Oleh Eni Ratnawati, Mahasiswi Prodi Ekonomi Syariah, Pegiat Literasi IAI Cirebon

Rumah Baca – Apakah kamu termasuk yang mengalami hal ini: hasrat menulis begitu besar namun tidak tahu harus memulai dari mana? Bagaimana supaya ide menulis bisa mengalir bebas hambatan? Kalem saja Sista, kamu tidak sendirian kok! Banyak penulis pemula, bahkan yang sudah lama berkecimpung dalam bidang penulisan pun mengalami hal yang sama.

Berikut tiga hambatan yang umum terjadi pada penulis pemula beserta solusinya:

Bingung Bagaimana Memulai Tulisan

Kamu pasti pengen tahu dong bagaimana cara mengatasi hambatan yang seringnya bikin gregetan ini. Oke, sebelumnya coba kamu ingat kembali, ingat baik-baik ya, pikiran apa yang pertama kali muncul saat mulai menulis? Apakah kamu berpikir akan menulis sesuatu yang spesial? Yang berbeda? Atau kamu berpikir bahwa tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu memikat pembacanya, dengan pilihan kata dan gaya bahasa seperti standar penulis kondang? Jika iya, maka sebenarnya kamu tidak sedang ingin menulis tapi sekadar bermimpi menjadi penulis.

Tidak masalah sebenarnya jika kamu menginginkan tulisanmu sekece tulisan idolamu, itu bukan sesuatu yang buruk. Tetapi tidak bijak jika hasrat itu membebani pikiran yang justru membuat kamu gagal menghasilkan sebuah tulisan.

Solusinya bagaimana? Menulis ya menulis saja. Mulailah dengan sesuatu yang dengan mudah bisa kamu tulis, apa saja. Hal-hal atau orang-orang di sekitarmu, tentang pengalamanmu atau bisa juga pengalaman orang lain. Hindari ekspektasi tinggi terhadap tulisan yang akan kamu hasilkan. Biarkan hasrat menulis itu mengalir dari dalam diri kamu dengan spontan, jernih, jujur, apa adanya.

Apakah tulisan yang jujur dan polos itu layak dibaca? Bagaimana dengan penilaian orang lain terhadap tulisan kita? Jika di pikiran kamu muncul pertanyaan-pertanyaan semacam ini, maka inilah hambatan menulis berikutnya.

Takut Kritik dan Penilaian Orang Lain

Menulis adalah kegiatan menyampaikan gagasan atau ide yang dituangkan melalui tulisan. Bisa jadi gagasan kita menuai banyak pujian, tetapi di samping famous dan applaus siapkan juga telinga dan mental kita untuk sambut kritikan.

Kritikan adalah hal yang wajar. Penilaian orang terhadap suatu karya tulis tidak seharusnya disikapi sebagai serangan, intimidasi atau pembunuhan karakter. Sebaliknya, penilaian itu bisa menjadi modal kita untuk memperbaiki tulisan dan memperluas wawasan. Sesederhana itu. Itu trik praktis untuk mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang jika dibiarkan akan mematikan kreatifitas dan produktifas. Siapa yang rugi? Jelas diri sendiri.

Memilih menjadi penulis berarti memilih jalan untuk jujur sekaligus kritis. Itu berarti, penulis siap ‘bertelanjang diri’ di depan umum dengan suara khasnya dan pikiran kritisnya. Bagaimana pun bentuknya, entah esai, artikel atau pun cerpen dan novel, tulisan adalah representasi dari cara berpikir, cara berbahasa dan cara berprilaku penulisnya.

Saya pribadi ketika memberi kritik terhadap suatu tulisan, lebih karena apresiasi. Itu karena saya melihat ada potensi yang luar biasa bagus yang bisa terus digali dan dikembangkan. Dan bahwa penulis, saya kira masih bisa memoles tulisannya menjadi sebuah karya yang lebih oke lagi. Bayangkan jika kamu disuguhi tulisan yang berantakan, asal-asalan yang membuat mata dan otak kamu cenut-cenutan? Kritik apa yang akan kamu berikan? No! Just lieve it. Jadi, mulai sekarang yakinkan diri: jika kamu dikritik, itu artinya kamu berpotensi.

Kehilangan Ide Saat Menulis

Sebelum kamu mulai menulis, ada baiknya kamu sudah mengantongi beberapa topik, tema dan judul apa saja yang akan kamu kupas dalam tulisan kamu. Ini salah satu cara agar saat menulis, kamu tetap bisa fokus dan tidak kehilangan poin-poin yang ingin dituliskan.

Apa pun ide yang muncul dalam pikiran, tangkap dan ikat dengan apik. Kumpulan ide itu semakin banyak semakin baik. Eksekusi ide bisa kapan saja sesuai kebutuhan dan mood kita. Tetapi membiarkan ide menguap dan lenyap begitu saja, itu seperti melewatkan satu sore di mana senja menjamu rindu-cinta antara kamu dan dirinya. Uhuyyy. 😝

Bagaimana jika kita tetap mengalami kebuntuan ide bahkan setelah menyiapkan banyak sketsa bahasan?

Mandeg saat nulis itu bisa disebabkan oleh banyak hal. Jika sekedar lost idea, akan teratasi dengan refreshing yang cukup. Beri jeda diri kamu untuk sebentar menghirup segarnya udara di luar jendela penulisan. Tinggalkan laptop, hape, dan pikiran-pikiran kusut. Mulailah bersenang-senang.

Refreshing bisa dilakukan dengan banyak cara: membaca novel, nonton drakor, mendengarkan musik, bernyanyi dengan suara kencang, belanja berbagai kebutuhan dan bukan kebutuhan hanya di Shopee, bermain bebas dengan anak-anak, dan banyak pilihan lain.

Pastikan kamu membuka diri untuk segala hal positif di sekitarmu. Biarkan energi itu mengisi penuh baterai jiwamu. Terima ide yang bermunculan dari setiap indera, dari setiap penjuru arah. Jadilah saksi setiap detail yang ditawarkan oleh semesta. Dan jika dirasa cukup, dekatilah tulisanmu dan rasakan bagaimana ide dan semangat itu melimpah ruah.

Mari menulis, mari bertumbuh bersama.

Griya Baca Alima, Juni 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *