Oleh: Masyhari*)

RumahBaca.id – Sobat pembaca Rumah Baca yang budiman, perbedaan pandangan di kalangan ulama merupakan keniscayaan. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat dalam bidang fikih, di antaranya yaitu perbedaan terkait teks al-Quran. Kita tahu dan yakin bahwa al-Quran adalah sumber hukum pertama di dalam Islam. Perbedaan terkait teks al-Qur’an yaitu perbedaan dalam tanda baca akhir kata (i’rab) dalam Al-Quran. Perbedaan dalam tanda baca atau cara membaca ini berimplikasi pada hukum fikih yang dihasilkan.

Hal ini misalnya terjadi dalam ayat keenam dari surah al-Maidah, yaitu ayat yang berkenaan dengan rukun wudu berikut ini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.

Berkaitan dengan kata وأرجلكم terhadap perbedaan cara baca di kalangan ahli qiraat, ringkasnya terbagi dua gaya baca, yaitu nashab dan jar. Kedua gaya baca ini termasuk bacaan yang mutawatir, sehingga secara tsubut (validitas) termasuk qath’i, yaitu:

Pertama,  dibaca nashab dengan tanda fathah, sehingga berbunyi “wa arjulakum”. Ini merupakan bacaan yang masyhur dan umum diamalkan di Indonesia yang mengikuti Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim, gurunya. Model ini juga dibaca oleh Imam Nafi’, Ibnu ‘Amir, Al-Kisai, dan Imam Ya’qub.

Kedua, dibaca jar dengan tanda baca kasrah, sehingga berbunyi “wa arjulikum. Model ini dibaca oleh Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, Hamzah, Abu J’far, Khallaf dan Syu’bah dari ‘Ashim.

Nah, bagaimana implikasi hukum fikihnya? Simak penjelasan berikut:

Ketika dibaca nashab (wa arjulakum), ia diathafkan pada kata wujuhakum yang merupakan maf’ul bih atau objek dari ighsilu (basuhlah). Hal ini sebagaimana kita tahu, tanda baca kata benda sesudah Wawu‘athaf itu mengikuti kata benda yang menjadi ma’thuf ‘alaih, dalam hal ini yaitu wujuhakum yang termasuk anggota tubuh yang wajib dibasuh berdasarkan kata “faghsilu wujuhakum” (basuhlah wajah kalian). Implikasinya, ketika kata arjul dibaca nashab, maka kedua kaki termasuk anggota tubuh yang harus dibasuh dalam berwudu sebagaimana kewajiban membasuh wajah dan tangan. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, termasuk mazhab Syafi’i di dalamnya.

Ketika dibaca jar dengan tanda kasrah, ia diathafkan pada kata bi ru-usikum (kepala kalian), dimana ia termasuk anggota tubuh yang wajib diusap dalam wudu, berdasarkan ayat wamsahu bi ru’usikum (usaplah kepala kalian). Implikasinya, ketika ia diathafkan kepada ru’usikum, maka kaki termasuk anggota wudhu yang diusap. Ini merupakan pendapat kalangan mazhab Syi’ah Imamiyah. Pendapat ini disandarkan juga kepada yaitu Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas dari kalangan sahabat, serta Ikrimah, Al-Hasan Al-Bashri dan Asy-Sya’bi dari kalangan tabi’in.

Perbedaan pandangan di atas bagian dari khazanah kekayaan fikih Islam yang luas. Baik pendapat pertama (membasuh kaki) maupun kedua (mengusap kaki) termasuk bersandarkan pada bacaan yang mutawatir. Selain itu, keduanya juga sama-sama memiliki sandaran dari para sahabat dan tabi’in yang mengamalkannya, sehingga sama-sama dibenarkan.

Selain kedua pendapat, ada pendapat ketiga sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid bahwa kaki boleh dibasuh atau diusap. Sehingga, seseorang bebas memilih antara diusap atau dibasuh.

Nah, sobat Rumah Baca, ternyata pendapat di dalam khazanah hukum Islam itu tidak satu, bermacam-macam dan beragam. Karena itu, toleransi dan moderasi sebaiknya kita junjung tinggi. Yang paling utama yaitu dengan meningkatkan semangat belajar, perbanyak piknik dan membaca. Dengan begitu, kita akan semakin sadar bahwa ternyata kita masih bodoh. Wallahu a’lam.

*) Ditulis oleh admin Rumah Baca, dosen Fiqih Institut Agama Islam Cirebon & IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Bagikan tulisan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id