Oleh Irfan Aziz, SS., M.Pd.I, Tutor Bahasa Arab UPT Pusat Pengembangan Bahasa Arab IAIN Syekh Nurjati Cirebon

“Saya pesan pada anak saya dan teman-teman lain agar mendalami bahasa Arab dengan baik sehingga mempermudah mendalami al-Quran.”

Cak Nur

Kutipan di atas merupakan pesan Cak Nur (Prof Nur Kholis Majid) beberapa jam menjelang wafatnya, sebagaimana diceritakan Prof Komarudin Hidayat, dalam satu karya bestseller-nya “Berdamai Dengan Kematian”.

Bahasa Arab adalah bahasa al-Quran, Kalam Ilahi. Al-Quran tidak mungkin bisa dipahami dengan benar jika tidak dijelaskan lebih lanjut oleh seorang berbangsa Arab yang terpilih untuk menyampaikannya, Nabi Muhammad SAW. Sekian banyak kumpulan hadis Nabi, buku-buku tafsir dan berbagai cabang ilmu keislaman, juga ilmu-ilmu umum dituangkan dalam bahasa Arab. Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa mempelajari bahasa Arab dan mengajarkanya kepada peserta didik adalah suatu kebanggaan sekaligus kewajiban.

Siapa tidak bangga dan bahagia menjadi penerus para Nabi? Siapa tidak merasa bertanggung jawab dan berkewajiban untuk membekali diri dan peserta didik kemampuan bahasa arab agar bisa mengerti dan memahami sendiri firman Ilahi juga sabda-sabda Nabi?

Menyandang status dosen, apalagi dosen bahasa Arab, menurut saya, cukup keren dan bergengsi tetapi juga cukup berat dan beresiko tinggi. Profesi apa pun yang dijalani seseorang tentu saja memiliki prinsip dan kode etik yang harus diketahui dan diaplikasikan secara konsisten dan berkesinambungan.

Dalam buku “Musykilaat Ta’liimil ‘Arabiyyah” Dr ’Abbas Mahjub menyebutkan bahwa seorang guru bahasa paling tidak harus memiliki dua persiapan: pertama, berkaitan dengan berbagai hal tentang kebahasaaraban, dan kedua, berkaitan dengan kependidikan.

Dari sisi keilmuan atau kebahasaaraban, seorang guru bahasa Arab idealnya telah:

  1. menguasai bahasa Arab dengan berbagai cabang keilmuannya. Ilmu Nahwu-Sharaf sebagai ilmu tentang kaidah bahasa Arab harus dikuasai dengan matang dan mantap. Tanpa penguasaan yang cukup terhadap keduanya, ia akan kesulitan dalam menyampaikan materi materi kebahasaaraban lainnya;
  2. membekali diri dengan kekayaan kosakata bahasa Arab dan kesusastraannya baik klasik maupun modern terutama dari sisi gaya bahasanya. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam mengenal keindahan dan keunggulan bahasa Arab. Tanpa bekal ini, seorang guru bahasa Arab akan kesulitan dalam menyampaikan dan mencontohkan praktik bahasa Arab yang indah dan kreatif;
  3. mahir dan Fasih berbahasa Arab fusha (formal), serta konsisten mempraktikkannya di dalam maupun di luar kelas. Sebab guru adalah sumber inspirasi dan teladan terbaik bagi siswa;
  4. menyadari bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang dinamis yang akan terus berkembang seiring perkembangan masyarakat penggunanya. Oleh karena itu, ia akan selalu meng-upgrade dirinya dengan menerima hal-hal baru yang muncul dalam bahasa Arab. Setidaknya ia memiliki kamus-kamus kontemporer mengantisipasi kebutuhan terhadap makna kosakata baru yang belum tercakup dalam kamus-kamus bahasa arab sebelumnya.

Dari sisi pedagogik, guru bahasa Arab mestinya telah:

  1. membekali diri dengan ilmu pedagogik yang diperlukan dalam aktivitas pembelajaran. Guru bahasa Arab, sebagaimana guru dan pendidik lainnya, harus tahu apa tujuan dan target yang mesti dikejar dalam pembelajarannya. Ia terampil dalam menyiapkan materi ajar, media dan metode pembelajaran yang paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran;
  2. memiliki kemauan dan kemampuan untuk memahami kondisi psikologis siswanya, lalu melakukan langkah langkah strategis yang diperlukan;
  3. memiliki karakter yang kuat, tegas, kompeten, dan bijaksana sehingga ia dihormati, dicintai dan selalu dinantikan oleh siswanya.

Dr Abdurrahman bin Ibrahim al-Fauzan dalam “Idhaa-aat”-nya menyebut dua kriteria: al-mu’allim al-mutakhashshish dan al-mu’allim an-naajih. Al-mu’allim al-mutakhashshish (guru bahasa Arab yang ahli (spesialis) adalah guru yang bukan hanya telah mengetahui ilmu-ilmu kebahasaaraban, melainkan juga ahli dalam ilmu bahasa terapan, ahli dalam pengajaran bahasa Arab bagi pelajar non-Arab dan terbiasa mempraktikkannya, serta mau meng-upgrade diri dengan mengikuti pelatihan pengembangan dan penguatan profesi guru bahasa Arab.

Adapun guru bahasa Arab yang sukses (al-mu’allim an-naajih), menurut penulis buku “Al-‘Arabiyyah Baina Yadaik” itu, memiliki kriteria sebagai berikut:

  1. berkarakter kuat;
  2. cerdas, objektif, dan adil;
  3. energik, penuh vitalitas dan kooperatif;
  4. bijaksana: menjadi pribadi yang toleran tetapi tetap tegas;
  5. berwawasan luas, terbuka dengan hal hal baru dalam metode pembelajaran dan materi ajar bahasa Arab;
  6. cermat dan teliti dalam praktik berbahasa Arab;
  7. mencintai dan antusias dengan profesinya;
  8. menguasai materi ajar dan menyampaikan dengan cara terbaik; dan
  9. memiliki hubungan yang hangat dan positif dengan siswa, rekan seprofesi, dan para pimpinan tempat ia bekerja.

Dalam pandangan orang Jawa, guru adalah sosok yang mestinya layak digugu dan ditiru. Menjadi guru itu harus menjadi panutan semua kalangan. Sehingga, seorang guru seperti dituntut “tidak boleh salah”. Prof Imam Suprayogo, dalam buku “Memelihara Sangkar Ilmu” menyebut tanggung jawab seorang guru mirip seperti nabi dan rasul yang suci dan terjaga. Di sisi lain, mantan rektor UIN Malang itu memaparkan keadaan sosial ekonomi para guru biasanya tidak terlalu menggembirakan. Umumnya para guru bergaji kecil berkebutuhan banyak. Namun demikian, beliau mengingatkan agar dalam berbagai keterbatasannya, para dosen termasuk dosen-dosen bahasa Arab agar selalu kreatif menghadapi segala tuntutan hidup, konsekwen dan profesional sebagai dosen, dan fokus membina mahasiswa agar mereka berakhlak mulia, cerdas, berani mengambil resiko untuk tampil mengambil peran penting di masyarakat.

Pada dasarnya, guru memang penerus para nabi dalam menyampaikan ilmu. Tanpa guru, risalah kenabian tidak akan dapat tersampaikan kepada generasi berikutnya.

Seorang guru bahasa Arab tidak mengajar semata demi uang atau bayaran. Gaji kecil tidak lantas menjadikannya diperkenankan bekerja asal-asalan. Bagi seorang pendidik, termasuk guru, tutor, atau dosen bahasa Arab, kebahagiaan terbesar mereka adalah ketika ilmu dan pengalaman yang dimilikinya bisa dibagi dan memberi manfaat bagi generasi muda, sebagaimana disebut Prof Komarudin di bagian lain dalam buku “Berdamai Dengan Kematian” tentang apa yang paling membahagiakan bagi para pendidik yang sudah memasuki masa tuanya.

Semoga bermanfaat. Salam.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *