0 0
Read Time:4 Minute, 35 Second

Oleh Dr. Zaprulkhan, M.Si., Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Bangka Belitung

Saya mengenal Hernowo melalui karya pertamanya Mengikat Makna, yang saya nikmati pada tahun 2002. Saat itu, saya sudah sangat menikmati kagiatan membaca. Tiada hari yang saya lewatkan tanpa kegiatan membaca. Bahkan terkadang dalam sehari semalam saya bisa membaca antara delapan sampai duabelas jam. Tapi sayangnya, saya belum terbiasa menulis. Waktu itu, saya belum bisa menikmati kegiatan menulis. Saya hanya menulis tugas makalah dari dosen di IAIN Raden Fatah Palembang. Terus terang, melaksanakan tugas menulis makalah saat itu bagi saya masih terasa sebagai beban yang agak berat. Artinya, saya tidak menikmati kegiatan menulis makalah, walaupun saya selalu berusaha menulis makalah-makalah saya dengan serius.

Tapi ketika saya merampungkan buku Mengikat Makna, mindset saya tentang menulis menjadi berubah. Salah satu hal yang paling mempengaruhi saya dan masih menorehkan jejak tak terlupakan dalam benak saya adalah penekanan Hernowo agar saya membiasakan menulis setiap hari sebagai hasil refleksi dan renungan dari bacaan saya terhadap apapun, terutama buku-buku yang saya baca, dalam sebuah buku agenda, dalam sebuah buku catatan, dalam sebuah diary. Saat itu juga, saya langsung membeli buku diary dan memaksakan diri menulis setiap hari sebagai hasil refleksi dari apapun yang saya baca dan saya alami setiap hari. Ternyata, saya sangat menikmati kegiatan mengikat makna itu.

Setelah itu, saya langsung memburu karya-karya Hernowo lainnya, seperti Andaikan Buku itu Sepotong Pizza, Spirit Iqro’, Quantung Reading, Quantum Writing, Main-Main Dengan Teks, Self-Digesting, Vitamin T, Mengikat Makna Sehari-hari, Aku Ingin Bunuh Harry Potter, Membacalah Agar Dirimu Mulia, Mengikat Makna Update, Flow di Era Socmed sampai karya terakhirnya, Free Writing.

Nyaris di sebagian besar karya-karya yang saya baca itu, Hernowo berulang kali menganjurkan agar membiasakan diri saya untuk menulis setiap hari dalam sebuah buku diary. Ternyata efeknya dahsyat: saya bukan hanya menjadi terbiasa menulis setiap hari, bahkan saya sangat menikmati kegiatan menulis di buku diary setiap hari; Sehingga sewaktu masih kuliah Strata Satu, saya sudah bisa mengumpulkan catatan harian saya sebagai refleksi dari buku-buku yang saya baca dan berbagai kegiatan yang saya alami dalam bentuk tiga buku catatan harian secara utuh.

Ketika sudah menikmati kebiasaan menulis di samping membaca, saya menemukan sesuatu yang berharga: ternyata kenikmatan dalam kebiasaan membaca dan menulis itu mempunyai konsekuensi psikologis yang positif. Dulu, ketika saya sudah menikmati kebiasaan membaca, lalu saya tidak membaca sehari atau dua hari saja, konsekuensinya saya akan merasa gelisah. Sekarang, setelah saya juga menikmati kebiasaan menulis dan tidak menulis sehari atau dua hari saja, saya juga akan merasakan kegelisahan yang sama.

Saya merasakan seakan-akan, there is something lost within me, ada sesuatu yang hilang dalam diri saya. Jadi kegiatan membaca dan menulis itu ada level-level konsekuensi psikologisnya. Tapi konsekuensi yang indah, karena membuat kita semakin kreatif dan produktif dalam membaca dan menulis. Di sini harus saya akui dengan jujur, Hernowo telah mempengaruhi saya dalam menulis. Baik pengaruh itu dalam bentuk psikologis yang bersifat memotivasi saya untuk selalu menulis, maupun pengaruh metodologis yang berupa konsep-konsep praktis dalam menulis. Keduanya telah menyatu dalam diri saya.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya bulan Mei 2011, saya bertemu langsung dengan sosok Hernowo dalam sebuah acara Workshop Quantum Reading dan Quantum Writing yang saya adakan di STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Saya melihat presentasi yang dibawakan oleh Hernowo amat menarik, enerjik, sekaligus inspiratif. Sebagaimana buku-bukunya yang sangat menggairahkan perasaan dan mencerahkan nalar, presentasinya juga sangat menggairahkan dan mencerahkan saya, para dosen dan para mahasiswa yang menyimaknya.

Setelah itu, dua tahun kemudian, saya mengundang Hernowo kembali dalam acara bedah buku Remy Sylado, yang bertajuk: Jadi Penulis? Siapa Takut! Dalam acara bedah buku itu pun, saya merasakan sekali sosok Hernowo yang sangat enerjik, inspiratif, sekaligus impresif dalam mengurai konsep-konsep menulis yang ada dalam buku Jadi Penulis?Siapa Takut? tersebut. Saya melihat, dunia buku, dunia yang berhubungan dengan membaca dan menulis memang sudah benar-benar menyatu dalam diri seorang Hernowo. Saya melihat, dunia literasi sudah menjadi nafas kehidupannya.

Tapi dua bulan lalu, tepatnya tanggal 24 Mei malam, sosok Sang Inspirasi Pengikat Makna ini meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. Tatkala mendengar berita wafatnya Pak Hernowo, melalui grup WhatsApp, saya kaget bukan kepalang. Sebab dua hari sebelumnya, saya masih sempat menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan kagiatan literasi dan hanya dalam waktu 30 menit beliau masih menjawab pertanyaan yang saya kirim via WA. Saya tidak tahu kalau saat itu beliau tengah sakit. Ketika berita wafatnya beliau sampai ke saya, saat itu saya masih berada di Aussie. Saya mengetahuinya melalui grup WA pada saat setelah sahur. Pada saat itu, saya hanya tercenung bisu seorang diri dalam kamar apartemen kampus Western Sydney University yang amat dingin itu.

Tiba-tiba saya teringat pengalaman saya bergumul dengan buku-buku Hernowo yang amat mencerahkan dan membuka perspektif saya dalam aspek membaca dan menulis. Saya teringat bagaimana buku-buku Hernowo telah menggerakkan saya untuk selalu menulis dan menjadi orang yang menikmati kegiatan menulis. Saya teringat sosok Hernowo yang sangat enerjik dan murah hati dalam berbagi apapun miliknya. Saya juga teringat figur Hernowo yang begitu tulus ikhlas dalam memberikan konsep-konsep kunci literasinya kepada saya.

Kapanpun saya membutuhkan jawaban-jawaban tentang dunia literasi, beliau selalu menyediakan waktunya untuk memberikan jawaban-jawaban yang memuaskan dahaga saya. Kini, saya telah kehilangan salah seorang figur teladan indah dalam dunia literasi. Saya amat berduka. Saat itu juga, saya hanya bisa berdoa semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Pak Hernowo dengan balasan terbaik-Nya, dan menempatkan di tempat terbaik-Nya, amin. (Bersambung)

Untuk melihat tulisan bagian 1, silakan baca di sini.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

2 thoughts on “Hernowo: Penggerak Literasi Bangsa (Bagian 2)

  1. […] Sehingga, dengan membaca buku-buku Hernowo, kita yang tadinya belum begitu paham dengan dunia baca-tulis tiba-tiba menjadi jelas semuanya. Kita yang sebelumnya tidak suka membaca dan menulis, tiba-tiba menjadi orang yang rakus membaca dan berani menulis. Kita yang sebelumnya tidak pernah bermimpi menjadi seorang penulis, tiba-tiba memiliki gairah untuk menjadi seorang penulis dan benar-benar menghasilkan beberapa karya buku secara individual. Dia bukan hanya mampu meniupkan spirit tentang gairah dunia baca-tulis, tapi juga mampu menggerakkan kita menjelma seorang pembaca dan penulis profesional dalam bidang kita masing-masing. Dalam konteks ini, sesungguhnya Hernowo bukan hanya seorang inspirator, tapi juga seorang transformator (dalam arti orang yang mengubah sesuatu, bukan dalam arti alat) dalam dunia literasi kita; Seorang transformator dalam dunia membaca dan menulis. (Bersambung ke bagian 2) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id