03/07/2022

RumahBaca.id

Kreatif, Inovatif & Inspiratif

Mengapa Literasi Waktu Amat Penting?

0 0
Read Time:4 Minute, 10 Second

Oleh A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WAKTU adalah satu-satunya hal yang pasti dimiliki semua orang, tanpa mengenal status sosial, tanpa peduli jarak, bahkan tanpa menggubris perasaan.

Tapi waktu pula yang mudah berubah jadi sia-sia bila diabaikan. Waktu pun jadi begitu berharga bila mau memanfaatkannya. Ada banyak orang yang bilang “tidak punya waktu”. Mungkin karena sibuk bekerja, sibuk mengejar sesuatu yang sudah dijatahkan untuknya. Bahkan sibuk urusan yang tidak penting, hingga lupa menggunakan waktu untuk hal yang baik, untuk aktivitas yang positif.

Apakah benar, ada orang tidak punya waktu?

Faktanya banyak orang lupa, sebenarnya bukan Anda yang tidak punya waktu. Tapi justru waktu yang “tidak mau” mendekat kepada orang-orang yang kerjanya mengeluh, membenci atau marah.

Waktu sama sekali tidak ingin bersahabat kepada orang yang selalu bertanya, kenapa begini kenapa begitu? Hingga orang itu lelah sendiri. Maka waktu pun akan pergi begitu saja. Apa pun keadaannya. Sedih atau bahagia, kaya atau miskin. Waktu akan terus berjalan. Waktu tidak akan pernah menunggu, siapa pun. Hanya waktu yang bebas mau diperlakukan seperti apa? Berdiam diri atau bertindak segera.

Waktu itu seperti hujan. Tidak pernah memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun.

Pertanyaannya, kenapa literasi waktu seringkali disia-siakan?

Islam memandang waktu adalah salah satu nikmat pokok. Tanpa waktu, semua yang kita miliki tidak akan berarti. Saking pentingnya waktu. Allah Swt pun bersumpah atas nama waktu pada beberapa ayat yang tertera dalam Al-Qur’an, salah satunya tersurat dalam Surah Al-Lail: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), (1) demi siang apabila terang benderang (2)”. (QS.Al-Lail [92]:1-2),

Hasan Al-Bashri mengatakan: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu”.

Pada hakikatnya, waktu bagi manusia adalah umurnya sendiri. Apabila waktu berlalu, maka usianya pun semakin berkurang. Rasulullah Muhammad Saw seringkali memperingatkan umatnya tentang waktu, di antaranya:

Pertama: Jangan tertipu dengan waktu luang

Nabi Muhammad bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR.Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata “tertipu” dalam hadis ini bermakna merugi. Banyak manusia yang merugi karena nikmat sehat dan waktu luang.

Ada orang yang sehat fisiknya, namun ia seakan tak punya waktu untuk persiapan akhirat karena terlalu sibuk dengan kehidupan dunia. Ada pula orang yang punya cukup waktu untuk mempersiapkan akhirat, namun fisiknya sedang tidak sehat.

Padahal, apabila memiliki keduanya, manusia dapat memanfaatkan waktunya untuk beribadah dan beramal saleh.

Oleh karena itu, apabila diberikan nikmat sehat dan waktu luang, perbanyaklah ketaatan kepada Allah Swt. Sebab, masa sehat akan disusul sakit, dan waktu luang akan disusul kesibukan.

Kedua: Jagalah 5 perkara sebelum 5 perkara

Rasulullah Saw pernah bersabda kepada seorang laki-laki dan menasihatinya: “Jagalah lima perkara sebelum (datang) lima perkara (lainnya). Mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Nasai dan Baihaqi).

Usia muda adalah masa emas dalam hidup, namun ia akan berlalu dan berganti tua. Sehat adalah nikmat terbesar, sebab saat sakit kita akan kesulitan beraktivitas. Begitu pula dengan kaya dan waktu luang, berapa banyak orang yang mengharapkan keduanya. Lebih parah lagi, keempat perkara ini bisa hilang begitu saja dengan dicabutnya ruh dari badan.

Ketiga: Bila belajar dari metafora kehidupan Kupu-kupu. Kupu-kupu sebelum menjadi indah dilihat mata. Betapa banyak waktu yang harus dilaluinya dalam kepompong. Maka waktu adalah proses, bukan hasil. Waktu akan menyingkap rahasia besarnya. Semakin besar atau pudar.

Ada beberapa alasan mengapa waktu menjadi unsur penting dalam peristiwa sejarah tertulis dalam Explore Sejarah Indonesia (Pradono, 2019: 8) di antaranya:

1. Dalam sejarah yang dipelajari di sekolah, kita mengenal beberapa unsur penting yang perlu diperhatikan. Salah satu unsur penting dalam peristiwa sejarah adalah waktu karena perjalanan manusia tidak terlepas dari waktu.

2. Sejarah merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi di masa lampau dan memiliki kaitan atau pengaruh yang besar terhadap kejadian yang terjadi di masa sekarang.
3. Dalam sejarah konsep tentang siapa yang menjadi subjek dan objek sejarah serta konsep waktu kapan terjadinya suatu peristiwa, menjadi satu kesatuan penting apakah suatu peristiwa bisa disebut sebagai sejarah atau tidak. Lebih lanjut, dalam buku tersebut juga memaparkan bahwa kategori sejarah dapat dibagi berdasarkan waktu terjadinya suatu peristiwa, yang disebut periodisasi waktu.

4. Periodisasi waktu sejarah adalah membagi peristiwa sejarah berdasarkan susunan kronologis yang didasarkan tema atau apa yang dianggap sebagai peristiwa kunci, poin penting maupun menarik.

Waktu menjadi salah satu unsur penting dalam sejarah sebab waktu dijadikan sebagai penanda khusus mengenai terjadinya suatu peristiwa yang tercatat dalam sejarah. Bahwa waktu dan ruang memberikan latar tertentu bagi keberlangsungan sebuah peristiwa sejarah, peristiwa sejarah selalu berada pada ruang dan waktu yang terus bergerak atau berkembang ke depan secara dinamis seiring dengan gerak dinamis manusianya.

Hal inilah yang menempatkan waktu sebagai penanda sejarah yang unik karena peristiwa sejarah hanya terjadi sekali. Walaupun ada peristiwa sejarah yang memiliki pola yang sama, namun konteks ruang dan waktu setiap sejarah berbeda. Wallahu Alam Bishowab.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:
RumahBaca.id