0 0
Read Time:3 Minute, 51 Second

Oleh Dr. Zaprulkhan, M.Si., Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Bangka Belitung

“Menulis, secara sederhana, saya artikan sebagai merumuskan hal-hal yang kita simpan ‘di dalam’ untuk kemudian dapat dipahami ‘di luar’. Syarat menulis yang dapat menghasilkan rumusan yang baik adalah adanya kongruensi. Ini dapat diartikan bahwa segala sesuatu yang ada ‘didalami’ (yang kita pikir dan rasakan) harus sama persis dengan segala sesuatu yang ada ’di luar’ (yang kita tulis dan lakukan).

Seseorang tidak akan mampu menulis secara baik apabila dia tidak mengenali dan berusaha keras menggali materi-materi yang ada di dalam dirinya. Seseorang tidak akan mampu mengeluarkan apa-apa yang ‘di dalam’ lewat sebuah tulisan, apabila apa-apa yang ingin dikeluarkannya itu tidak pernah dialaminya secara konkret. Menulis, dalam konteks yang paling sublim, adalah sebuah aktivitas untuk mengekspresikan diri kita secara total”.

Hernowo dalam Mengikat Makna

Kutipan bernas itu saya ambil di penghujung karya pertama Hernowo yang sangat mencerahkan: Mengikat Makna. Definisi tentang menulis yang digulirkan Hernowo sangat menarik dan unik. Bagi Hernowo, menulis adalah proses menuangkan sekaligus membagikan kekayaan hidup kita secara keseluruhan, baik secara intelektual dan emosional, maupun secara mental dan spiritual. Kalau kita mampu melakukan proses penulisan seperti itu, kata Hernowo: “Insya Allah akan mampu meledakkan potensi diri menjadi sebuah cara terefektif untuk menunjukkan kemampuan diri”.

Dalam buku Mengikat Makna Update, Hernowo bahkan mengeksplorasi pengertian menulis dengan menggunakan sepuluh kata kerja kunci secara eksploratif yang meliputi: mengikat, mengonstruksi, menata, memproduksi, menampakkan, menggali, membuang, menjabarkan, mengeluarkan, dan membagikan. Semua kata kerja inti tersebut dieksplorasi secara impresif dengan bahasa yang sangat personal khas seorang Hernowo.

Sebagai contoh, menulis adalah mengonstruksi atau menyusun dan membangun, (mengonstruksi diletakkan sebagai definisi kedua). Kata Hernowo: Saya ingin menggunakan pandangan John Dewey dalam hal ini. Menurut Dewey, sepenggal ilmu akan masuk dan bercampur dengan diri saya ketika saya berhasil mengonstruksi ilmu itu. Apabila saya hanya menerima atau mewadahi, sesungguhnya itu ilmu tidak menjadi bagian dari diri saya. Saya harus mengolah ilmu itu dan menyusunnya menjadi sesuatu yang khas diri saya. Dalam bahasa lain, ilmu adalah pengalaman baru; sementara di dalam diri saya sudah tersimpan pengalaman lama. Saya akan menjadi manusia baru jika pengalaman lama saya terkait atau dapat saya kaitkan dengan pengalaman baru tersebut. Dan untuk mengait-ngaitkan atau—merujuk ke Dewey—mengonstruksi (menyusun dan membangun)-nya, saya memerlukan bantuan kegiatan menulis.

Tentu saja berbagai pengertian tentang menulis yang dirumuskan oleh Hernowo tidak berdiri sendiri. Pengertian tentang menulis itu ditimbanya dari para pakar kaliber dunia, seperti James Pennebaker, Stephen Krashen, Bobbi Deporter, Gabriele Lusser Rico, Peter Elbow, Natalie Goldberg ataupun John Dewey. Namun yang bagi saya sangat menarik, Hernowo mampu dengan begitu fasih merumuskan kembali dengan bahasanya sendiri yang hidup, penuh gairah, ekspresif, sekaligus inspiratif. Dalam kegiatan menulis adalah mengonstruksi misalnya, Hernowo dengan terus terang memungut pandangan Dewey. Tapi yang menarik, Dewey sendiri tidak menghubungkan dengan kegiatan menulis ketika berbicara tentang konstruksi ilmu. Hanya kreativitas seorang Hernowo-lah yang mempu mengaitkannya secara demonstratif dengan kegiatan menulis.

Sebagai contoh lain adalah ketika Hernowo menguraikan tentang orang yang memiliki visi dalam menulis (bervisi) dengan pijakan awal merujuk pada pandangan Muhammad Iqbal tentang visi. Lalu beliau memperluas bahasanya secara ekspresif-inspiratif. “Kalau berpijak pada pandangan Iqbal”, tulis Hernowo, “orang yang bervisi adalah—dalam rumusan saya—orang yang memiliki kemampuan menyatukan atau merajut masa lalu yang jauh dengan kekinian dan kedisinian yang sedang dilakoninya untuk kemudian ‘menengok’, secara amat menukik, pelbagai kemungkinan yang akan terjadi di depan”.

Dalam satu aspek ini saja, kita harus mengakui kreativitas seorang Hernowo. Karena itu bukan tanpa makna ketika Hernowo mengenalkan beragam konsep membaca dan menulis, seperti Mengikat Makna, Self-Digesting, Menulis-Dinamis dan Menulis-Sinergis, Quantum Reading, Quantum Writing, hingga Free Writing ke tengah-tengah khalayak masyarakat Indonesia. Semua konsep tersebut begitu sarat dengan makna. Dan dengan sentuhan kreativitas seorang Hernowo, seluruh konsep tersebut benar-benar menjadi hidup, fungsional, inspiratif sekaligus transformatif yakni menggerakkan kita untuk membaca dan menulis.

Sehingga, dengan membaca buku-buku Hernowo, kita yang tadinya belum begitu paham dengan dunia baca-tulis tiba-tiba menjadi jelas semuanya. Kita yang sebelumnya tidak suka membaca dan menulis, tiba-tiba menjadi orang yang rakus membaca dan berani menulis. Kita yang sebelumnya tidak pernah bermimpi menjadi seorang penulis, tiba-tiba memiliki gairah untuk menjadi seorang penulis dan benar-benar menghasilkan beberapa karya buku secara individual. Dia bukan hanya mampu meniupkan spirit tentang gairah dunia baca-tulis, tapi juga mampu menggerakkan kita menjelma seorang pembaca dan penulis profesional dalam bidang kita masing-masing. Dalam konteks ini, sesungguhnya Hernowo bukan hanya seorang inspirator, tapi juga seorang transformator (dalam arti orang yang mengubah sesuatu, bukan dalam arti alat) dalam dunia literasi kita; Seorang transformator dalam dunia membaca dan menulis. (Bersambung ke bagian 2)

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

2 thoughts on “Hernowo: Penggerak Literasi Bangsa (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id