0 0
Read Time:4 Minute, 34 Second

Oleh Yayuk Kurniawati, Guru MAN Kota Batu

Semenjak Kementerian Pendidikan memberikan wacana model pembelajaran pada masa pandemi menggunakan blended learning, pembahasan tentang flipped classroom banyak bermunculan di dunia maya, baik dalam bentuk artikel maupun video. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan flipped classroom, bagaimana penerapannya, dan apa tantangannya?

Flipped classroom adalah model pembelajaran terbalik, di mana kegiatan memahami materi yang biasanya disampaikan di dalam kelas oleh guru dialihkan ke rumah secara mandiri oleh peserta didik melalui video atau media yang lain. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan mengerjakan tugas -yang biasanya dilaksanakan di rumah- dialihkan ke dalam kelas.

Sekilas tentang Flipped Classroom

Flipped classroom sebenarnya bukan pendekatan pembelajaran baru dalam dunia pendidikan. Sebelum masa pandemi, para guru dan dosen sedari dulu kerap meminta peserta didiknya untuk membaca materi terlebih dahulu di rumah sebelum mengikuti kelas dan melakukan kegiatan diskusi di kelas.

Kata-kata “flip your class” yang berarti “balik kelas Anda” pertama kali disebarluaskan oleh Salman Khan. Mendengar nama ini langsung teringat film “Kuch-Kuch Hota Hai” kan? Salman Khan ini adalah founder dari Khan Academy, sebuah organisasi pendidikan non-profit yang menyediakan berbagai materi pembelajaran yang bisa diakses secara gratis.

Kata “flip your class” ini disampaikannya pada sebuah program “TED Talk” dengan tema “Let’s Use Video to Reinvert Education”, yang artinya mari gunakan video untuk membalik pendidikan. Program tersebut diunggah di laman YouTube pada tahun 2011. Dalam program tersebut ia mengajak para pendidik untuk menerapkan flipped classroom dan memperkenalkan gagasan tentang Khan Academy yang telah menjadi sumber belajar bagi para pelajar dan guru dalam menerapkan flipped classroom.

Sebenarnya, Salman Khan bukanlah orang pertama yang memperkenalkan konsep flipped classroom. Sebelumnya sudah ada beberapa guru, dosen dan peneliti yang telah menggunakan dan mengkaji tentang konsep pembelajaran tersebut. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Chen Hsieh, Wu dan Mark tentang efek model flip pada kelas English as Foreign Language (EFL) di Taiwan Tengah menunjukkan bahwa model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan kemampuan speaking dan motivasi peserta didik.

Kelebihan Flipped Classroom

Konsep flipped clasroom menjadikan peserta didik sebagai pusatnya, dan yang menjadi tujuan kegiatan pembelajaran bukanlah mengajar. Model pembelajaran dirancang untuk memaksimalkan interaksi antar peserta didik, bukan sekedar mendengarkan ceramah guru. Dengan flipped classroom suasana pembelajaran yang aktif dan kolaboratif dapat tercipta. Selanjutnya, flipped classroom dapat merangsang peserta didik untuk belajar mandiri dan lebih siap dalam menerima materi.

Demirel dalam artikelnya yang berjudul “Basic and Key Principles of Flipped Learning Classes upside down” menyatakan bahwa filosofi di balik konsep flipped classroom adalah guru dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerjasama dengan peserta didik dalam menyelesaikan persoalan materi daripada peserta didik menyelesaikannya sendiri di rumah.

Di samping itu, di era pandemi ini, segala sesuatu masih serba terbatas, termasuk dalam hal pembelajaran. Kegiatan tatap muka juga masih terbatas, baik dalam hal jumlah peserta didik maupun waktu. Sehingga, flipped classroom bisa menjadi solusi untuk mengatasi terbatasnya waktu tatap muka tersebut.

Cara Menerapkan Flipped Classroom

Dalam menerapkan flipped classroom ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan oleh seorang guru, yaitu:

Pertama, guru mempersiapkan materi pembelajaran sesuai dengan analisis kompetensi dasar yang telah dibuat. Setelah itu, materi tersebut bisa diunggah di e-learning, e-modul, laman YouTube, Instagram, atau platform lainnya. Bisa juga menggunakan channel pendidikan di internet, seperti rumah belajar dan sejenisnya, jika tidak membuat materi pembelajaran sendiri.

Kedua, guru mempersiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai alat kontrol setiap materi yang telah diberikan kepada peserta didik untuk dipelajari secara mandiri di rumah. Pada tahap ini guru selalu mengontrol kegiatan belajar mandiri melalui chat WhatsApp atau aplikasi sosial media yang lain untuk mengetahui kesulitan dan perkembangan belajar peserta didik di rumah. Jika diperlukan bisa menggunakan Zoom Meeting, Google Meet atau aplikasi online meeting lainnya.

Ketiga, peserta didik datang ke kelas dan telah siap untuk membahas lebih lanjut materi yang telah dipelajari di rumah. Variasi kegiatan pembelajaran tatap muka dengan waktu 30 menit yang bisa dilakukan adalah mengerjakan soal latihan yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari di rumah secara mandiri dengan jumlah soal 4-5 pertanyaan, atau bekerja secara berpasangan, berkelompok (jumlah maksimal 4 orang). Bisa juga dalam bentuk debat, diskusi, ataupun praktik. Pada Tahap ini peran guru adalah sebagai fasilitator untuk membantu kesulitan peserta didik dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

Tantangan dalam Penerapan Flipped Classroom

Setiap kegiatan yang dilakukan tentu akan memunculkan tantangan tersendiri. Lantas, tantangan apakah yang kemungkinan dihadapi ketika menerapkan flipped classroom ini?

Seperti yang disampaikan oleh Ansori dan Nafi dalam artikel berjudul English Teacher Perceived benefits and Chalengges of Flipped Classroom Implementation, bahwa ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam menerapkan flipped classroom. Yang pertama adalah faktor eksternal yang berkatian dengan faktor pendukung dan teknologi, dan yang kedua yaitu faktor internal yang berkaitan dengan pembuatan materi yang notabene membutuhkan waktu dalam mempersiapkannya, ditambah lagi rendahnya motivasi sebagian peserta didik dalam menonton video ketika belajar mandiri di rumah.

Lantas, bagaimana solusinya?

Agar flipped classroom bisa berjalan dengan baik dan berhasil menjadi solusi pembelajaran blended, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah kesiapan guru dalam menggunakan model pembelajaran, baik dalam penguasaan materi maupun IT. Berikutnya perencanaan kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan di luar kelas hendaknya dijabarkan secara rinci. Ditambah lagi pentingnya menentukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang tepat sesuai dengan gaya belajar peserta didik. Untuk itu perlu kegiatan pembelajaran yang bervariasi dalam melibatkan semua peserta didik.

Jika memang sekolah sudah mendapatkan ijin untuk melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM), maka flipped classroom ini perlu dicoba untuk diterapkan, tentunya dengan kesepakatan warga sekolah termasuk orang tua, di mana mereka sebagai pengontrol belajar mandiri anak di rumah.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id