Oleh Mashuri Alhamdulillah, Peneliti Sastra di Balai Bahasa Jawa Timur

: ngablak siang

Sebagai santri kampungan, saya gagap ketika menghadapi keberagaman di Surabaya, yang saya rambah mulai tahun 1994. Terutama perihal perbedaan mazhab dan rayuan gerakan Islam politik di kampus pada era itu. Namun, ada hal-hal yang terasa ringan, wabilkhusus soal ngopi dan ngudud. Dalam dua hal itu, saya merasa sudah memiliki kiblat, karena sudah berbekal atau sangu kitab “Irsyadul Ikhwan” karya KH. Ihsan bin Muhammad Dahlan (1901—1952), pengasuh Pondok Pesantren Jampes Kediri, yang membahas kopi dan rokok, dan digurat dalam bentuk esai dan nazam.

Namun, sosok Kiai Ihsan Jampes –demikianlah nama masyhurnya, pun masih sangat jauh dari jangkauan saya. Pergaulan saya masih ndesit dan kampungan terkait sosok dan karya para intelektual Islam asli Indonesia yang top. Maqom saya sebagai santri kampungan tak kunjung naik derajat menjadi santri kosmopolit —bahkan itu berlangsung hingga kini. Kitab masterpiece Kiai Ihsan Jampes, “Sirajut Thalibin” pun hanya sekadar pernah mendengar, belum pernah mengajinya dengan benar.

Hmm. Paling banter, saya hanya sempat membaca buku induk dari syarah itu, yaitu Minhajut Thalibin, itu pun dengan kitab yang memakami makna gandul, bermakna Jawa dalam pegon, dan dicetak dalam beberapa jilid kitab tipis. Dengan kata lain, “Sirajut Thalibin” adalah kitab kelas atas dan kosmopolit –-karena kitab itu juga menjadi salah satu kitab rujukan di Universitas Al-Azhar Mesir dan beberapa universitas Islam lainnya di Timur Tengah. Saya mendapatkan warta tersebut ketika saya membaca beberapa buku tentang sosok kiai dan intelektual Islam Indonesia, yang rata-rata buku itu memandang tinggi sosok Kiai Ihsan Jampes.

Namun, sekitar tahun 2009, saya tergagap ketika saya sedang dalam perjalanan bus dari Kertosono—Kediri. Mungkin karena posisi saya duduk di pinggir jendela kiri dan suka melihat pemandangan, sehingga ketika bus memasuki wilayah Jampes, saya melihat keberadaan Pesantren al-Ihsan. Awalnya, saya menduga bahwa di situ pula makam Kiai Ihsan Jampes. Namun, begitu pulang balik, posisi saya duduk di bagian kanan, dan perilaku saya persis seperti saat berangkat, saya mendapatkan kejutan. Saya melihat sebuah papan petunjuk “Makam KH Ihsan bin Syekh Dahlan, pengarang kitab Sirajut Thalibin”. Saya sempat terlonjak girang. Ternyata lokus Kiai Ihsan Jampes dekat jalan raya, dan tidak berada di wilayah antah berantah. Yang membuat hati saya agak merasa mendongkol pada diri sendiri adalah berarti selama ini bila saya naik kendaraan dari Kertosono ke Kediri atau sebaliknya, saya selalu melewati kawasan tersebut. Sebuah kenaifan tingkat tinggi! Kampungan!

Mulai saat itu, saya begitu ingin berziarah ke makam Kiai Ihsan Jampes. Tentu, sebagai seorang santri kampungan. Sejak itu, setiap kali saya berkegiatan ke Kediri, Tulungagung, Trenggalek, saya selalu menandai kedua lokasi itu dan berharap berkesempatan dapat ‘sowan’ ke sana. Namun, harapan itu tak kunjung terpenuhi karena seringkali saya berombongan. Saya tidak mau mengorbankan kawan yang lain demi ambisi saya pribadi. Entah kenapa, saya tidak mengagendakannya sendiri.

Sembilan tahun kemudian, pada 2018, ketika saya sedang menggarap sebuah penelitian, saya membuka kitab Syekh Muhammad Yasin al Fadani, yang biasa disapa Syekh Yasin Padang, berjudul “Al Aqd al Farid min Jawahir al Asanid”, yang berisi mata rantai sanad Syekh Yasin pada beberapa ulama nusantara. Saya memiliki kitab itu atas jasa mulia kawan Fahmi Faqih yang telah menghadiahkannya kepada saya, meskipun kopian, dan kitab itu sangat tabah dan tahan untuk tidak dimakan rayap yang pernah memporakporandakan koleksi buku saya berkali-kali. Pasalnya, kitab tersebut terbilang langka, meski pernah hadir dalam edisi cetakan dengan dicetak batu di sebuah percetakan di Surabaya pada masa lalu. Bahkan, seorang kawan filolog mengaku menemukan kitab itu dalam koleksi sebuah perpustakaan di Timur Tengah. Saya tidak tahu bila sudah ada versi cetakannya.

Membaca kitab tersebut, saya tidak hanya tahu mata rantai jaringan intelektual ulama Nusantara di Tanah Air dan di Haramain, karena Syekh Yasin menulis sanad keilmuan beberapa kitab yang sampai kepadanya. Namun, saya juga terkesima dengan dikajinya beberapa kitab yang dianggap babon dalam ilmu fikih dan tasawuf, yang menjadi referensi ulama Nusantara abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang beberapa di antaranya kini semakin sulit dicari ahlinya.

Yang menarik, Syekh Yasin juga menyebutkan sanadnya terkait dengan “Siraj at Thalibin Syarah Minhaj al Abidin” yang sampai kepadanya. Ia mengaku mendapatkannya dari penulisnya langsung, yaitu Kiai Ihsan bin Abdulah Al Jampesi Al Funuruqi. Maksudnya adalah Jampes Kediri. Wow! Selain itu, dalam kitab tersebut, Syekh Yasin menunjukan sanadnya terkait pengajaran kitab raksasa lainnya yang kini langka, seperti “Awarif al Ma’arif” karya Suhrawardi, yakni dari Syekh Abdul Muhith bin Ya’qub Panji Al Siduarjui dan Sayyid Hasyim Al Falimbani. Adanya nama Sidoarjo membuat saya terdiam.

Akan tetapi, yang lebih membuat saya semakin terdiam, Syekh Yasin menunjukan mata rantai kitab “Futuhatul Makiyyah” karya Ibnu Arabi yang sampai padanya. Dijelaskan, Syekh Yasin mendapatkannya dari Kiai Baqir bin Nur al-Jugjawi, Kiai Ihsan bin Muhammad Abdullah al-Jampesi Al Funuruqi, dan Ahmad bin Abdullah asy Syami, yang ketiganya mendapatkannya dari Kiai Mahfud bin Abdullah at-Tarmasi, dari Termas Pacitan. Wow! Ketakjuban saya kepada Kiai Ihsan semakin membubung! Meski demikian, saya belum kunjung berziarah ke makamnya.
Baru pada awal tahun 2019, akhirnya terucap juga kalimat: “akhirnya, sampai juga ke Jampes, Kediri!” dari bibir saya. Yeah, akhirnya saya sowan juga ke makam Kiai Ihsan Jampes di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, yang dikenal sebagai pengarang beberapa kitab, di antaranya Manahijul Imdad, dan yang termashur adalah Siraj at-Thalibin, sebagaimana yang sudah disebutkan. Pada saat itu, saya dipercaya sebagai ketua panitia kegiatan literasi di Tulungagung, yang digelar Balai Bahasa Jawa Timur. Pada awal berangkat, saya sudah memendam dendam dalam hati, bahwa kali ini, saya ‘haram’ untuk luput, meskipun saya disertai dengan empat orang kawan.

Begitu pulang balik dari Tulungagung, saya pun minta izin pada kawan-kawan untuk turun dari mobil dan ziarah. Saya pun ngacir sendirian, sedangkan kawan-kawan menunggu di tepi jalan raya. Di sekitar areal makam, tidak ada toko souvenir atau toko buku karangan Almarhum. Hanya warung kopi, toilet, dan musala. Ternyata, di pelataran makam, di bawah cungkup, sudah banyak peziarah. Bahkan, di antaranya adalah puluhan santri dari sebuah lembaga pendidikan atau pesantren, yang sedang dipimpin tahlil oleh ustaznya.

Sebagai santri kampungan, saya hanya kuasa ndepis di sebuah sudut areal makam. Ada yang tak mampu saya bahasakan. Rindu yang terpendam selama 10 tahun lebih mendapatkan penawarnya. Saya mirip seorang pejalan kehausan yang menemukan sebuah telaga bening. Saya pun umik-umik sebentar sebisanya. Dalam sekejap itu, saya seperti melihat para peziarah itu berubah menjadi ikan. Sebagian tetap berpijak di atas bumi, sebagian lainnya beterbangan di udara! Hmmm! Halusinasi kelas kampungan lagi!

Saya pun langsung beranjak karena takut halusinasi saya semakin tidak karuan-karuan dan acakadut. Saya menduga itu imbas dari kondisi perut saya yang keroncongan karena belum makan siang! Begitu saya naik mobil dan mobil itu kembali melaju di jalan raya, keberadaan ikan-ikan itu tak juga hilang dari benak saya, bahkan memenuhi jalan. Saya pun menyantuni bayangan saya itu. Saya lalu meraih gawai dan menulis sebuah puisi. Judulnya “Sowan”, pernah dimuat di Kompas (2019) dan sebuah buku antologi puisi bareng yang diselenggarakan sebuah instansi di Bali.

SOWAN
akhirnya sampai juga aku di tepi danaumu. mencicipi bening tirta, mencoba menjadi pengail dekil yang tak berharap dapat menangkap ikan-ikan purwarupa, kerna miskin teknik, umpan, dan doa. tapi memandang air danaumu nan tenang adalah pesta sesungguhnya. biarlah langgam ulam itu tetap berenang dan beterbangan di sana, menghiasi kedung dan angkasanya, agar netra dan nasab pengetahuan ini —pencarian ini— masih bersandar pada ritus murni, tidak berlarat dalam corat-coret luka di dinding zaman —-retak berkah, kelabu, mengambang— seperti bangkai mina yang kini marak membusuk di jalanan.
Jampes Kediri, 2019

Yeah, memang ada gairah yang sudah tertunaikan, tetapi ada hasrat yang masih tertunda dan tersesat dari harapan. Sebagai santri kampungan, saya masih berhasrat mencecap seteguk saja dari ‘telaga’ Sirajut Thalibin atau Manahijul Imdad dari orang yang memiliki sanadnya —siapa tahu, dari sana mengalir puisi-puisi yang tidak sekadar sebagai pemerah hati.
Tarik, Cak!

On Sidokepung, 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *