Oleh Masyhari, Sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon, Dosen IAI Cirebon

Rumah Baca – Pagi ini (13/05/2021) tepat di hari lebaran nan fitri 1 Syawal 1442 H Dr Raffan Syafari Hasyim telah meninggalkan kita semua setelah beberapa hari dirawat di RS Pertamina Klayan, Cirebon.

Siang tadi jenazah Almarhum disalatkan dan dikebumikan di Pilangsari (Kedawung, Kabupaten Cirebon). Sesal hati, tadi saya telat, tidak ikut serta menyalatkan dan mengiringi pemakaman beliau. Habis salat Zuhur tadi kepala berasa ngantuk berat, rebahan, hingga akhirnya ketiduran sampai jam 2 siang.

Saya pun langsung tancap gas. Sesampai di rumah duka jelang Asar, hanya tersisa beberapa orang pelayat. Beruntung masih ada Sukanda, seorang kawan pelukis kaca Cirebonan yang cukup akrab dengan almarhum. Saya langsung diantar olehnya masuk ketemu keluarga almarhum; istri dan kedua putrinya untuk sampaikan doa dan ungkapan bela sungkawa. Semoga beliau husnul khatimah & keluarga diberikan kesabaran dan ketabahan. Amiin.

Segenap Keluarga Besar Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon turut berdukacita yang mendalam atas berpulangnya Dr. Raffan Syafari Hasyim, dewan pakar ISNU Kab. Cirebon, sekaligus dewan pakar Lesbumi Kab. Cirebon.

Tokoh yang akrab disapa Kang Opan ini merupakan seorang filolog, sejarawan & budayawan Cirebon yang tersohor. Setahun yang lalu saya secara tidak sengaja melihatnya di KUA Kecamatan Weru. Mahasiswi saya yang bekerja jadi staf di sana bilang, bahwa Kang Opan merupakan pengawas Madrasah di Kecamatan Weru. Sebelumnya, saya tahu almarhum seorang dosen di Fakultas UAD IAIN Syekh Nurjati Cirebon & ISIF Cirebon.

Sependek yang saya tahu, Almarhum merupakan sosok pribadi yang sederhana nan bersahaja. Kesederhanaan beliau ingatkan saya pada Almarhum Prof. Chozin Nasuha Arjawinangun, rektor ISIF Majasem kala itu. Baik Prof Chozin maupun Kang Opan, kalau ke kampus atau ke tempat “dinas” lainnya seringnya naik angkutan umum. Beberapa kali saya pernah memergoki Almarhum jalan kaki di jalan raya. Bisa jadi Kang Opan memang tidak punya kendaraan pribadi, baik mobil ataupun motor.

Pemandangan semacam ini sudah jarang kita temui di sekitar kita. Jangankan kalangan akademisi atau tokoh, bahkan kebanyakan kita orang biasa saja seperti sudah tidak bi[a]sa ke mana-mana kalau tidak naik kendaraan pribadi, entah motor atau mobil pribadi. Sudah jarang yang mau naik angkutan umum, entah karena gengsi, kenyamanan atau alasan lainnya. Kesuksesan seseorang, termasuk akademisi, bahkan ada kecenderungan diukur dari tunggangan kendaraan pribadinya, bukan karya tulis yang diterbitkannya.

Setahun yang lalu, Pimpinan Cabang ISNU Kabupaten Cirebon menghadirkan kang Opan sebagai narasumber dalam webinar tentang polemik kepemimpinan sultan Keraton Kasepuhan Cirebon. Pasca meninggalnya Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, polemik tentang keabsahan sultan sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon kembali mencuat. Keraton Kasepuhan Cirebon kembali kisruh.

Dikabarkan oleh sejumlah media massa, bahwa pihak keluarga Rajardjo Dali yang sempat menyegel kediaman almarhum Sultan Arief beberapa waktu lalu mengangkatnya sebagai Polmak atau PJS Sultan ke XV Keraton Kasepuhan Cirebon.

Liputan6.com melansir, keluarga Rahardjo menganggap penobatan Luqman Zulkaedin sebagai penerus takhta Keraton Kasepuhan Cirebon dari almarhum Sultan Arief tidak sah. “Penobatan Luqman Zulkaedin tidak sesuai aturan adat, yang salah satunya harus ada garis nasab dari Sultan sebelumnya hingga ke Sunan Gunung Jati,” jelas Rahardjo.

Dan, Kang Opan termasuk di antara tokoh yang kerap bersuara cukup keras ‘menggugat’ keabsahan sultan Keraton Kasepuhan. Intinya, ada cacat historis dalam kepemimpinan sultan di Keraton Kasepuhan.

Suara semacam ini pernah juga saya dengar dalam satu acara kajian bersama Kang Opan di Sekretariat PAC IPNU-IPPNU Kec. Kedawung sekitar tahun 2018 yang lalu.

Selain itu, ada sejumlah informasi historis lain yang saya peroleh dari Almarhum di antaranya tentang sejarah Kuwu di Cirebon, keterkaitan antara nama Pengeran Drajat di Kesambi Kota Cirebon dan Sunan Drajat di Paciran Lamongan, keterkaitan antara Sultan Cirebon dan penjajah Belanda, sejarah pesantren-pesantren di Cirebon, asal-muasal Sumber air Balong Keramat Tuk di Kedawung, dan lain sebagainya.

Singkat Sejarah Kuwu di Cirebon

Kata kuwu dikenal sejak era Pangeran Cakrabuana yang dikenal dengan Mbah Kuwu Sangkan. Dalam obrolan sejarah bersama PAC IPNU-IPPNU Kedawung, Kang Opan menceritakan bahwa dulu Kuwu di Cirebon itu dipersiapkan sejak dini. Semenjak kecil, para calon kuwu dididik di sebuah padepokan atau surau. Pendidikan meliputi segala aspek kehidupan, spiritual, strategi, kepemimpinan, dan lain sebagainya. Alhasil, para alumni padepokan ini nantinya siap sedia menjadi seorang kuwu, pemimpin rakyat yang benar-benar matang dan mumpuni.

Ini berbeda dengan kondisi kuwu sekarang. Tak ubahnya seperti kepala desa di daerah-daerah lain. Padahal, selain sebagai kepala pemerintahan, kuwu juga berfungsi sebagai pimpinan agama di wilayahnya masing-masing. Pemilihan kuwu sekarang dilakukan melalui pemilu secara demokratis. Siapa yang kuat secara modal akan berpeluang lebih besar. Soal kualitas akademik, kepemimpinan, kebijaksanaan dan spiritualitas bisa jadi bukan pertimbangan utama. Asal dapat suara terbanyak, ia jadi kuwu. Namanya saja demokrasi elektoral, money politic pun sulit dihindarkan.

Keterkaitan antara Pangeran Drajat di Kesambi & Sunan Drajat di Paciran Lamongan

Dalam kesempatan obrolan di Pilangsari Kedawung itu, saya tanyakan adakah keterkaitan antara nama Pangeran Drajat yang menjadi nama jalan di kelurahan Drajat di Kesambi Kota Cirebon dengan Sunan Drajat di desa Drajat Paciran Lamongan?

Kata Kang Opan, memang ada keterkaitan. Kedua nama adalah sosok yang sama. Dikisahkan bahwa suatu ketika Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunungjati mengalami kesulitan dalam mencari sumber air. Maka Raden Qosim Sunan Drajat dihadirkan ke Cirebon untuk mencarikan sumber air. Mungkin, untuk mengenang kehadiran Sunan Drajat, dibuatkan nama jalan Pangeran Drajat di Kesambi Kota Cirebon.

Sumber Air Balong Kramat Tuk (Kedawung)

Pada suatu siang sebelum pandemi, secara tidak sengaja, saya bertemu Kang Opan di sebuah food court depan kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Kang Opan bilang bahwa konon katanya air balong kramat Tuk itu asalnya dari sumber mata air di bukit Plangon, Sumber. Lewatnya melalui saluran irigasi bawah tanah yang dibangun pada masa Sunan Gunung Jati. Konstruksinya secara tradisional, semacam filter air menggunakan kerikil dan bebatuan, sehingga air yang teralirkan tersaring dan tidak keruh.

Kabar ini memang perlu riset yang lebih mendalam. Sumber-sumber sejarah yang Kang Opan sampaikan, selain literatur berupa naskah & manuskrip, juga tutur lisan dari para tokoh sepuh. Wallahu a’lam.

Selamat jalan Kang Opan. Semoga husnul khotimah. Lahul fatihah.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

One thought on “Kang Opan, Filolog Sederhana Nan Bersahaja Itu Telah Pergi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *