Oleh: Masyhari*)

Rumah Baca – Hari ini, tepat di hari kelahiran (19/04), saya mendapatkan flayer kartu ucapan selamat digital dari ukm Sahabat Literasi IAIC – SLI. Menyusul setelah itu Hima Ekos Iaic, Hima Hki Iaic dan Ukm Teater Geni. Saya aminkan. Semoga keberkahan buat kita semua.

Dalam tulisan kali ini saya akan menyinggung tradisi penggunaan ketiga istilah: Harlah, Ultah dan Milad.

Bagi sebagian kalangan, khususnya bagi non-kader ormas militan semisal NU dan Muhammadiyah, ketiga istilah ini bisa jadi dianggap tak terlalu berbeda.

Ini tak ubahnya semisal penutup pidato, ceramah atau sambutan, setiap ormas -dan kalangan tertentu- punya gaya dan tradisi penutup sebelum salam yang berbeda-beda. Dan, penutup ini jadi ciri khas masing-masing, yang bisa jadi identitas dan identifikasi afiliasi seseorang.

Bagi sebagian besar kader ormas Nahdlatul Ulama, misalnya, belum kaffah ke-NU-an seseorang bila tidak fasih melafalkan kalimat penutup berbahasa Arab: Wallähul muwäfiq ilä aqwamit tariiq والله الموافق إلى أقوم الطريق (Allah lah yang akan mengarahkan (kita) pada jalan yang paling kokoh).

Kalau kamu ngerasa NU, maka sudah semestinya hafal, fasih dan membiasakan kalimat penutup ini. Bila sampai lupa, kamu bisa teridentifikasi tidak NU atau diragukan ke-NU-anmu..wkwkwk.. Hayo, sudah fasih belum? Kalau belum, sini kursus dulu.

Saya sendiri kurang tahu penutup pidato bagi kalangan kader Persyarikatan Muhammadiyah. Maklum, bukan warga, apa lagi kader. Tapi seingat saya (ingatkan bila salah) biasanya kader Muhammadiyah pakai kalimat “Nashrun minallahi wafathun qarib” (pertolongan dari Allah dan kemenangan itu begitu dekat).

Lalu, bagaimana dengan Persis? Ini saya juga kurang tahu. Tapi sebatas ingatan (semoga tak salah), mereka gunakan kalimat penutup: Billahi fi sabililhaq بالله في سبيل الحق. Yang artinya mungkin “Dengan pertolongan Allah dalam jalan kebenaran”.

Sementara itu, sebagian besar kalangan Muslim pada umumnya yang tidak berafiliasi pada ormas semacam NU, menggunakan kalimat “Billähittaufiiq wal hidayah” (بالله التوفيق والهداية).

Nah, kembali ke topik. Penggunaan istilah harlah (hari lahir), ultah (ulang tahun) dan milad juga sama.

Kalangan Nahdliyyin (kader Nahdlatul Ulama) lebih akrab dengan istilah hari lahir (harlah). Istilah ini dipakai untuk peringatan hari-hari kelahiran, misal hari lahir Ormas NU. Kata harlah juga dipakai untuk menyebut hari lahir Banom (Badan Otonom) NU atau para tokoh NU.

Nah, kalau ada orang atau pihak yang lebih memilih diksi milad, bisa dipertanyakan ke-NU-annya. Loh, berarti ke-4 flayer ini dibuat oleh bukan kader NU?

Saya tidak bisa memastikannya. Tapi begini, bisa jadi, para desainer flayer ini secara amaliah (praktik) beragama seperti halnya kebanyakan warga NU. Akan tetapi, status kadernya di organisasi NU masih diragukan atau dipertanyakan. NU-nya kuang kaffah.wkwkwk

Kita tahu, NU itu macem-macem. Ada NU sebatas amaliyah. Ngakunya sebagai jamaah NU. Tapi gak mau berorganisasi (jamiyah) di NU dan males (untuk tidak mengatakan gak mau) mendukung NU struktural. Ngaku NU tapi enggan menghidupkan organisasi NU. Sehari-hari emang sih tahlilan, marhabanan, qunut Subuh, melafalkan niat, talqin mayit, dsb. Mungkin ini lebih bagus atau beda tipis lah dengan orang yang bilang, “Yang penting Aswaja, dan tidak harus NU.”

Padahal, NU tidak hanya sebatas jamaah yang berbasis amaliyah, tapi jam’iyatan (secara organisasi), fikratan (pemikiran) dan harakatan (gerakan). Kalau sudah begitu, ke-NU-an kita bisa dibilang käffah, atau minimal mendekati sempurna lah.

Kata milad jarang -untuk tidak mengatakan tidak- dipakai oleh kalangan NU. Istilah milad dipakai oleh ormas Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis, kalangan hijrah, dan lain sebagainya. Milad berasal dari bahasa Arab, yang artinya hari lahir juga.

Istilah milad digunakan untuk menyebut hari lahir organisasi, tokoh atau orang. Istilah ini seakar kata dengan kata maulid yang sering digunakan oleh kalangan NU. Hanya saja, istilah maulid ini istimewa, hanya dipakai untuk kelahiran manusia agung Nabi Muhammad SAW.

Istilah ultah (ulang tahun) dipakai oleh kebanyakan orang di Indonesia tak peduli agamanya apa. Diksi ini dipakai untuk menerjemahkan kata birthday, seperti dalam lagu pendek dan amat populer itu.

Hanya, kalau menurut saya, kata birthday itu secara tekstual lebih tepat bila diartikan dalam bahasa Indonesia dengan HARI LAHIR. Dan, secara logika, tahun itu tak pernah berulang. Sehingga kurang tepat bila gunakan istilah Ulang Tahun. Sedangkan hari lahir adalah peringatan tanggal kelahiran seseorang.

Selamat hari lahir
Selamat hari lahir.
Selamat hari lahir.
Semoga berkah umur.

Bagi saya, tradisi peringatan harlah tahunan ini bukan bagian dari tradisi orang tua. Masa kecil dulu, orang tua di kampung (Lamongan-Jatim) biasa mengadakan syukuran kecil-kecilan setiap bulan sekali di hari yang disebut dengan weton. Yaitu hari lahir dan hari pasaran, semisal Senin Kliwon, Selasa Wage, dan lain sebagainya.

Biasanya, orang tua adakan syukuran setiap bulan pada hari weton itu dengan membuat hidangan bancakan nasi (tentunya plus lauk dan lalapan sayur kecipir, daun singkong atau yang lain) di atas nampan yang diletakkan di atas bak berisi air buat kobokan.

Kami biasa mengundang tetangga dekat. Makan bersama-sama dalam satu atau dua nampan besar. Makannya pun di halaman rumah.

Kalau soal lauk, biasanya dengan ikan goreng dengan sambal kelapa parut. Sambalnya khas, karena tidak digoreng, tapi dimatangkan dengan pecahan genteng yang dibakar. Almarhumah ibu saya suka bikin sambel model begini di rumah. Rasanya maknyus.

Syukuran weton biasanya dilakukan orang tua buat anaknya yang masih kecil sampai bisa jalan atau masuk sekolah. Dan, bila anaknya suka jatuh atau kena musibah, orang tua akan adakan acara bancakan (bagi sedekah) sebagai tolak bala. Makanya, kalau ada seorang anak yang suka celaka, akan ada yang bilang, “Wah, kurang bancakan!”

Cirebon, 19-20 April 2021

*) Yang terlahir di tanggal 19 April 1983

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *