Oleh Bagus Sigit Setiawan, Wakil Ketua PC GP Ansor Sukoharjo

Belum lama saya mendengar cerita dari seorang kawan, tentang keprihatinan para petani atas hama tikus yang menghabiskan panen kawan petaninya di Sragen. Terang kawan saya ini juga petani, tapi agak beda dengan kebanyakan petani, ia sebagian dari petani yang sadar lingkungan hidup, yang berusaha semampu mungkin untuk merawat kesuburan tanah sawahnya, dengan cara sebisa mungkin meninggalkan penggunaan pupuk kimia untuk menyokong pertumbuhan tanaman padinya.

Meski tidak banyak yang mendukung langkahnya ini, bertani dengan tidak terburu-buru, lebih memilih menjadi petani yang tidak pada umumnya, bahkan sebagian petani lain meragukan kemampuan cara-cara perawatan sawah dengan metode ramah lingkungannya, namun kawan saya tetap keukeuh bertahan dengan cara-cara bercocok tanam yang ramah lingkungan.

Sebagian petani yang meragukan takut panen tidak bisa maksimal, takut hama tidak mati, takut biaya membengkak, takut tidak praktis dan efisien. Tapi meski kawan petani saya itu sudah mampu membuktikan, mampu menepis kekuatiran di atas, tetap saja belum semua petani merasa perlu untuk mengikuti langkahnya. Ini baginya sebuah tantangan yang mesti dilewati.

Saya hitung sudah cukup lama kawan saya mengusahakan cara-cara ramah lingkungan dalam bercocok tanam. Dari usahanya ia sudah sudah membuktikan bahwa dengan caranya itu, hasil panen padinya tidak kalah dengan panen padi sawah lainnya yang masih menggunakan produk pupuk kimia dan obat hama kimia untuk menyokong sawahnya.

Meratakan pupuk kandang di atas lahan sebelum ditanami bibit padi, lalu menyemprot hama dengan cairan hasil fermentasi urin binatang ternak, dan cara-cara lainnya yang ramah lingkungan sudah dijalaninya sejak lama. Menurutnya itu cara yang bisa ia usahakan untuk menjaga kesuburan tanah, tanah yang diwarisinya dari leluhur. Ia tidak ingin anak cucunya mewarisi tanah yang sudah hilang kesuburannya, tanah yang hanya bisa ditanami beton.

Kabar baiknya, meski juga belum ramai, tapi hari ini di daerahnya sudah ada beberapa petani yang mengikuti langkahnya. Memang ini perkara yang mesti ditelateni dengan sabar, mirip orang minum jamu, efek dan reaksinya tidak kontan, tapi lebih aman ketimbang obat-obatan kimia bagi tubuh. Dan juga memang agak repot mengubah kebiasaan yang sudah kadung mengakar kuat seperti penggunaan obat pertanian kimia. Banyak petani yang menganggap bahwa jika ada satu urutan penggunaan obat terlewat, maka panennya terancam gagal. Seperti sudah menjadi ketergantungan yang sulit dilepaskan.

Lalu seperti apa keprihatinan mengenai hama tikus? Begini, hama tikus yang tidak bisa diatasi, tidak hanya sebatas berujud kerugian sebab panen terancam gagal, tapi juga korban jiwa manusia akibat penanganan yang keliru dari ledakan hama tikus tersebut. Ledakan populasi tikus ini sangat merepotkan para petani, saking repotnya sebagian petani menggunakan jalan pintas yang mengandung resiko. Salah satu jalan pintas itu dengan cara mengaliri sawah mereka dengan listrik. Memasang kawat listrik di luas lingkar lahan sawah yang mereka tanami.

Sebenarnya ada cara yang lazim, yang biasa dilakukan untuk menanggulangi hama tukas, salah satunya dengan cara mengatur jadwal menanam. Kesepakatan menanam dengan serentak, satu tempo, mengurangi kemungkinan ledakan hama tikus. Penjelasannya, jika satu wilayah tidak serentak menanam dalam satu tempo, dimungkinkan rombongan tikus akan bersembunyi pada satu lahan dan membabat habis pada petak sawah lainnya yang padinya sudah siap panen, dan menunggu tempo lain untuk menyerang saat sawah yang lain menginjak masa panen.

Permainan petak-umpet tikus ini cukup merepotkan bagi para petani. Lain jika jadwal menanam bisa serentak berbarengan, bisa dimungkin para petani itu bersama-sama menggelar acara “gropyok tikus”, yaitu acara berburu tikus ramai-ramai oleh para petani, yang melibatkan seluruh warga untuk berburu tikus di semua lahan sawah. Dengan gropyokan ini, tikus-tikus tidak ada kesempatan bersembunyi, sebab semua petani dan warga gotong royong menjaga dan membersihkan tikus yang bersarang di sawah mereka.

Lain jika tempo menanam dan panen tidak sama, masing-masing petani cukup mengurus sawahnya sendiri-sendiri. Petani yang sawahnya belum usia panen, masih lama masa panennya, ada yang merasa tidak perlu turut menjaga sawah kawan petaninya yang akan panen. Akibat dari perbedaan jadwal menanam ini agak merepotkan, akan ada kondisi yang tidak terhindarkan seperti di atas. Lain bagi kelompok tani yang memiliki komitmen kuat untuk saling menjaga sawah mereka bersama-sama dalam tempo yang disepakati.

Jika kemudian individualism, atau cara memikirkan dan mementingkan aset sendiri petani ini marak, lalu komitmen kelompok petaninya lemah, maka sebagian petani akan menggunakan cara-cara khusus. Tak jarang cara-cara khusus yang bersifat individualis ini membahayakan petani sendiri. Misalnya dalam kasus penanganan hama tikus, para petani kemudian merasa perlu untuk memasang kawat yang dialiri listrik. Kawat listrik ini dibentangkan sejauh atau seluas lahan sawah mereka.

Akibat dari cara-cara membahayakan seperti ini, mengaliri sawah dengan listrik tegangan tinggi, tidak sedikit kabar kasus petani meninggal dunia sebab tersengat listrik di lahannya. Aliran listrik yang niatnya untuk menjebak tikus malah balik menyengat diri sendiri, yang gunanya untuk melumpuhkan serangan hama tikus, justru melumpuhkan para petani sendiri, seperti kerja bumerang, senjata yang berbalik menyasar petani sendiri. Kondisi yang sangat memprihatinkan.

Jika ditelaah dengan baik dan pikiran yang jernih, jatuhnya korban kawat setrum di lahan sawah ini menjadi penanda, atau sedikitnya bisa kita pahami, bahwa para petani sudah kehabisan cara untuk menanggulangi hama tikus. Mestinya ini menjadi perhatian utama pihak terkait, apalagi di negara yang kadung disebut-sebut negara agraris. Mestinya negara lewat pemerintah daerah segera turun tangan. Jangan sampai cara-cara khusus yang didorong oleh kondisi keterpaksaan ini terus ada, berkembang dan berlanjut penuh resiko. Harus menunggu korban berapa lagi untuk menyadarkan pihak terkait bahwa ini persoalan serius?

Sadar akan kondisi sulit ini, kawan petani saya yang tercerahkan itu, yang merawat sawahnya dengan pupuk organik, lalu mencoba menginisiasi untuk mengembangkan populasi Burung Hantu, burung Dares, atau Tyto Alba, predator yang secara alamiah memburu kawanan tikus di pesawahan. Sebelumnya ia meyakinan kawan petaninya bahwa jika burung ini berkembang biak banyak, maka akan bisa ikut mengendalikan hama tikus. Menurut satu penjelasan, Burung Dares dewasa yang sedang merawat 6 anaknya, dalam waktu 2,5 bulan bisa memburu kurang lebih 1.080 ekor tikus untuk mencukupi kebutuhan anaknya. Jumlah yang cukup fantastis. Burung ini burung dengan peran rantai makanan yang bermanfaat bagi para petani, seperti penjelasan gambar mata rantai makanan di buku-buku sekolah dasar dulu.

Langkah pertama yang dilakukan untuk mengembangkan populasi Dares ini, ia bersama kelompok tani di desanya membuat penangkaran burung, selain membuat kandang Tyato Alba serupa gupon sarang burung merpato, yang tinggi ditopang tiang penyangga dari besi yang di tempatkan di tengah pematang sawah. Fungsi penangkaran itu untuk merawat anak dares yang kebetulan jatuh dari sarangnya di pematang sawah, atau untuk membesarkan burung itu sebelum nantinya ditugaskan untuk menjaga sawah di kandang dinasnya yang sudah disiapkan.

Gerakan membesarkan populasi burung dares ini cukup efektif, meski masih dirasa kurang. Hari ini sudah ada puluhan kandang yang berdiri di pematang sawah. Namung masih kurang, masih timpang antara jumlah kandang dan burung dibanding dengan luasan bentangan sawah yang ada. Namun hari ini kekurangan it uterus diusahakan untuk dipenuhi. Semoga cara-cara baik seperti ini ditiru di banyak tempat, cara-cara yang ramah lingkungan. Semakin banyak yang sadar pentingnya menjaga kesuburan tanah dan membangun eksosistem di lingkungan pertanian, dapat meningkatkan kualitas hasil pertanian.

Basis Pemikiran

Lalu alasan apa yang mendorong kawan saya, dan banyak petani lainnya untuk melakukan upaya-upaya yang baik untuk menjaga lingkungannya itu? Pertama, tentu itu kesadaran alamiah dari manusia, bahwa tiap-tiap manusia merasa butuh keluar dari satu kondisi sulit, atau membantu sesamanya yang sedang dalam kondisi yang sama sulitnya.

Kedua, tentu ajaran keyakinan dan kepercayaan turut ambil bagian dalam dorongan untuk menghasilkan langkah jitu menjalani hidup yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab kepada Tuhan atau sesembahannya, dan bertanggungjawab kepada sesamanya, pada manusia dan alam raya. Merusak lingkungannya sendiri, dengan cara melanggengkan penggunaan bahan-bahan kimia untuk menanam, eksplotasi alam yang berlebihan, seperti penambangan yang tidak terukur dan serampangan, penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, sampai dengan mengatasi hama pertanian, tentu bagian dari hidup yang tidak bertanggung jawab.

Sebagian dari ajaran gerakan sadar lingkungan hidup, sadar atas kebutuhan kita pada tanah yang subur, air yang jernih dan sehat untuk dikonsumsi, hasil bumi yang melimpah, udara yang sejuk dan menyehatkan, ketersediaan oksigen yang cukup, juga disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari dalam satu tulisannya yang berjudul, “Keutamaan Bercocok Tanam dan Bertani”. Dalam tulisannya, Kiai Hasyim mendorong umat untuk memperbanyak hasil bumi dan menyuburkan tanah, anjuran mengusahakan tanah dan menegakkan keadilan.

Kiai Hasyim menyitir hadis berkenaan tentang keutamaan petani atau siapapun yang gemar bercocok tanam, dan menjaga tetumbuhan, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Anan ra. bahwa junjungan Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya: “Tiada seorang muslim yang menanam tanaman atau bercocok tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung, manusia atau binatang lainnya melainkan dihitung menjadi sedekah baginya.” (Bukhari: Juz 11. Hal. 30).

Untuk meyakinkan umat bahwa profesi petani benar-benar menjadi jalan untuk meraih kebaikan yang istimewa di haribaan Tuhan dan manusia sekaligus, Kiai Hasyim juga menyampaikan riwayat hadis dari Sayyidina Jabir ra. bahwa junjungan Nabi Muhammad Saw. telah bersabda yang artinya: “Tiada seorang muslim yang menanam tanaman, melainkan bahwa Sebagian dari tanaman itu yang dimakan orang menjadi shadaqah baginya, yang dicari orang padanya juga jadi shodaqoh dan yang dimakan binatang buas darinya juga jadi shadaqoh, dan tiada sebagian dari tanaman itu yang dirusak orang, melainkan dijadikan shodaqoh baginya.”

Setelah menyitir dawuh Kanjeng Nabi Muhammad saw. di atas, Kiai Hasyim juga mengutip sumber lain, bahwa “Pendek kata, pak tani adalah Gudang kekayaan, dan dari padanya itulah suatu negeri mengeluarkan keperluan belanja bagi sekalian. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang mencari-cari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang bisa dipercaya untuk memenuhi kebutuhan negeri, yaitu di waktunya orang membalikkan punggung (tak sudi menolong) pada negeri dan Pak Tani itu juga menjadi sendi tempat negeri didasarkan.” (dari Muntaha Amalil Khuthoa’. hal. 355)

Melihat kasus kerusakan lingkungan sebab ulah kita sendiri, seperti buang sampah sembarangan, penggunaan bahan plastik yang berlebihan, konsumsi listrik yang tidak terkontrol, pemakaian produk minyak bumi yang ugal-ugalan, ditambah keengganan kita menanam dan merawat tetumbuhan untuk menjaga ketersediaan oksigen, untuk udara yang bersih, dan ketersediaan air bersih, mestinya lekas menjadikan kita sadar.

Beberapa dari kita mungkin berpendapat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, tidak perlu terlalu memikirkan perkara dunia sampai jauh, termasuk memikirkan perkara menjaga lingkungan hidup agar tetap lesatari. Pandangan semacam ini meski tampak berbeda, namun sebenarnya satu nafas, serupa dengan pendapat yang menyebut, bahwa mumpung di dunia maka manfaatkan segala potensi yang ada, gunakan segala cara untuk menguasainya, kalau perlu dengan cara-cara kotor, menambang dengan tidak memperhatikan dampak lingkungannya, dan banyak lagi cara-cara yang sama kotornya. Mestinya baik manusia sekuler atau yang beragama dan berkepercayaan, mesti memahami kesadaran yang sangat mendasar dan sederhana, bahwa kita sebagai manusia berhak mendapat kehidupan yang berkualitas, makanan, udara dan air yang berkualitas, dan banyak lagi lainnya.

Dalam penutup tulisannya, Kiai Hasyim Asy’ari menjelaskan baha dunia bisa tertib dan teratur dengan 6 perkara, yakni perkara yang menjadi pilar dunia, yaitu: agama yang dianut oleh manusia, pemerintah yang berpengaruh, keadilan yang merata, ketentraman yang meluas, kesuburan tanah yang kekal dan cita-cita yang luhur.

Membaca penjelasan Kiai Hasyim di atas, mengingatkan saya kepada warga Wadas yang bersahaja, yang terus berdoa kepada Tuhannya dan mempertahankan lahannya, kepada kawan petani saya yang mengembangkan Burung Dares, dan kepada orang-orang yang memperjuangkan agar tanah tetap subur untuk ditanami, gunung tetap asri, laut dan sungai tetap bersih, air yang jernih untuk diminum, udara yang bersih untuk dihirup. Manusia-manusia baik yang bertahan untuk berpayah-payah menjaga kualitas hidup. Saya senantiasa berdoa, berharap, semoga kebaikan dan orang-orang baik panjang umurnya. Amiin.

Bagikan tulisan ke:
One thought on “Kesuburan Tanah yang Kekal, dari Dares Sampai Wadas”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id