Oleh Eva Lilis Solihatun*)

Sobat pembaca setia Rumah Baca, Kamis (11/03) pagi Eva mengikuti workshop dan sharing penulisan fiksi yang digelar oleh para mahasiswi KKN IAI Cirebon di Griya Baca Alima. Acara tersebut menghadirkan Eni Ratnawati sebagai narasumber. Eni Ratnawati merupakan mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah dan pegiat literasi di UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon. Eni telah menerbitkan dua buah novel, yaitu Senja Terbelah di Bumi Surabaya dan Rinai. Selain itu, ia juga menulis beberapa cerpen di antaranya dimuat di web Rumah Baca.

Dalam kesempatan itu, narasumber berbagi sejumlah tips bagaimana cara menulis karya fiksi, berdasarkan pengalaman pribadi narasumber dalam menulis cerpen dan novel. Berikut ini catatan Eva bagikan buat para pembaca Rumah Baca. Semoga bermanfaat.

Apa saja langkah-langkah dalam menulis fiksi?

Bisa jadi setiap penulis fiksi punya resep dan langkah-langkah berbeda. Nah, berdasarkan sharing penulisan fiksi hari ini, setidaknya ada tiga langkah yang bisa dilakukan, sebagai berikut:

Step Pertama: Membaca

Seseorang yang tidak membaca akan sulit untuk menulis. Sebagaimana sebuah teko, jika kosong tanpa air, ia tidak dapat berbagi air pada cawan-cawan. Ia tidak akan mampu memuaskan orang yang tengah dilanda dahaga.

Membaca yang dimaksud tidak terbatas pada teks dari buku. Alangkah baiknya jika kita dapat membaca fenomena, seperti pengalaman pribadi, teman dan lain sebagainya. Membaca tidak hanya dengan mata, namun juga dengan hati. Membaca bisa juga dengan mendengar dan berpikir. Seluruh indra yang kita miliki digunakan untuk mengolah informasi sebagai bahan tulisan kita. Begitu juga dengan indra penciuman dan perabaan. Kita bisa mendapatkan informasi dari semua pancaindera itu, lalu kita tuangkan dalam tulisan.

Seluruh tubuh kita dapat membaca. Ini semua harus dilatih. Terbiasa menerima informasi. Jadikanlah Indra kita terbiasa mengolahnya. Semua orang pasti punya pengalaman. Tapi apabila dia tidak dapat membacanya, serta tidak dapat mengambil hikmahnya, dia tidak akan dapat menuliskannya. Dan pengalamannya akan hilang. Sayang bukan?

“Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Artinya, bila ingin menjadi seorang penulis yang andal, seseorang harus rajin membaca buku.”

– Eni Ratnawati

Step Kedua: Merenung

Merenung atau tadabbur berarti menumbuhsuburkan bunga. Setelah kita membaca fenomena, kita perlu memberikan waktu sejenak untuk merenungkan apa yang kita alami, mengendapkan informasi hasil bacaan kita. Kita juga dapat mengeksplor lagi sesuai dengan imajinasi kita. Tulisan yang dihasilkan kurang lebih diambil dari tumpukan sampah, residu atau kompos dari apa yang telah kita lakukan. Ini merupakan sesuatu yang alami, berasal dari kegiatan sehari-hari kita.

Step Ketiga: Menulis

Setelah kita membaca dan merenung, langkah berikutnya adalah action dengan menulis. Hasil bacaan dan renungan itu bagian dari ide yang bisa kita tuangkan dalam tulisan. Kalau ide hasil bacaan dan renungan tidak kita tuliskan, lambat-laun akan hilang percuma. Sebanyak dan sebagus apa pun ide, kalau belum kita tuliskan, ia tidak akan jadi apa-apa. Oleh karena itu, ini adalah langkah utama dan poin pentingnya.

Apa itu fiksi?

Menjawab pertanyaan ini, Eni mengutip ungkapan Andrea Hirata dalam novel Sirkus Pohon bahwa fiksi adalah cara terbaik menceritakan fakta. Menurut Eni, tidak ada fiksi yang benar-benar murni fiksi. Karena dalam tulisan itu terdapat fakta yang diolah sedemikian rupa sehingga terlihat seperti fiksi. Apa yang ditulis merupakan fakta. Namun, untuk beberapa hal, memang harus dipoles.

Lantas, bagaimana cara menulis fiksi?

Untuk bisa menulis fiksi, kita harus PDKT dengan karya fiksi dan sastra. Ya, kita harus banyak membaca karya fiksi dan sastra. Kita pahami aturan penulisannya, lalu kita tuangkan. Dalam menulis sastra, kita harus bisa membedakan antara karya puisi, sajak, pantun, novel, dan lain sebagainya. Novel sendiri adalah sastra yang dinarasikan. Pendekatannya lebih menggunakan kekuatan pikiran. Kalau puisi, melalui pendekatan rasa. Untuk menulis novel atau cerpen kita harus pandai mengaitkan cerita satu ke cerita selanjutnya, harus pandai memberikan penokohan dengan memainkan logika.

Menulis Cerpen

Rasanya mungkin sama antara novel dan cerpen, namun tentu ada perbedaannya. Tapi, cerpen tidak serumit novel. Bidikan cerpen hanya pada satu konflik. Penulis tidak dituntut untuk memberikan happy ending, penulis hanya bertugas mengantarkan dan menggambarkan cerita. Kesannya, pembaca tidak digurui. Hikmah disampaikan melalui konflik, perdebatan dan lain-lain. Itu yang membuat cerita terkesan seperti mengalir apa adanya. Pembaca bebas menentukan ekspresi mereka terhadap sebuah cerita, sedangkan penulis tidak berhak.

Menulis Novel

Novel ada beberapa macam. Ada model novel yang hanya menceritakan satu tokoh utama, seperti Totto-Chan. Ada juga novel yang menceritakan tokoh A pada bab 1, tokoh B pada bab 2, tokoh C pada bab 3, dst. Lantas, semua tokoh dipertemukan pada bab 4, dan lain sebagainya. Biasanya novel semacam ini adalah novel detektif atau misteri. Biasanya juga Andrea Hirata menulis novel semacam ini.

Ketika menulis, ide-ide gila bisa mengalir begitu saja. Namun, alangkah baiknya semuanya sudah kita persiapkan dari awal. Menulis novel bagaikan kita mengepang rambut. Si penulis harus punya kerangka. Misal tokoh A semacam ini konfliknya, tokoh B seperti ini konfliknya lalu disambungkan di akhir cerita.

Dalam sesi tanya jawab, Eva sempat bertanya, bagaimana agar saat menulis kita tidak terbebani dengan komentar-komentar pembaca.

Terkait pertanyaan ini, Eni menjawab bahwa menjadi penulis adalah belajar menjadi pribadi yang jujur. Penulis dengan tulisannya mencoba untuk memperbaiki diri sendiri. Ketika kita bisa jujur pada diri sendiri, maka kita juga dapat jujur pada orang lain. Ketika kita siap menjadi penulis, maka kita harus siap menerima penilaian orang lain tentang tulisan kita.

“Penulis harus selesai dengan diri sendiri dulu. Kekhawatiran dan hal apa pun yang menyangkut diri kita harus kita selesaikan dahulu. Kita anggap komentar orang terhadap tulisan kita adalah nothing. Kita harus siap ‘telanjang’ dalam berekspresi melalui tulisan kita.”

– Eni Ratnawati

Sementara itu, Nurul Hikmah, santri PPMH, sekaligus siswi kelas XI MAN 1 Cirebon bertanya bagaimana agar ketika mulai menulis tidak bingung, bagaimana cara memulainya?

Terkait pertanyaan ini, narasumber mengatakan bahwa hal yang membuat kita sulit memulai yaitu karena kita punya persepsi dan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap tulisan kita, misal kita ingin menghasilkan karya yang mengandung hikmah, bersikap bagus dll. Ini adalah mental block, kita bangun tembok penghalang kita sendiri untuk berekspresi. Padahal kita ini baru mau mulai menulis, belum punya karya tulis satu pun.

Tidak mengapa jika tulisan awal kita itu jelek, karena itu adalah sebuah proses. Penulis harus bisa menerima diri sendiri. Terimalah diri kita apa adanya. Katakan saja, saya memang tidak bisa menulis, tapi tidak mengapa, sebab menulis itu proses. Fokus dulu pada proses, bukan pada hasil. Semakin tinggi jam terbang kita, akan semakin bagus hasilnya.

*) Ditulis oleh kontributor Rumah Baca, pegiat Literasi kampus IAI Cirebon (SLI) dan aktivis PAC IPPNU Karangwareng

Editor: Masyhari

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *