Oleh Eni Ratnawati*)

RumahBaca.id – Surayya tergolek lemah di atas ranjang. Tenaganya habis, nyaris tak bersisa. Lengan dan tungkainya luruh. Otot-ototnya tegang karena tekanan yang luar biasa. Namun sepayah apa pun kondisi fisiknya, lebih buruk lagi kondisi mentalnya. Surayya menangis menatap bayi merah dalam balut kain selendang.

“Wadon, Ji.” ucap Mbok Suti sebelum pamit pada Hasan, suami Surayya.

Lelaki itu mendekati ranjang, memilih duduk di kursi malas, mengabaikan Surayya dan bayinya.

“Abah, dia ingin mendengar suara azan Abah.” Suara Surayya serak.

“Kenapa perempuan?!” tanya suaminya pelan. Hasan berbicara tanpa menatap Surayya, seolah perempuan itu tak pernah ada di sana.

Tangis Surayya kembali mengaduk iba. Hatinya berasa ngilu lebih dari apa pun yang pernah menyakitinya.

“Kamu tahu, aku ingin anak laki-laki. Kenapa perempuan?!” Gigi Hasan bergemeletak. “Perempuan nggak berguna! Sebanyak apa pun anak yang kamu lahirkan kalau masih perempuan dan perempuan, buat apa?” Urat leher Hasan bertonjolan seperti akar beringin tua.

Surayya tak menjawab pertanyaan Hasan. Ia membungkam mulut, menyumpal telinga. Bertahun menikah dengan Hasan, hapal ia bagaimana watak dan watuknya lelaki beruban itu. Air matanya  kering sudah. Sambil membelai pipi mungil bayinya, Surayya melantunkan azan di telinga putri kelimanya.

Pintu perceraian terbuka lebar. Sejak kehamilan anak keempat, Hasan mengecam akan menceraikan Surayya jika tetap tak memberikan anak lelaki. Surayya sendiri tak kuat hati hidup seatap dengan lelaki itu. Namun membayangkan anak-anaknya hidup tanpa dirinya, belum apa-apa hati Surayya melepuh-lepuh seperti bebiji jagung dikremasi. Dan lagi, satu hal yang tak banyak diketahui orang adalah bahwa Surayya memegang sumpah Mimi Tua.

Sumpah itu berhasil memasung hidupnya.

“Janji sama Mimi, Nok, aja ninggal Hasan.” suara perempuan sepuh itu tersendat.

Surayya tak punya pilihan. Apa mau dikata di depan perempuan yang berada di ambang kematian? Surayya terpaksa mengangguk, demi melihat damai di kedua mata orang tua baik itu.

Dan sekarang, setiap hasrat itu datang, hasrat untuk meninggalkan Hasan yang begitu besar, Mimi Tua selalu mampir dalam mimpinya. Entah sekadar berbincang seperti dulu saat masih hidup, atau hanya diam dalam tatapan yang menyiksa. Dan Surayya, selalu mengaitkan kehadiran Mimi Tua sebagai pengingat atas sumpah yang dulu pernah ia terima.

***

Surayya duduk menggantungkan kaki di teras rumah. Kakinya berayun maju-mundur macam anak kecil yang sedang asyik menikmati lolipop. Dress hitam yang ia kenakan sore itu tampak manis dipadukan dengan kerudung biru bebercak bunga-bunga kecil. Hitam-biru, warna favoritnya.

“Mi, Abah itu sakit apa sih?” suara Hawa menguar kesendirian Surayya.

Surayya menatap mata gadisnya dengan lembut, meraih tangannya dan membimbingnya duduk.

“Mimi juga tidak tahu, Kak. Kata dokter Abah butuh lebih banyak dukungan dan perhatian.” Surayya menghela napas. “Mungkin Abah tertekan.” tambahnya pelan.

Dahi anak kedua dari enam bersaudara itu mengerut cantik. Ada sesuatu yang mengganjal dari penuturan ibunya, pikir Hawa.

“Bukannya selama ini kita yang tertekan?!” ceplos Hawa setengah kesal.

“Hus, jangan bicara begitu. Itu Abahmu!”

Hawa melengos. Sulit baginya melupakan catatan buruk tentang bagaimana Abah memperlakukan mereka selama ini. Jika saja ada yang bertanya tentang siapa itu Abah, dengan liat ia akan menjawab: Abah itu sosok lelaki yang kasar. Abah itu egois. Abah itu pelit minta ampun. Abah adalah orang yang terus-menerus menyakiti Mimi.

Surayya bukan tidak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran anak-anaknya. Tetapi dirinya sendiri  juga dibuat bingung dengan perubahan sikap Abah yang tiba-tiba.

Pandangannya kini tertuju pada sosok lelaki yang duduk di pelataran rumah, bertelanjang dada, sementara di tangannya menjuntai selang yang tak berhenti mengucurkan air. Lelaki itu duduk di sana sejak tiga jam lalu, mengguyur diri dengan air sambil sesekali melempar-lemparkan tanah basah ke sana-sini. Tak jauh dari laki-laki itu, beberapa ayam berkeliaran, tiga soang berjalan beriringan sesekali mendongak dan memperdengarkan suara sumbang.

Dan Abah, tampak jelas sedang berbicara dengan soang-soang itu.

Lain waktu, Hasan marah-marah. Ia menyumpahi Surayya karena tidak mau memberinya makan. Padahal, seisi rumah tahu kalau sepuluh menit sebelumnya Hasan baru saja menghabiskan semangkuk sup ayam. Hasan juga kerap menuduh Surayya mencuri uangnya, sengaja menyembunyikan kunci mobil. Bahkan, Hasan juga menuduh anak-anaknya memakan semua kue miliknya di dalam lemari pendingin. Sebenarnya yang terjadi adalah bahwa Hasan tidak ingat di mana menyimpan uang dan barang-barang miliknya.

“Mi, coba lihat! Abah bicara sama soang!” Hawa menunjuk punggung Abah. Matanya terbuka lebar.

Surayya menunduk. Ada sesuatu yang lebih ganjil dari sekadar berbicara dengan soang, pikir Surayya murung. Suaminya itu, beberapa kali memanggilnya dengan sebutan Mimi. Persis seperti cara Hasan bermanja dan berbicara pada Mimi Tua, panggilan mereka untuk ibu Hasan. Tak hanya itu, Hasan juga terus-menerus memanggil si Sulung Afra dengan Maira.

“Siapa Maira, Mi?” tanya Afra waktu itu.

Dan Surayya memilih bungkam. Dari lubuk hatinya paling dalam, ia berharap kisah kelam itu tak akan pernah lagi diceritakan.

***

Hari itu Surayya ditemani Afra  menepati janji temu dengan psikiatri yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari. Kondisi mental Abah semakin buruk. Kesehatannya drop. Abah tidak bisa mengenakan pakaiannya sendiri, bahkan tidak bisa mengingat siapa dirinya sendiri.

“Pasien harus selalu didampingi.” ujar dokter sambil membenarkan letak kaca matanya. “Penyebab Alzheimer memang tidak bisa dipastikan.” tambahnya. “Tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dilakukan terapi untuk meringankan gejala.” Dokter menatap Surayya lekat. “Siapa Maira?” tanya dokter tanpa basa-basi. “Oh, maaf tidak bermaksud lancang.”

“Tidak apa-apa, Dok.”

“Pasien tidak bisa mengingat keluarga, orang-orang terdekat, bahkan dirinya sendiri.” Ada sepintas jeda yang terasa begitu canggung. “Tetapi pasien terus saja menyebut nama Maira. Dia bahkan memanggil saya Maira.” Dokter itu tersenyum halus. “Apa dia salah satu kerabat?”

Surayya mengangguk.

“Jika memungkinkan, ibu bisa minta tolong Maira untuk datang. Menurut hemat saya, itu akan sangat membantu pasien.”

“Itu tidak mungkin, Dokter.” lirih Surayya.

“Saya tidak bermaksud ikut campur urusan pribadi keluarga ibu. Tapi kita sama-sama tahu bahwa pasien memiliki ikatan batin yang kuat dengan nama ini. Jika depresi pasien disebabkan oleh pengalaman buruk masa lalu, kita bisa membantunya dengan mengurainya satu persatu …”

Sementara dokter terus berbicara, ingatan itu menampar Surayya dengan begitu kerasnya. Nama besar keluarga telah membuat Hasan terjerembab. Begitu banyak hati yang terluka. Dan luka-luka yang tak terobati itu, siapa berani menjamin telah menemukan damai dalam pengampunan?  Bisa jadi luka-luka itu telah mengeras, mengerak, menuntut sesuatu yang disebut hukum balas.

Meja kayu itu menjadi saksi. Apa yang terjadi pada hari Rabu, dua puluh tahun lalu itu adalah suatu tragedi. Ruang tamu yang khidmat. Gorden dan semua hiasan dinding yang bersih mengilat. Wajah-wajah bersinar, juga dedoa yang dirapal untuk kesalihan serta kebahagiaan dua anak manusia menuju akad.

Sepasang mata itu, mata indah milik gadis yang diliputi cinta. Usianya menginjak 23 tahun. Dan hari itu, bahagia datang serupa gulungan ombak bersama iring-iringan besar. Wajahnya merona. Dua kuntum pipinya bersemu merah.

Rasa itu begitu nyata, senyata siang membakar kulit pepohonan jati dan dedaunan mimba di pelataran rumahnya.

Semua yang hadir tak akan mudah melupa. Ah! Betapa cerah dan cemerlangnya. Senyum di sudut bibir itu tak lepas walau hanya sebentar saja. Dan lihatlah! Matahari di penggalan langit bersinar tak kalah sumringah seolah berdecak menyanjung puji atas keelokan parasnya.

“Aku nikahkan Humaira binti Adnan dengan Asep Saifulloh bin Masrawi dengan seperangkat alat salat …”

“Bubar!”

Belum selesai penghulu dengan ikrar akadnya saat terdengar teriakan keras dari luar.

“Bubar semuanya, bubar!”

Tak ayal, semua mata terperangkap pada sosok tegap yang berdiri gagah di pintu utama. Tidak terkecuali penghulu dan mempelai berdua.

Mata ranum Humaira memucat. Sekilas terlihat bibirnya bergetar, namun rupanya calon pengantin itu memilih mengatupkannya lebih rapat.

“Aku walinya.” teriak si lelaki. “Aku berhak menolak atau memutuskan dengan siapa dia akan menikah.” matanya melotot. “Apa irae luh?!” Lelaki itu menelengkan kepala, menantang siapa pun yang coba angkat bicara.

Dialah Hasan, putra sulung Kyai Adnan almarhum, kakak Humaira.

Maira menubruk tubuh tegap kakaknya. Air mata berderai melunturkan maskara, bedak, meninggalkan noda hitam di pipinya.

“Izinkan kami menikah,” ratapnya.

Tapi Hasan seolah tak mendengar suara adiknya. Ia juga abai akan perasaan malu yang terang-terangan ditampakkan oleh kerabat dan sanak saudara.

Teka pesantren endi ira? Punya titel apa? Kyai kampung aja ngimpi jadi keluarga kita!”

Sekian orang tercengang. Tidak banyak telinga yang siap ditelanjangi sedemikian rupa. Mempelai pria? Ah, jangan tanya bagaimana ia merasa sangat dipermalukan. Tanpa banyak bicara, Kyai Masrawi menarik keluargannya keluar dari ruangan.

Kyai Masrawi yang halus tutur kata itu, memang hanya kyai kampung biasa. Jauh kelasnya jika harus dibandingkan dengan Kyai Adnan sang pemilik sejarah babad pesantren di bagian barat tanah Caruban. Tetapi Kyai Masrawi bukan tokoh sembarangan. Dia satu dari tiga tokoh penggagas Falsafah Keluarga Pesantren, FKP se-Wilayah III.

Satu persatu kursi tamu melompong. Orang-orang beranjak. Sebagian berbisik manja menggunjingkan tabiat Hasan yang kelewat batas. Andai kyai Adnan masih hidup, kejadian memalukan itu tidak akan terjadi. Hasan tidak hanya melukai harga diri keluarga besar Adnan, tetapi juga seluruh tokoh pondok pesantren seantero tanah Caruban-Pasundan.

Malam menjahit wajah kenangan. Meninggalkan jejak hitam di sudut-sudut misterius. Lalu angin menjamu subuh bersama iringan tabuh. Gigil merabai dedaunan jati. Pucuk-pucuknya mengaduh, mendulang puji dan tasbih.

Angin bergemeresak. Terdengar rintih dedaunan jati kering tertabrak angin. Subuh itu begitu murni. Lantunan ayat suci mendayu dari kamar-kamar sunyi. Tidak ada tanda. Tidak ada yang pernah menduga. Di subuh suci itu tubuh Humaira ditemukan lelap dalam tidur abadinya. Sang pengasuh, Mak Yah, perempuan tua itu meraung sejadi-jadinya. Ia bahkan telah menyiapkan air hangat untuk mandi gadis yang dirawatnya sejak balita.

Jiwaku musnah. Aku terasing dari dunia. Pada saatnya nanti, kau pun akan merasakan sepi yang menggigit. Tidak hanya dunia yang menjadi asing bagi jiwa, kelak kau akan menjadi asing bagi dirimu sendiri.

Untuk selamanya, Surayya akan mengubur ingatan tentang pesan terakhir Maira. Bahkan Hasan pun tidak pernah tahu. (Tamat)

*) Eni Ratnawati, mahasiswi program studi Ekonomi Syariah IAI Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

One thought on “Cerpen Eni Ratnawati: Maira”
  1. ih ini cerpen paket komplit deh ❤️❤️❤️
    Ada gregetnya dari sikap Hasan yang nyebelin banget, rasa penasaran siapa itu Maira, sedihnya juga dapet pas Maira meninggal.
    Akhirnya Hasan dapet karma juga dari Maira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *