Keterangan foto tidak tersedia.
Oleh Muhammad Jawy, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)

RumahBaca.id – Sebuah video Tiktok menampilkan jenazah yang diarak oleh orang-orang sambil bernyanyi, bersorak, bahkan berjoget. Kerandanya pun sempat diajak melambai-lambai. Sontak video itu viral ditonton 5 juta kali, dan tentu saja ribuan komentar mengalir deras di sana.

Tidak sedikit netizen yang berkomentar jail, “Kasihan yang meninggal, pasti kepalanya pusing.” Atau ada juga, “Mayat be like: wahana apa ini?”. Ditambah juga narasi seperti, ” Untung saya muslim, nggak ada pakai goyang-goyang jenazah kayak gitu”.

Indonesia ini sangat kaya budaya, saking banyaknya tidak semua dari kita pernah mengunjungi dan mengetahui keberagaman budaya itu. Kurangnya gaul, kurangnya wawasan, seringkali melahirkan budaya kagetan di media sosial ketika bertemu konten yang terasa asing baginya. Teknologi yang membuat orang mudah berkomentar, kemudian membuat orang seenaknya menulis tanggapan, namun melupakan etika.

Komentar miring dan menghakimi netizen terhadap prosesi jenazah itu tentu saja bisa melukai warga Toraja yang punya tradisi Rambu Solo dalam prosesi penguburan jenazah. Mereka memang punya filsafat, bahwa penguburan jenazah tak boleh tenggelam dalam kesedihan dan tangis air mata. Mereka punya keyakinan hal itu supaya arwah diterima dengan penuh kegembiraan di alam baka.

Di sinilah makna toleransi itu diuji. Toleransi adalah sikap tenggang rasa atas perbedaan keyakinan dan pendapat. Tentu tidak sembarang keyakinan atau pendapat, melainkan keyakinan dan budaya yang menjadi khazanah bangsa ini. Namanya perbedaan, pasti ada rasa ketidak setujuan. Wajar kalau misalnya ada yang tidak setuju dengan prosesi ala Toraja itu, ini manusiawi. Tetapi toleransi mensyaratkan kita untuk tidak asal berkomentar, apalagi di media sosial yang merupakan ruang publik.

Sebelum berkomentar, tanyakan dulu kepada orang yang mengetahui keyakinan atau budaya tersebut. Dalam hal ini, tanyakan kepada orang Toraja, atau tanyakan kepada orang lain yang tinggal di Toraja. Pendapat mereka sangat penting sebagai pengetahuan kita, dan kemudian akan membantu kita menemukan hal bijak dalam berkomentar di media sosial.

Dan hal ini berlaku untuk banyak hal lain di negeri ini, karena banyaknya perbedaan budaya dan keyakinan, kalau tidak disikapi dengan bijak, berpotensi melahirkan kegagapan yang berujung ketidakharmonisan.

Jagalah jari kita supaya tidak mudah menghakimi sebuah peristiwa padahal kita tidak mengetahui secara utuh konteksnya. Karena jari kita bisa melukai hati orang lain, karena ketidaktahuan dan kurang gaulnya kita, kurang silaturahmi kita.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

2 thoughts on “Gesekan Budaya di Media Sosial: Mudahnya Penghakiman Massal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *