Oleh A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Di tengah-tengah kondisi pandemi Covid-19 yang tak menentu akhir-akhir ini, semua orang kewalahan menyerap informasi. Dalam banyak kasus, efek kecemasan dapat terjadi dan membuat tubuh menjadi rentan. Makin menguatkan upaya pemerintah menggalakkan pentingnya berliterasi. Poster-poster kesehatan bertajuk pencegahan penularan virus menempel di mana-mana. Kegiatan membaca berita setiap pagi membuat ketakutan. Kurva kematian di negri ini meningkat setiap hari. Menonton televisi juga menimbulkan gejala-gejala tak enak badan. Hal ini wajar mengingat arus informasi mengalir deras. Hal ini pula yang membuat literasi terkait kesehatan harus diterapkan dalam kehidupan. Keberadaan literasi kesehatan merupakan salah satu dari sekian banyak varian literasi (Ginting,2020).

Baca Kenali Varian Literasi

Para ahli memaknai ”Literasi kesehatan adalah keahlian individu agar bisa mendapat, memproses dan mengartikan dasar informasi kesehatan serta keperluan pelayanan yang diperlukan untuk mendapatkan keputusan kesehatan dengan benar (Flearly, et.al.2017). Ratzan & Parker (2000) memaknai ”literasi kesehatan adalah segala pengetahuan yang berhubungan dengan bidang kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan pola hidup sehat. The Institute of Medicine (2020) secara formal mendefinisikan literasi kesehatan sebagai kemampuan seseorang untuk memperoleh, memproses, dan memahami informasi serta pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dalam upaya pengambilan keputusan terkait kesehatan secara tepat.”

Konsep literasi kesehatan dijelaskan menjadi keahlian individu untuk membaca dan mencatat (Manguel, 1996). Ada tiga hal penting dalam penguasaan literasi yakni: (1) literasi wacana: kemampuan seseorang dalam menyarikan informasi dari sebuah berita, puisi, narasi, bahkan editorial media massa; (2) literasi dokumen:kemampuan seseorang memahami POS (Prosedur Operasional Standar) sebuah pekerjaan, jadwal, peta, tabel, grafik, dan kuesioner; (3) literasi kuantitatif:kemampuan menggunakan angka-angka untuk melakukan perhitungan dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (National Adult Literacy Survey, 1993). Selain itu, Kirsch (2001), juga menyebut bahwa kemampuan berbicara secara komprehensif juga masuk ke dalam kompetensi literasi.

Literasi kesehatan di kalangan masyarakat diharapkan mampu menambah wawasan pengetahuan tentang kesehatan dengan cara membaca dan menulis. Oleh sebab itu literasi kesehatan sangat perlu dilakukan pengukuran dengan cara mengukur pemahaman tentang informasi kesehatan. Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, menjelaskan kesehatan adalah ”keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi”.

Yang jadi pertanyaan, mengapa literasi dapat memengaruhi kondisi kesehatan? Disadari atau tidak, literasi dapat membantu menyelesaikan beberapa kondisi kesehatan.

Masalah penting terkait kondisi kesehatan yang buruk dapat terlihat: Pertama; rendahnya keterbacaan teks-teks kesehatan yang ada di masyarakat, komunikasi yang kurang baik antara dokter dan pasien, hingga upaya pencegahan dan pendeteksian dini penyakit yang kadang tidak dimengerti oleh pasien.
Kedua; Jika seseorang memiliki tingkat literasi yang tinggi, dapat dipastikan ia akan mengerti semua prosedur yang harus dilakukan terkait upaya pencegahan hingga pengobatan penyakitnya (Oktarina, 2020).

Pernyataan di atas, diperkuat dengan bebera hasil penelitian (Clenland & Ginniken, 1988; Grosse & Auffrey, 1989; Perrin, 1989; McGee & D’Estelle, 1992; Alvarez & Salleras, 1992). Mereka menyimpulkan ada hubungan antara tingkat literasi yang rendah dengan kesehatan yang buruk dan angka kematian yang tinggi. Seseorang yang berada di perdesaan mungkin akan lebih sulit mengakses pelayanan kesehatan bila dibandingkan dengan orang-orang yang berada di wilayah perkotaan. Hal ini, yang menyebabkan para tenaga kesehatan berjibaku dengan sangat keras untuk memberikan penyuluhan kesehatan bagi orang-orang di daerah yang minim akses agar upaya pencegahan dapat menjadi strategi terbaik dalam memerangi sebuah penyakit. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis

Ahmad Rusdiana, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?q=buku+ a.rusdiana+shopee&source (3) https://play.google.com/store/books/author?id.

Bagikan tulisan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id