0 0
Read Time:2 Minute, 23 Second

Oleh Dr. KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Pajangan Bantul

Ini sedikit yang kami tahu, setelah sekian lama (sejak orde Baru) kawasan Mandalika dikuasai oleh swasta, pada periode pertama kepemimpinan Gubernur TGB Zainul Majdi (Nomor 52 Tahun 2014,) kawasan itu berhasil diakuisisi oleh Negara dan menjadi BUMN, dalam hal ini ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation).

Kemudian Kawasan Mandalika disebut sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Di Kawasan KEK Mandalika terkenal dengan pantainya yang sangat cantik bernama Pantai Kuta Mandalika. Sadar akan kelebihan ini, Pemerintah Daerah, dalam hal ini gubernur saat itu membuat plan pembangunan dan pengembangan yang diajukan kepada Presiden. Dua diantara plan itu adalah dibangunnya Masjid yang megah dan sirkuit kelas Internasional, bahkan Masjid harus didahulukan sebelum dibangun hotel, resort dan sirkuit.

Kenapa Masjid? TGB berujar, agar tanah Mandalika secara khusus diberkahi dan Pulau Lombok secara umum, mengingat, kawasan Mandalika ini telah lama terjadi konflik kepentingan. Hal lain soal Masjid ini, TGB ingin meneladani strategi Nabi Saw yang membangun masjid dalam setiap kunjungannya ke suatu wilayah.

Demikian juga yang ditiru penyebar Islam awal di Nusantara (Walisongo). Seperti pembangunan Masjid Bayan oleh Sunan Prapen dari Gresik, Jawa Timur, yang mula-mula menyebarkan Islam di tanah Lombok sekitar abad ke-14.

Selain itu, nilai-nilai religiusitas dan ritual begitu erat dengan kehidupan masyarakat Lombok. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebutan Pulau Seribu Masjid yang bercokol pada Lombok. Karena itu, pembangunan Masjid di kawasan Mandalika adalah bagian dari meneguhkan identitas lokal Pulau Lombok.

Uniknya Masjid yang berdiri di atas tanah sekitar 4 hektar nan megah dan kini berdampingan dengan sirkuit Moto GP ini dibangun dengan arsitektur lokal. Terinspirasi dari masjid kuno Bayan, yang terletak di Lombok Utara, dengan bahan tradisional seperti bambu dan atap terbuat dari jerami, berdinding anyaman bambu (bedek), yang melambangkan keharmonisan dan toleransi antar umat beragama. Masjid ini diberinama Nurul Bilad (Cahaya Bangsa-Bangsa).

Ketika Presiden Jokowi meresmikan Masjid ini 21 Oktober 2017, TGB yang didampingi direktur utama ITDC Abdulbar M Mansoer, mengatakan, bahwa berdirinya Masjid yang megah ini bagian dari proyek integral Wisata Halal di pulau Lombok.

Jika plan pembangunan Masjid berjalan nyaris tanpa hambatan, cerita pembangunan sirkuit ini sebaliknya, Gubernur saat itu bersama Tim ITDC harus kerja ekstra melobi pihak Dorna Sport agar menjatuhkan pilihan di Mandalika. Puncaknya, ketika mereka tahu, ternyata pihak Dorna Sport saat berkunjung ke Indonesia, justru datang ke Jaka Baring, Palembang dan bukan Mandalika.
Merasa kalah satu langkah, TGB dan tim berusaha sekuat tenaga menemui pihak Dorna di sela-sela lawatan itu. Setelah melakukan segala cara agar pihak Dorna sudi meninjau Mandalika, akhirnya upaya itu kesampaian.

Sesuai dengan target, mereka sangat terkesan dengan kombinasi komplit landscape Mandalika antara perbukitan, daratan dan pantai. TGB pernah cerita, waktu mengajak naik ke bukit 360, Dorna Sport dibuat berdecak kagum dengan landscape Mandalika, dan saat itu mereka langsung setuju dengan plan Mandalika. Demikian sedikit cerita itu… Wallahu’alm bishawab.

Bantul, 25 Merat 2022

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id