Oleh Jamroh, S.Pd.SD, Guru SDN 3 Donorojo Kec. Sempor Kab. Kebumen

RIMBA melempar handphone ke tempat tidur. Keluar dari kamar mukanya terlihat murung. Mulutnya komat kamit, tampak menyimpan rasa kesal yang mendalam.

“ Ibuuuuu… handphoneku rusak.”

Dari arah kamar tengah ibunya bergegas menuju arah suara yang memanggilnya.

“Ada apa, Nak?

“Ini, Bu. Handphone Rimba sinyalnya hilang. Saya mau membuka tugas dari Pak Guru tidak bisa. Apalagi kalau buat nonton kuda lumping di Youtube.”

“Mungkin saja cuacanya memang sedang tidak bagus, Nak.”

Mendengar jawaban ibunya, Rimba semakin kesal. Dia berlari ke luar rumah sambil berpamitan mau mencari sinyal. Dengan berbekal uang tiga ribu, Rimba pergi ke rumah tetangga yang memiliki jaringan wifi agar dapat menikmati pertunjukan kuda lumping melalui Youtube. Rimba memang sangat menyukai tontonan kuda lumping sejak masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Bagi dia, pertunjukan kuda lumping sangat mengasyikkan daripada bermain game online.

Dua jam terlah berlalu, Rimba pulang untuk melanjutkan nonton kuda lumping di Youtube dengan harapan sinyal di rumah telah kembali bagus.

“Bu. Saya lapar. Ambilakan saya makanan dan minuman.”

Mendengar permintaan anak bungsunya, ibunya bergegas mengambilkan pesanan. Seperti biasa, Rimba harus disuapi sampai habis. Satu jam kemudian terlelap tidur di pangkuan ibunya.


Kegiatan menonton kuda lumping di Youtube tidak pernah dilupakan. Dengan berharap sinyal di rumah lancar seperti di rumah tetangga yang memiliki jaringan wifi. Namun seperti biasa sinyal di rumah sedang bermasalah. Kekecewaan Rimba semakin menjadi-jadi ketika Ratna menonton Youtube sangat lancar.

“Kok Youtube di handphone Kakak lancar?” tanya Rimba.

“Jelas dong, handphone kakak kan baru, jadi sinyalnya bagus, gak seperti handphone kamu, jadul,” tegas Ratna.

Perasaan Rimba semakin kesal dengan pernyataan kakaknya yang menyebutnya handphone jadul. Dalam hati Rimba menebak-tebak kalau sebab di handphone tidak ada sinyal karena HP-nya sudah lama. Pikiran untuk meminta handphone baru pada ibunya muncul seketika.

Keinginan Rimba untuk meminjam handphone kakanya semakin kuat ketika ibunya menolak permintaan Rimba membeli handphone baru. Dia meminta bantuan ibunya agar kakaknya mau meminjamkan handphone yang baru. Namun, usaha ibunya untuk membantu Rimba gagal. Ratna tidak mau meminjamkan handphonenya meski hanya satu jam saja.

Rimba terus merayu kakaknya agar mau meminjamkan handphonenya. Namun, hasilnya tetap tidak boleh. Demi menonton kuda lumping di Youtube, akhirnya Rimba merebut handphone Ratna. Mereka saling berkejaran demi mempertahankan handphone. Tangis mereka berdua pecah manakala keduanya jatuh bersamaan di tempat yang becek. Baju dan muka mereka kotor terkena lumpur.

Melihat ulah kedua anaknya, Ibu Irna menggelengkan kepala sambal memberi nasihat arti pentingnya sebuah persaudaraan. Mendengar nasihat Ibu, Ratna dan Rimba tertunduk dan diam.

“Berarti saya boleh meminjam handphone Kakak, Bu?” seloroh Rimba

“Tidak boleh! ” tegas Ratna.

Ratna dengan sigap melihat chat yang ada di handphonnya. Ternyata ada tiga chat yang masuk, salah satunya dari guru kesenian yang berisi tugas membuat video pertunjukan kesenian daerah. Ratna tampak bingung atas tugas yang diberikan, karena tidak bisa menari apalagi harus melalui video. Di sela-sela kebingungan itu, Ratna teringat pada Rimba yang punya kesukaan menonton kuda lumpung di Youtube.

“Rimba, kaka minta tolong ajari Kakak tari kuda lumping, ya ”

“Malesss… Kakak juga pelit, tidak mau meminjamkan handphone. ”

“Baik, kalau kamu mau mengajarkan kakak, nanti kakak pinjami handphone.”

Dengan penuh suka cita dan keikhlasan Rimba mengajari kakaknya tari kuda lumping. Akhirnya keinginan untuk meminjam handphone Ratna terwujud juga tanpa harus bertengkar. Yang lebih asyik lagi, kesukaan menonton kuda lumping ada manfaatnya bagi orang lain.

Rimba dan Ratna akhirnya kompak dalam setiap kegiatan di rumah. Mereka saling membantu jika ada kesulitan meski jarak usia mereka terpaut lima tahun. Ibu Irna sangat bersyukur dan bangga pada kedua anaknya.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *