Oleh Mashuri, Kurator, Peneliti Sastra di Balai Bahasa Jawa Timur

: ngablak siang

RumahBaca.idMa al jadid fi asy syi’ri al jadid? Apa yang baru dari puisi baru? Pertanyaan itu merupakan nukilan sebuah esai yang ditulis kritikus sastra Arab, Zaki Najib Mahmud, yang terdapat dalam buku kumpulan esai “Ma’a As Syu’ara“.

Pertanyaan itu ditulis pada tahun 1970-an, ketika saya belum lahir. Esai menggugah itu sengaja ditulis untuk menyoroti perkembangan baru bagi puisi baru di kawasan Arab pada waktu itu, dengan berusaha mendedah ‘beda’ dan ‘sama’ antara puisi lama dan puisi baru, serta mempertanyakan apa kebaruan dari puisi baru.

Meski usia pertanyaan itu sudah 40-an tahun, gaungnya seperti serangga masuk ke gendang telinga. Mungkin karena kebaruan adalah napas dalam sastra, wabil khusus puisi. Hmmm. Apalagi bukankah kebudayaan adalah penemuan? Bukan perulangan, sebagaimana fatwa penyair Libanon, Ali Ahmad Said atau Adonis.

Pertanyaan itu pun seakan terjawab, jika ditelusuri beberapa eksperimen estetik terhadap puisi Arab, terutama merujuk pada momen gerakan puisi Arab Modern, dengan beberapa pembaruan besar yang diwakili media dan tersebar dalam empat kawasan peradaban Arab. Seorang ahli sastra Arab lulusan Universitas London, Abdullah Al Udhari, berusaha memetakan gerakan itu. Menurut Al Udhari (1986), ada empat gerakan yang cukup menonjol dan penting untuk mendedah perkembangan puisi Arab modern. Pertama, Gerakan Taf’ila (Aliran Irak): 1947-1957. Kedua, Gerakan Majallat Syi’ir (Aliran Syria): 1957-1967. Ketiga, Gerakan Huzairan: 1967-1982. Keempat, Gerakan Beirut: dimulai 1982.

Di antara empat gerakan itu, gerakan ‘Majjallat Syi’ir’ dapat dikatakan sebagai satu gerakan pembaruan penting, karena eksperimen mereka tidak hanya berkutat pada potensi puitika Arab saja, tetapi juga berdialektika dengan beberapa puncak-puncak estetika yang berkembang di dunia.

Pada masa itu dikenal seorang kritikus sastra, Antun Sa’ada. Ia bisa dibilang sebagai pemikir gerakan ini, dengan mencanangkan kebebasan mencipta; bahwa puisi tidak hanya refleksi terhadap realitas sosial dan politik, tetapi juga sebagai satu proyek visi atau proyeksi terhadap masa depan. Ia mendorong sebuah puisi modern Arab sebagai hasil kreasi idiom yang mandiri, baik dalam bahasa, bentuk dan pencitraan gambar, dengan mengeksplorasi tradisi dan peradaban dari pelosok kawasan Arab, termasuk pra-Islam. Ia berbicara tentang sejarah dan mitologi dengan penafsiran kontemporer. Pada masa itu, sastra berkembang sebagai sebuah laboratorium pengetahuan.

Hasil gerakan tersebut memang cukup maknyus dalam mencetak beberapa penyair Arab modern terkemuka. Di antaranya Al Khal dan Adonis. Berdasar pada tradisi perpuisian Abasiyah (750-1258), mereka melakukan manuver estetika tanpa henti. Pembacaan mereka pada ‘puncak penyair’ masa lalu, seperti Al Ma’arri, telah membuat senyawa puisi khas. Apalagi mereka menggabungkan teknik klasik Arab dengan beberapa aliran estetika dari Eropa, seperti simbolis, modernis, futuris, imajis, dadais dan surrealias. Puisi-puisi mereka mengubah pandangan dari perpuisian klasik menjadi modern, baik dari segi bahasa, alih bahasa dan religi.

Meski demikian, aliran Irak juga dipandang penting dalam blantika perpuisian Arab. Pasalnya, gerakan ini mencuat ketika ego Arab terpuruk, dan kebangkitan Arab yang didengung-dengungkan berpotensi teronggok sebagai utopia! Selain itu, dunia sedang dilanda perang dingin dan ideologi menjadi garda depan yang mewarnai segala pernik kehidupan.

Meski demikian, kurang afdal jika berbicara tentang gerakan puisi Arab bila tidak menyinggung aliran Irak. Itu sebuah doxa, eh ‘dosa’! Ehm! Hal itu karena cukup banyak penyair dari aliran Irak yang menonjol. Rata-rata mereka kuyup dalam salah satu ideologi dominan pada masanya, yang kira-kira semasa dengan pertentangan Manifes Kebudayaan dan Lekra di Indonesia pada tahun 1950-1960-an. Salah satunya yang pernah mampir dalam khazanah perpuisian di Indonesia adalah Al Bayati, nama lengkapnya adalah Abdul Wahab Al Bayati (1926-1999).

Saya mengenal Al Bayati dari sebuah kitab ghasab. Ups! Kitab, eh buku, yang dimaksud berjudul “Modern Iraqi Poetry” diterbitkan Dar al-Ma’mun, Baghdad, 1989. Dalam buku itu terhimpun puisi 34 penyair Irak. Adapun puisi Al Bayati yang termuat hanya dua, yaitu ‘Poems of Separation and Death’ dan ‘The Gipsy Symphony’ (hlm. 46-52). Saya mendapatkan buku itu pada tahun 2000-an, teriring cerita dengan alur yang berliku dan berlabirin kesunyian- mirip fiksi Borges.

Alhasil, begitu pada Mei 2001 terbit terjemahan buku puisi Al Bayati, berjudul “Cinta, Kematian, Keterasingan”, yang diterbitkan Putra Langit, Yogyakarta, saya begitu bahagia, meskipun ada beberapa terjemahan dalam buku tersebut yang kurang akurat dan kurang mengena, tetapi cukup untuk menghilangkan dahaga- walau sementara.

Sebagai pelengkap ngablak siang ini, saya sertakan sebuah terjemahan dari kitab ghasab, berupa puisi ‘Poems of Separation and Death’ bagian 1, hlm. 46.

Rembulan Irak, menyentuhkan pipi ke pepohonan,
Dan mengetuk pintu, sia-sia;
Sebelum orang miskin ini bangun, sang puteri
Berumah di sayap merpati ‘lah raib
Tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Siapapun yang melihatnya
Aku mohon sampaikan salamku

Demikianlah. Segitu dulu. Mudah-mudahan segera dapat disambung lagi.

On Sidokepung, 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *