya ada semangat ikhtiar, pengorbanan, kebulatan tekad, keteguhan niat, kesabaran, dan keikhlasan. Baginda menyatakan: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. Ketulusan niat luar biasa yang ditunjukkan Nabi dan sahabat-sahabatnya itu berbuah eratnya persatuan, bertambahnya saudara, hingga kemuliaan dunia dan akhirat.
Wallau A’alam Bishowab.

*) Ahmad Rusdiana, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?q=buku+a.rusdiana+shopee&source (3) https://play.google.com/ store/ books/ author?id.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Belajar dari Spirit Hijrah Rasulullah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id