Oleh Dr. Phil. Suratno, M.A, Dosen Universitas Paramadina Jakarta

RumahBaca.id – Mengapa orang-orang terdidik yang dianggap lebih bisa berpikir jernih & logis masih bisa terpapar ekstremisme? Mengapa orang-orang yang berpendidikan eksak-teknik lebih rentan jadi ekstremis dibandingkan dengan yang non eksak-teknik (bidang sosial-humaniora, bahasa/budaya, agama, dan lain-lain)?

Kira-kira pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh buku berbahasa Inggris karya Diego Gambetta & Steffen Hertog berjudul “Engineers of Jihad: The Curious Connection between Violent Extremism and Education“. Buku tersebut diterbitkan Princeton University Press (2016). Buku itu telah terbit versi bahasa Indonesia hasil terjemahan Heru Prasetia dengan judul “Para Perancang Jihad: Mengapa Kalangan Terdidik Banyak Terlibat Ekstremisme dan Kekerasan?” di penerbit Gading (2017).

Jawaban yang diberikan buku in begini. Jadi, sebelumnya lebih banyak teori yang mengaitkan orang terpapar ekstremisme itu dengan kemiskinan (pendidikan rendah, dan juga status sosial) dan atau model tertentu dari penafsiran doktrin-doktrin agama. Ternyata setelah melihat lebih dalam latar belakang para ekstremis (lewat profiling), ditemukan banyak juga orang-orang terdidik yang terpapar ekstremisme. Artinya mereka bukan kalangan miskin. Bahkan orang-orang terdidik itu termasuk yang berpendidikan agama juga. Meskipun yang berpendidikan non-agama (sosial-humaniora & teknik-eksak) jumlahnya lebih banyak lagi. Selain itu ditemukan bahwa ada pola-pola berbeda dari paparan ekstremisme terkait latar belakang pendidikan dari masing-masing ekstremis.

Mengapa kalangan terdidik bisa terpapar ekstremisme? Salah satunya karena adanya deprivasi-relatif. Jadi seperti sering dikeluhkan banyak orang: sudah sekolah tinggi, tapi nggak sukses-sukses amat, bahkan kalah sukses dengan yang berpendidikan rendah (kemudian masuk politik dan jadi komisaris..hehehe, atau menjalani bisnis tertentu).

Orang-orang terdidik umumnya berharap bahwa dengan pendidikannya itu mereka akan menjadi orang sukses, termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan material atau ekonomi. Ketika yang terjadi sebaliknya, maka mereka menjadi kecewa. Nah, saat itulah potensi terpapar ekstremisme menjadi rentan untuk muncul dalam diri mereka. Dalam skala global, profil para ekstremis yang terdidik ternyata umumnya banyak muncul dari era krisis politik & ekonomi global, seperti tahun 1970-1980-an.

Kemudian, buku itu juga menjelaskan bahwa ada pola-pola tertentu dalam paparan ekstremisme terkait background pendidikan para ekstremis. Jika orang-orang berpendidikan sosial-humaniora lebih rentan untuk terpapar ekstremisme berideologi kiri, maka orang-orang berpendidikan teknik-eksak lebih rentan untuk terpapar ekstremisme berideologi kanan (termasuk kalangan muslim ekstremis). Alasannya, selain karena adanya deprivasi-relatif juga terkait psikologi kebutuhan. Kelompok-kelompok ekstremisme berideologi kanan lebih mengakomodir kebutuhan-kognitif para ekstremis termasuk dalam hal agama.

Kalau kita lihat ideologi ekstrem kanan secara lebih detail umumnya bercorak biner (hitam-putih), bercorak penuh kepastian, penuh disiplin tinggi dan memiliki struktur atau hierarki serta otoritas yang jelas. Hal-hal ini secara umum memang sesuai dengan kebutuhan-kognitif dari orang-orang yang memilih dan atau punya bekgron pendidikan di bidang teknik-eksak.

Selain soal deprivasi-relatif dan kebutuhan kognitif, buku itu juga menjelaskan bahwa ada juga faktor sosio-historia mengapa orang-orang berpendidikan teknik-eksak lebih rentan terpapar ekstremisme berideologi kanan, termasuk muslim ekstremis. Faktor yang pertama tentang konektivitas. Secara historis, karena deprivasi relatif yang terjadi secara global di tahun 1970-1980-an, banyak orang terdidik menjadi terpapar ekstremisme dan di situ ternyata banyak orang teknik-eksakta yang menjadi ekstremis muslim (baik karena bergabung maupun bikin kelompok ekstrem. Kelompok-kelompok ini menjadi cepat berkembang, karena mereka otomatis akan mengajak jaringannya (teman-teman dan koneksinya sesama teknik-eksakta) untuk ikut bergabung juga.

Selain konektivitas, juga ada faktor lainnya yakni kebutuhan grup. Seiring dengan makin canggihnya modus operasi dan serangan kelompok ekstremis muslim (terutama untuk menghindari aparat terkait eksistensi grup dan untuk meningkatkan efek serangan yang mereka lakukan), maka kelompok-kelompok ekstrem butuh orang-orang berpendidikan teknik-eksak sebagai perancang (engineer). Mereka juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kelompok ekstrem terkait pemanfaatan teknologi (internet, bikin bom, bio-weaphon dll).

Jadi, sejak tahun 2000-an, kelompok-kelompok ekstremis muslim secara khusus memang mengincar orang-orang berpendidikan teknik-eksak, selain untuk alasan kebutuhan kelompok, juga karena mereka umumnya masih minim ilmu agamanya. Apalagi kalau mereka bisa diprovokasi dengan isu-isu politik-ekonomi, seperti keluhan: “udah sekolah tinggi, tapi nggak sukses juga”, atau keluhan: “sudah negaranya nggak berdasar Islam, eh pejabat-pejabat dan politisinya banyak yang korup lagi”, dan lewat keluhan-keluhan lainnya untuk memprovokasi.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

One thought on “Ekstremisme dan Pendidikan [Ulasan Buku Para Perancang Jihad]”
  1. […] RumahBaca.id – Saya sebelumnya menulis tentang betapa mudahnya orang nyinyir ketika melihat video prosesi Rambu Solo masyarakat Toraja, demikian juga tergesanya stigmatisasi terhadap para santri yang menutup telinga ketika musik disetel di tengah antri vaksin. Keduanya peristiwa yang berbeda dan tidak berkaitan, namun ada benang merah yang hampir sama, yaitu fenomena mudahnya orang berkomentar negatif atas sebuah peristiwa yang menurutnya asing, ini menjadi PR besar bagi dunia etika digital di tengah belum meratanya tingkat literasi digital masyarakat kita. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *