0 0
Read Time:5 Minute, 4 Second

Oleh: Ahmad Rusdiana

Dewi Sartika (4 Desember 1884–11 September 1947) adalah Pahlawan Nasional Indonesia bidang emansipasi perempuan. Ia adalah tokoh perintis pendidikan perempuan di Indonesia. Dewi Sartika mendirikan sekolah pertama untuk kaum perempuan di Hindia Belanda. Sartika diangkat menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia pada 1966 dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional Indonesia pada 1 Desember 1966 melalui Keppres No. 252 Tahun 1966. Itulah sebabnya setiap tanggal 4 Desember diperingati sebagai dan Hari Ibu.

Salah satu peninggalan Raden Dewi Sartika adalah sekolah Dewi Sartika yang sekarang masih berdiri di Jalan Keutamaan Istri No. 12 Kelurahan Balong Gede Kecamatan Regol Kota Bandung. Sekolah ini sekarang digunakan untuk SD-SMP. Pada tahun 1910 Sakola Istri berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Alasannya, karena Sakola Istri mengalami kemajuan pesat. Jumlah muridnya semakin bertambah, sehingga ruangan sudah tidak bisa menampung murid lagi. Akhirnya mereka dipindahkan ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Sakola Kautamaan Istri memiliki motto dari bahasa Sunda “cageur, bageur, bener, singer, pinter” yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia, yaitu “sehat, baik hati, benar, mawas diri, pintar”.

Nilai-nilai tersebut masih dapat dijumpai di Jawa Barat sebagai warisan dari Dewi Sartika. (baca MENGENANG JASA RADEN DEWI SARTIKA). Menariknya kata-kata Pinter=Pandai (Cerdas) ternyata berada pada urutan terakhir. Tentunya cara meresapinya diawali dengan memahami artinya. Yu kita kupas Quote “cageur, bageur, bener, singer, pinter” satu persatu:

“Cageur” atau “sehat” mencerminkan suatu karakter yang sehat secara jasmani maupun rohani. “Cageur” dalam bahasa Sunda memiliki filosofi lebih dalam yaitu mencerminkan watak yang mampu berpikir dan bertindak secara rasional dan proporsional dengan dilandaskan nilai moral.

Cageur, juga mengadung makna harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme.

“Bageur” atau “baik” mencerminkan suatu karakter yang memiliki sifat kemanusiaan, menjunjung akhlak mulia terhadap sesama. Urang Sunda pastinya familiar dengan ungkapan “silih asah, silih asih dan silih asuh”, yang artinya jadi orang tetaplah saling menyayangi, berempati, bertenggang rasa dan simpati. Bageur dapat dimaknai baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja.

“Bener” atau “benar” yang mencerminkan karakteristik yang senantiasa amanah, tidak berbohong, tidak berkhianat, dan menunjung tinggi integritas yang artinya tiap ucapan harus sesuai dengan tindakan. Mengatakan apa adanya, sesuai fakta, tidak ada manipulasi. Kita tidak boleh melarang sesuatu karena itu benar, dan harus melarang sesuatu karena hal tersebut tidak benar. Bener juga dapat dimaknai, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam.

“Singer” atau “mawas diri” mencerminkan pribadi yang bertoleransi, senang berkorban atau mendahulukan kepentingan orang lain, senang menerima kritikan dan masukan dari orang lain terhadap dirinya untuk dijadikan bahan refleksi diri, serta memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama. Singer, juga dapat dimaknai, penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya.

“Pinter” atau “pintar” mencerminkan karakter berilmu yang dengan ilmunya tersebut mampu mengantarkan kepada jalan keberkahan dunia, yang berpangkal pada kemuliaan hidup untuk bekal di akhirat, bukan ilmu yang menjadikan pribadi seseorang sombong dan juga bukan ilmu yang membawa pada kemudaratan.

Pinter, dalam konteks ini, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijak, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.

Menjiwai Karakter Quote “Cageur, Bageur, Bener, Singer, dan Pinter” menjadi penting dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Dengan “quote” turun temurun itulah alhamdulillah, hidup sederhana yang dijalankan bisa terus disyukuri. Hidup merantau tetap bisa bersaudara dan menyerap ilmu. Belajar tidak hanya di kelas atau dari buku, tetapi juga dari teman, lingkungan, pengalaman dan kejadian luar biasa yang didapat secara tidak sengaja.

Pertanyaannya, apakah model karakter yang ideal untuk bangsa? Telah dijelaskan 5 dasar karakteristik “cageur”,“bageur”,“bener”,“singer”,“pinter”, yang terbukti secara historikal mampu membuat beberapa kerajaan di Jawa Barat mampu mempertahankan stabilitas negaranya dengan baik, karena kekuatan karakter sunda pada saat itu sangatlah kuat dan dengannya mampu mengokohkan peradaban saat itu.

Penting bagi kita untuk meliterasi kembali nilai-nilai kearifan lokal ke zaman sekarang ini, dan nilai-nilai kearifan lokal ini, merupakan salah satu model yang patut dijadikan nilai pegangan demi “kesembuhan” Negara Indonesia. Generasi muda mesti menebar semangat dan kebermanfaatan layaknya Dewi Sartika yang tak kenal lelah untuk mengangkat harkat dan derajat bangsa.

Spirit yang ditebarkan Dewi Sartika diharapkan bisa mengalir dan menitis di hati para siswa dan generasi milineal Indonesia. Jika heterogenitas (NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) tidak dijaga dengan baik, maka masa depan yang dihadapi generasi muda akan jauh lebih sulit.

Pegang teguh moto “Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter” insyaallah hidup akan menjadi berkah. Karena dalam istilah Sunda, seseorang yang pintar ialah mereka yang mampu menyeimbangkan kehidupan yang berorientasi pada dunia dan akhirat seperti istilah dalam islam yaitu “tawazzun”.
Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bishawab.

Penulis:
Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Pegiat Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Jawa Barat.
Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui:
(1)http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators.2)https://www.google.com/search?q=buku+a.rusdiana+shopee&source(3)https://play.google.com/store/books/author?id=Prof.+DR.+H.+A.+Rusdiana,M.M.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id