Oleh Dra. Evy Aldiyah, Guru IPA SMP Negeri 202 Jakarta

RumahBaca.id – Belakangan ini darahku terasa mendidih bila melihatnya, benci dan sebel sudah tingkat dewa, membuat tensi darahku naik tanpa terasa. Tapi dia seperti tidak punya rasa, hadir lagi dan lagi, seenaknya. Dan aku sudah memaklumatkan perang, siap berjibaku bertarung untuk melawan. Persiapan perangku bukan kepalang. Dengan mengendap, berjingkat, tanpa ekspresi, berputar-putar bola mata, siap dengan alat penyemprot dan pemukul, aku sudah seperti pembunuh berdarah dingin. Baru saja aku menggeserkan bola mata ke kiri, tiba-tiba dia muncul di pojokan kanan. Hyyaaa, dengan tenaga penuh kusemprotkan cairan pembasmi serangga bermerek paling oke ke arahnya. Menurut iklannya serangga akan mati dalam 5 detik. Tapi ternyata tidak. Dia malah loncat terbang ke arahku dan menempel di lengan bajuku.

Semangat perang jadi kacau. Kaleng pembasmi serangga yang kupegang terlepas, dan aku berteriak menepuk-nepuk lengan baju dengan punggung tanganku. Sementara dia menghilang di balik lemari kecil dalam gudang ini. Kuambil kaleng pembasmi cairan serangga tadi. Dengan sedikit menggeser lemari kecil itu kusemprotkan cairan pembasmi serangga ke balik lemari. Sejak kemarin dan hari ini aku telah membuat 3 kecoak besar mati terkapar. Tapi perang belum selesai sampai di sini, karena mereka pasti menyembunyikan generasi keturunannya pada suatu tempat yang belum terdeteksi olehku.

Siapa yang tidak mengenal kecoak? Saat ini dia tidak lagi identik dengan tempat kotor dan jorok. Justru di tempat sampah depan rumah tidak pernah kutemui seekor kecoak pun. Mereka berlindung di tempat adem dan nyaman, dalam rumah, gudang, lemari yang jarang dibuka, dan kotak yang selalu tertutup. Bahkan di dalam masjid pun ada. Mereka lincah, aktif dan mudah menyelinap.

Pernah kualami, kakiku keseleo karena menginjak seekor kecoak. Tetapi kecoaknya malah menghilang entah kemana meninggalkanku dengan kaki yang kesakitan. Pernah juga aku menyaksikan seekor kecoak mampu membubarkan jamaah pengajian anak-anak perempuan di masjid dekat rumahku. Meninggalkan suara teriakan histeris sementara kecoaknya hilang entah ke mana. Belum lagi kecoak yang pernah kutemui di rumah seorang sahabat. Saat itu, kudapati mereka merangkak di atas peralatan masak dan peralatan makan di dapur, meninggalkan kuman penyakit yang menempel di kaki dan tubuh mereka. Ya, kecoak memang meresahkan.

Kecok, musuh kecil dalam rumah. Cenderung banyak berkeliaran pada saat musim hujan seperti ini, menimbulkan rasa jijik. Info dari buku Parasitologi yang pernah kubaca, selain pembawa kuman bakteri Salmonella dan Shigella yang menyebabkan gangguan pencernaan, kecoak juga pembawa virus hepatitis A dan parasit cacing. Kecoak tidak menggigit atau pun beracun. Tetapi kecoak mampu menimbulkan penyakit psikis pada seseorang karena takut berlebihan pada kecoak, istilahnya katsaridaphobia atau efek entomophobia.

Hewan yang memiliki spirakel untuk bernapas ini ternyata memiliki syaraf ganglion dengan simpul yang kuat. Itulah mengapa kecoak sepertinya sulit sekali untuk mati. Pernah aku mengajak anak-anak di sekolahku untuk mengamati simpul syaraf tersebut. Meskipun sudah dinyatakan mati karena dipukul, ternyata syarafnya masih dapat menggerakkan kaki-kakinya, bahkan masih bisa berjalan tanpa kepala. Masyaallah, luar biasa. Dan satu lagi yang mungkin menjadi kelebihan hewan ini, kecoak betina mampu menghasilkan telur tanpa melalui masa kawin, istilahnya partenogenesis. Telur yang dikeluarkan dari tubuh kecoak betina dapat mencapai 50 butir, menetas dalam waktu paling lama 40 hari untuk menjadi kecoak muda. Fantastis, dan membuatku merinding.

Ya, akhirnya aku jadi kepo sama kecoak, setelah dia berhasil membuatku naik darah. Dan karena rasa penasaran ini aku menjadi lupa bahwa aku tadi sedang berperang melawan kecoak. Seperti yang pernah kudengar dari salah satu petinggi negara ini, sebelum menyatakan perang kita harus mengenali karakter musuh kita supaya mudah mencari jalan untuk mengalahkannya. Benar begitu kan? Pembaca yang budiman yuk kepoin kecoak.

Hewan mungil bersayap ini cukup banyak jenisnya. Ia merupakan salah satu serangga yang pernah punya pengalaman lolos dari kepunahan pada Zaman Karbon sekitar 305 juta tahun yang lalu. Jadi, kecoak sudah muncul di permukaan bumi ini pada Zaman Dinosaurus looh. Hebat ya kecoak. Masyaallah. Itulah mengapa dalam artikel The Carboniferous, pada Zaman Karbon disebutkan juga sebagai The Age of Cockroaches atau era kecoak. Karena sudah banyak kecoak hidup pada zaman itu.

Zaman Karbon adalah zaman yang mempunyai temperatur tinggi, lalu berubah drastis menjadi dingin dan kering. Perubahan iklim tersebut menyebabkan kepunahan banyak flora dan fauna pada zaman itu, termasuk dinosaurus. Namun kecoak adalah hewan mungil yang paling sukses bertahan hidup dan beradaptasi hingga saat ini. Dinosaurus dengan tubuh besar itu pun tidak mampu beradaptasi hingga mengalami kepunahan.

Sebuah penelitian Nature Communications membuktikan bahwa tubuh kecoak dapat mentolerir tingkat radiasi yang tinggi. Selama masih bisa makan dan minum, mereka mampu bertahan hidup meskipun telah terkena sinar radiasi tersebut seolah tidak terjadi apa-apa. Kecoak ditemukan di Hiroshima dan Nagasaki setelah kota tersebut dibumihanguskan oleh bom nuklir. Kecoak juga masih berkeliaran di Chernobyl setelah terjadi ledakan nuklir di wilayah tersebut.

Hingga saat ini spesies kecoak sudah tersebar di permukaan bumi, dari hutan hingga hidup berdampingan di pemukiman manusia karena aktif bergerak mencari makanan, hingga akhirnya secara global menjadi hama di pemukiman manusia. Sebagian besar manusia mengendalikan hama kecoak dengan produk insektisida yang laris dijual di pasaran. Namun membasmi kecoak dengan pestisida terus menerus justru membuatnya kebal terhadap insektisida. Gen kebal tersebut akan diturunkan kepada keturunan selanjutnya. Yang mati adalah kecoak-kecoak yang lemah. Kecoak yang kuat akan terus bertahan hidup dan menghasilkan keturunan kecoak-kecoak yang kuat.

Fakta yang kudapat dari ilmu tentang serangga (Entomologi) bahwa kecoak tidak bisa hidup tanpa air. Bila ada kecoak mati, kemungkinan besar karena kehausan. Seperti berada di gurun pasir ya, kecoak mati kehausan. Tetapi bila kita celupkan kecoak ke dalam air tidak serta merta mati, karena kecoak adalah hewan yang pandai menahan napas selama lebih kurang 40 menit. Masyaallah, luar biasa. Jadi bila para pembaca yang budiman membuang kecoak ke dalam lubang WC lalu menyiramnya hingga dia menghilang, hal itu bahkan memberikan mereka waktu yang cukup untuk mencari tempat yang aman untuk bisa tetap hidup.

Kecoa bukan serangga terbang yang baik. Matanya buta, tidak seperti mata faset pada capung atau kupu-kupu. Mata kecoa hanya mengandalkan cahaya, ia terbang karena tertarik cahaya dan terbang semampunya ke sana ke mari. Itulah mengapa aku merasa geli menyaksikan jamaah pengajian anak-anak perempuan di masjid dekat rumahku menjadi kacau hanya karena seekor kecoak yang terbang hinggap-terbang hinggap pada mukena mereka. Padahal kecoak itu sendiri terbangnya kacau.

Aku pun berpikir, apa hikmah di balik penciptaan kecoak ya? Mungkin dalam timbangan berat kecoak lebih banyak sisi negatifnya. Akan tetapi tidaklah mungkin Allah menciptakan suatu makhluk dalam keadaan sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya. Terutama dari sisi sains tentu saja kecoak memiliki peranan dalam ekosistem yaitu tergolong detritivor, yaitu pemakan sampah organik, pemakan sisa-sisa bangkai hewan dan tumbuhan. Kehadiran kecoak juga memberikan hikmah bagi manusia, bahwa manusia harus selalu menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit.

Hikmah yang tidak kalah pentingnya yang dapat kita ambil dari cerita kehadiran kecoak di muka bumi sejak Zaman Karbon yaitu kemampuannya beradaptasi sehingga mereka tetap eksis hingga saat ini. Sebagai manusia kita pun diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman, agar kita tetap eksis tanpa kehilangan jati diri. Kita perlu mengasah kemampuan diri untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, membuka pikiran, menerima hal-hal baru, meningkatkan kompetensi diri, dan selalu proaktif. Beradaptasi dengan bersikap positif akan membuat hidup menjadi jauh lebih baik untuk diri kita sendiri maupun bagi sekitar. Mudah beradaptasi disebut sebagai salah satu kunci utama jika seseorang ingin meraih sukses dalam hidupnya. Belajar dari kecoak, hanya manusia yang mampu beradaptasilah yang pada akhirnya akan bisa tetap eksis. Bagaimana, setujukah pembaca?

Kupandangi bangkai kecoak di bawah lemari kecil yang telah mati kaku karena mabuk akibat kusemprot dengan cairan pembasmi serangga tadi. Tidak jauh dari sana tampak beberapa semut hitam yang juga ikut mati, membuatku termenung sejenak dan merasa sedikit bersalah. Baiklah kecoak, besok aku akan berperang melawanmu lagi, di gudang ini, tapi dengan cara yang lain.[]

Bagikan tulisan ke:
14 thoughts on “Hikmah di Balik Eksistensi Kecoak”
  1. Masya Allah mantap sekali
    Kata-katanya tersusun dengan baik, menarik dan mudah dipahami.
    Terima kasih atas ilmunya

  2. Subhanallah…cerita yang menarik.. tak ubahnya saya pun sering di bikin jengkel oleh binatang yg Satu ini… tapi itulah Allah.. Dia Mampu menciptakan apapun yg dia kehendaki walaupun itu menjengkelkan manusia tapi ternyata banyak hikmah yg tersirat di balik semua penciptaanNYA baik kecil maupun besar baik itu terlihat sepele atau tidak… Semangat terus bu untuk berbagi ilmu karna ilmu yg bermanfaat utk orang lain kelak akan bergema di keabadian

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id