Hari gini siapa yang tidak kenal dimsum? Makanan yang konon berasal dari China dan sudah ada sejak zaman Dinasti Han itu belakangan menjadi buah bibir karena rasanya yang mantap. Ada sensani gurih-gurih nyoi-nyoinya, lumer-lumer basahnya, dicocol dengan sausnya yang manis-asin semakin mendayu di lidah. Kali ini, Rumah Baca menyajikan liputan khusus para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAI Cirebon dengan salah satu pelaku UMKM di desa Weru Kidul, Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon.

Jumat (19/02), mahasiswa KKN Mandiri Berkelompok Program Studi Ekonomi Syariah IAI Cirebon mengadakan liputan khusus dengan Rohmah (28 tahun), owner Kedai Dilla yang terletak di Perumahan Grand Imperium blok C Desa Weru Kidul. Salah satu tujuan dari lipsus ini adalah untuk mengetahui lebih dekat tentang praktik UMKM warga setempat, sumber modalnya, sistem pembukuannya, juga sistem pemasaran produknya.

Sebenarnya, Rohmah sudah merintis usahanya sejak tahun 2018 secara online di media sosial dengan nama Pitza Dilla Imperium. Rohmah baru membuka kedainya secara offline di rumah sebulan yang lalu, setelah mendapatkan bantuan kredit usaha rakyat (KUR) dari BRI.

“Setelah melihat perkembangan usaha kami yang semakin baik, saya dan suami memberanikan diri mengajukan KUR ke BRI terdekat. Bersyukur, pengajuan kami mendapat tanggapan positif dari pihak perbankan,” terang Rohmah dengan semburat senyum di bibirnya.

Untuk mengantongi persetujuan Bank, Rohmah mengaku cukup dengan foto kopi KTP dan BPKB motor sebagai persyaratan. Perempuan kelahiran Gombang (Plumbon) 1993 ini merasa sangat terbantu dengan sistem regulasi, administrasi dan persyaratan yang sangat mudah dan tidak bertele-tele.

“Waktu itu juga ada yang survey dari Bank. Tapi cuma lihat-lihat spanduk dan daftar menu saja,” tutur Rohmah sambil menyelipkan senyuman ramah.

Daftar menu di Kedai Dilla memang sangat beragam. Ada pitza, burger, spageti, dimsum, takoyaki, hotang, corndog, dan masih banyak lagi. Selain menu makanan, Depot Dilla juga menyediakan es teh gula asli, es jelly selasih, cappucino cincau dan beberapa menu tambahan lainnya.

Mengenai daftar menu yang ditawarkan, Rohmah mengaku hampir seluruhnya dibuat dan diolah sendiri. Bahkan, roti untuk burger yang bisa didapatkan dengan mudah di toko-toko frozen food pun ia buat sendiri dengan alasan teksturnya bisa lebih lembut dan tentunya lebih ekonomis.

Saat ditanya tentang keahliannya dalam meramu aneka menu itu, perempuan satu anak ini lantas berkisah tentang pengalamannya bekerja selama satu tahun sebagai perawat seorang nenek di Brunei Darussalam. Tidak hanya bertugas menjaga dan menemani si Nenek, Rohmah juga kecipratan ilmu masak-memasak aneka resep olahan makanan yang dijual anak majikannya.

“Kalau Nenek istirahat, saya biasa bantu-bantu anaknya nyiapin jualan,” ungkapnya. “Selain di Brunei, saya juga pernah dua tahun di Taiwan,” jelas Rohmah disusul tawa renyah ala kentang gorengnya.

Berbicara tentang daftar menu yang variatif itu, Rae Ayunda salah satu mahasiswa KKN tersulut untuk mengetahui menu favorit di Kedai Dilla. Dengan mata berbinar Rohmah menjawab bahwa menu favorit masih dipegang oleh pitza, dimsum dan spageti.

Rohmah juga menjelaskan bahwa untuk pemasaran produknya lebih banyak menggunakan media online. Ia memaksimalkan pasar melalui facebook dan grup WhatsApp. Belakangan, ia juga menerima jasa reseller. Sampai hari ini, Kedai Dilla telah memiliki enam reseller. Kedai Dilla masih membuka peluang reseller untuk kalangan umum.

Meskipun begitu, melihat geliat dan prospek usaha yang semakin berkembang, ternyata Rohmah belum menerapkan sistem pembukuan apa pun. Selama ini pendapatan hasil usahanya ia kelola sedemikian rupa tanpa menggunakan standar akuntansi. Mengingat pentingnya pembukuan ini, Asriyani Rachmawati, salah satu mahasiswa peserta KKN memberikan sedikit gambaran terkait kas, modal, dan kewajiban.

Memahami peran penting pembukuan kekuangan dalam usaha, ke depannya Rohmah tergerak untuk mencatat semua aktivitas usahanya dengan sistem pembukuan yang rapi, terperinci dan relevan. Selain sebagai penyemangat, dengan adanya catatan keuangan yang baik, Rohmah berharap usahanya kelak dapat mengembangkan sayap, membuka cabang, dan merekrut banyak karyawan.

Sebelum menutup perbincangan, kepada mahasiswa KKN dan para calon pebisnis pemula, Rohmah memberikan sedikit resep untuk memulai usaha. Dalam kesempatan itu, Rohmah mengatakan bahwa mental yang kuat dan kesabaran adalah kunci utama eksistensi usahanya.

“Harus sabar menghadapi pelanggan. Kadang orderan tiba-tiba dibatalin, ya kita mau gimana?! Kadang kita dimarahin pelangan karena pesananya telat diantar. Kadang gagal buat adonan, kadang anak rewel padahal orderan banyak,” cetusnya sambil tertawa lebar.

Setelah obrolan panjang di siang yang terik itu, kami mahasiswa KKN menikmati es cappucino cincau plus dimsum yang hangat memikat. Sebelum pamit, tidak ketinggalan pose-pose cantik menggenapi sesi dokumentasi.

Ditulis oleh Reporter Rumah Baca, Eni Ratnawati.


Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *